Move On dari Masa Lampau?

Posted on October 19, 2016

0


Move On dari Masa Lampau?

Suatu ketika, saya melakukan perjalanan ke masa lalu. Lewat teknik super canggih yang melibatkan mekanika kuantum, wormhole dan segala macam, akhirnya saya sampailah ke masa awal 1800. Biyuuh, mencengangkan sekali dunia pada tahun itu. Semua masih sepi, dingin, subur, damai, dan alam terasa begitu dekat, sedekat napas yang saya hembuskan setiap saat.

Saya berkelana ke sebuah desa di Jawa Tengah. Desa ini sungguh menawan. Sawah yang luas terhampar dimana-mana. Rumah-rumah gubuk terasa apa adanya, namun kehangatan penduduknya jangan ditanya. Sekalipun memandang dengan heran melihat saya, mereka ramah dan tak segan menyapa dan mengundang saya untuk sekedar mampir dan ngobrol.

Beberapa lama tinggal disana, mata saya tertumbuk pada seorang gadis manis. Kami berkenalan, dan menjadi makin dekat dari hari ke hari. Suatu hari saya beranikan diri untuk menembaknya. Namun celaka, dia dengan santunnya mengucapkan bahwa dia sudah dijodohkan dengan seorang pemuda dari kampung sebelah.

Saya tak kuasa menahan kecewa karena patah hati. Celaka, saya masih mengingininya karena dia begitu manis dan menyenangkan. Diam-diam saya susun rencana cerdik.

Suatu hari, saya mengajak gadis itu untuk memperkenalkan saya ke tunangannya. Ternyata tunangannya agak mirip saya, walaupun saya lebih ganteng lah dikiiit. Saya ajak pria itu jalan-jalan ke lembah. Sampai di lembah, saya minta dia untuk mengambilkan buah mangga yang menjulur sedikit di atas sebuah jurang. Begitu dia menjulurkan badannya, saya dorong dia dan tewaslah pria itu di dasar jurang.

Si gadis kemudian tahu bahwa pacarnya tewas, dan dia langsung mencurigai saya sebagai pembunuhnya. Yaah, daripada mbulet-mbulet, saya akui saja toh. ‘Iya, memang aku yang mendorongnya ke jurang. Jadi sekarang aku bisa memilikimu.”

Jawabannya sungguh di luar dugaan: ‘Gobloook! Yang kamu bunuh itu kakekmu sendiri! Sekarang bagaimana kamu bisa ada, kalau kakekmu sudah meninggal sebelum kawin sama aku??!!!’

Pelajaran dari cerita ini: satu, jangan main-main dengan masa lampau. Yang sudah biarlah berlalu. Dua, berhati-hatilah menaruh hatimu. Kalau ceroboh, nah, kayak saya itu, sekarang bingung tentang eksistensinya. Mau ngeksis gimana coba kalau dah begitu?

Sent from my iPad