Tentang Menulis Inggris

Posted on October 18, 2016

0


Tentang Menulis Inggris

Setelah naskah saya tentang pendidikan karakter lewat bahasa terbit di jurnal nasional, datanglah sebuah email yang isinya lucu: ‘Pak, saya tertarik artikel Bapak di jurnal TEFLIN. Apakah ada versi Indonesianya sehingga saya bisa lebih memahaminya?’

Saya tercengang, kemudian ketawa sendiri. Baru kali ini ada yang menyangka saya menulis naskah dengan 2 versi bahasa. Iya kalau film silat, ada versi Mandarin dan ada versi Inggrisnya. Lha ini artikel bok! Masa saya habis nulis Inggris terus nulis lagi yang versi Indonesianya? Hahaha.

Tapi saya ndak tega bilang gitu ke si peminta ini. Maka saya sarankan dia menggunakan jasa Google Translate aja untuk memahami isi naskah saya tersebut.

Ya, senang juga sih ada yang berminat terhadap artikel saya di jurnal. Mungkin setara dengan orang-orang jaman sekarang yang girang mendapati picsnya di IG di like orang banyak. Untuk seorang guru yang sudah kewut dan suka nulis, pengakuan seperti itu bisa dirasakan kalau ada yang mengutip karyanya. Nama medianya bukan IG, tapi Google Scholar. Di Google Scholar saya, ada rekaman berapa orang yang sudah mengutip karya ilmiah saya di berbagai jurnal. Karena namanya aja karya ilmiah dan bukan IG yang sangat menarik secara visual, sudah bagus kalau dalam setahun aja ada 5 orang yang mengutip karya tersebut.

Jika ingin namamu dikenang bahkan setelah kau mati, menulislah! Ini adalah nasehat seorang penulis sekaliber Pramoedya Ananta Toer yang sangat saya yakini. Memang betul. Menulis dan menerbitkannya membuat karya kita relatif kekal, setidaknya jauh melampaui usia kita sendiri sebagai penulisnya.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized