Hapuskan Skripsi!

Posted on October 18, 2016

0


Hapuskan penulisan skripsi untuk mahasiswa tingkat sarjana!

Komentar saya: “ya, jangaan, dodol!”

Saya tidak tahu apa yang melatarbelakangi gagasan menghapuskan persyaratan menulis skripsi untuk mahasiswa tingkat sarjana. Pasti ada alasannya, dan mungkin berbobot juga. Buktinya saya dengar yang mengusulkan adalah pejabat tinggi di departemen pendidikan nasional; bahkan seorang kenalan yang bergelar Doktor juga kabarnya ikut mengusulkan penghapusan skripsi.

 

Menurut saya, sepanjang yang saya ketahui, penulisan skripsi adalah puncak tantangan akademis seorang mahasiswa yang siap disebut sarjana. Disitu terletak tantangan untuk kreatif dan jeli (menemukan masalah penelitian), teliti dan terorganisir (menyusun rencana penelitian, dari topik sampai penggalian data dan analisisnya; melakukan analisis data), penajaman wawasan (menyusun kerangka teori), dan kemampuan berpikir logis (menulis hasil analisis dan membahasnya di bab 4).  Itu belum termasuk efek samping yang juga bermanfaat untuk pengembangan diri: disiplin, menahan diri untuk tidak terlalu sering ngeluyur atau main game, fokus pada skripsi, sabar menghadapi dosen  yang cerewet, tahan banting menghadapi permintaan revisi yang berulang-ulang, sampai pada pengendalian diri ketika maju ujian skripsi.

 

Saya berani menduga bahwa ada korelasi positif antara mahasiswa yang tekun dan bersemangat ketika menulis skripsi dan tingkat kesuksesan mereka atau setidaknya kinerja mereka ketika sudah di masyarakat. Yang dulunya menyelesaikan skripsinya dengan baik, bersemangat, tidak mudah patah, dan smart cenderung juga akan berkinerja baik di tempat kerjanya. Yang skripsinya kocar-kacir karena ditinggal ngurus bisnis atau ditinggal keluyuran dan hasilnya juga compang-camping bisa diramalkan juga akan berkinerja buruk. Kalaupun tidak buruk, pasti secara pribadi juga bukan orang yang bisa diandalkan karena kurang fokus, terlalu memanjakan nafsu hedon, atau terlalu santai.

 

Menulis skripsi adalah ajang menempa diri dalam hal akademis dan manajemen diri. Jadi kalau ajang tempaan diri secara mental dan intelektual ini mau dihapuskan, alangkah sayangnya. Kalau nanti dihapuskan, berarti lulusan-lulusan kita tidak terbiasa meneliti; kalau masuk jenjang Master dan Doktor pun yang di luar negeri, mereka hampir pasti akan memilih yang jalur non-research (ini terutama untuk yang di bidang humaniora).

 

Lalu sudah begitu masih mau mengeluh bahwa bangsa kita adalah yang terbelakang dalam hal kemampuan berpikir kritis dan analitis???