Orang Ketiga

Posted on October 9, 2016

0


Hal yang relatif mudah dilakukan adalah mencintai seseorang.

 

Baiklah. Buktinya sudah banyak. Anda bertemu dengan seseorang lawan jenis, tertarik, kemudian jatuh cinta. Cinta Anda berbalas, dan selanjutnya hiduplah Anda berbahagia untuk selama-lamanya dengan kekasih itu.

 

Tapi tunggu. Lalu kenapa setelah beberapa lama, adaa saja masalah yang membuat Anda dan pasangan itu sering berselisih pendapat, bertengkar, bahkan saling melukai dan akhirnya berpisah?

 

Buktinya juga sudah banyak toh. Kasus terbaru tentang perceraian Bradd Pitt dengan Angelina Jolie adalah salah satunya. Masih banyak lagi kasus yang sama. Jatuh cinta, bertengkar, lalu berpisah.

 

Ternyata ada orang ketiga dalam hubungan tersebut. Orang ketiga itu tidak kelihatan. Dia tersembunyi dalam diri kita masing-masing. Sifatnya selalu ingin diperhatikan, dituruti kemauannya, dan ingin dimenangkan. Manakala ini tidak terjadi, maka dia akan cemburu gila, iri, marah, dendam dan segala macam sifat destruktif yang akhirnya menghancurkan hubungan cinta itu.

 

Orang ketiga itu disebut sang Ego. Maka selama manusia jatuh cinta dengan masih kuatnya sang Ego menyetir emosinya, hubungan cinta itu terancam gagal. Pada awalnya memang masih tidak kelihatan, namun lama-lama pengaruhnya makin kuat dan dialah yang mengendalikan kita untuk saling melukai.

 

Lalu apakah ada cinta yang minus ego, atau yang setidaknya mampu menekan ego sampai tidak berdaya, hanya mampu bersuara sampai serak tapi tidak mampu mengendalikan diri sejati kita? Jawabnya: ada. Tapi dilihat dari sudut pandang manusia, jenis cinta itu menjadi tidak lumrah karena sifatnya yang senantiasa membebaskan, dan menerima apapun yang dialami atau terjadi pada si tubuh. Siapakah yang memiliki cinta super jenis ini?

 

Saya tidak mau menuliskan bahwa cinta itu milik Tuhan, karena ada beberapa pembaca yang sangat alergi terhadap istilah ‘Tuhan’. Baiklah, saya sebut saja Sang Hidup, atau Sang Maha Diam. Ya, memang cinta sejati itu asalnya dari sang Maha Diam yang penuh potensi untuk menjadi (being), lalu mengamati seutuhnya kemenjadian itu tanpa berbagai macam bentuk penghakiman. Dia diam, hening total, mengamati dan merayakan segala bentuk wujud yang lahir dari rahimnya.

 

Mungkin begitu.

Posted in: Uncategorized