Antara Singapore dan Karangwidoro

Posted on October 9, 2016

3


Maksud hati mau bercerita tentang Singapore yang baru saya kunjungi, tapi karena semua orang sudah kesana maka saya batalkan.

 

Dulu tahun 70 an orang yang pergi ke Singapore akan disembah bak dewa karena jaman segitu hanya orang kaya raya atau pejabat tinggi yang bisa kesana. Sekarang si Mukidi aja udah bolak balik ke Singapore. Fotonya ya mesti Garden by the Bay atau mall. Lha terus apa istimewanya?

 

Sepanjang Orchard dan Scotts Road itu isinya mall mewah, macam Isetan, Takashimaya, Paragon dsb. Tapi setelah saya masuk ke mall Dinoyo di Malang semua mall itu jadi keliatan biasa aja. Yaah, mall gitu loh, penampakannya ya hanya kayak gitu doang kan. Beton dimana2, lampu2 kuning memendarkan glamor, selebihnya barang dagangan beku dan orang bertampang cuek lalu lalang. Wanita-wanita muda bercelana super pendek atau bahkan hanya kemeja tanpa celana sudah gak karuan banyaknya jadi akhirnya ya hambar aja. Kesan saya tuh Singapore adalah kota tertib, bersih, mewah, tapi ya…gimana ya…ya udah segitu aja, ndak terasa kedalaman manusiawinya.

 

Saya naik ke Paragon, lalu turun ke lantai dasar ke Food Courtnya, beli nasi babi. Oalaah, kayaknya aja sok kaya tibaknya cari nasi!

 

Kabarnya sih ada daerah2 macam Kampung India dsb yang lebih menawarkan cita rasa tradisional. Sayang saya ndak sempat kesana. Ini semua gara-gara istri saya yang memang hobi belanja di mall. Yah, begitulah pria macam awak ini: nggak bisa blusukan ke Singapore yg disalahkan istrinya, hahaha!

 

Lalu apa hubungannya dengan Karangwidoro? Yaah, ini mah kecamatan kecil di belakang kampus saya. Jalannya kecil, naik turun, sebagian beraspal minim, padat rumah penduduk. Disini dulu saya dan para mentee saya melakukan bakti sosial di sebuah SD. Murid2nya dengan semangat menyanyikan Mars Arema, dan kepala sekolahnya yang bersahaja mengharapkan bantuan komputer untuk lab komputernya yang sudah usang. Semester ini seorang mahasiswi saya yang notabene hobi pulang pergi Indonesia – Eropa mau berkeringat2 melakukan penelitian untuk skripsinya disitu.

 

Kalau Singapore bak seorang remaja yang mungil nan tajir dan mewah tapi cuek, Karangwidoro adalah layaknya remaja tanggung mambu keringat dan terkesan kedungsal-dungsal mengikuti kemajuan jaman. Yang satu negeri seberang, yang satunya lagi di negeri sendiri. Ya, tidak mengapa. Begitulah hidup ini berwarna warni. Sent from my iPad