Mengajar Online secara Efektif

Posted on October 8, 2016

0


Mengajar online itu sama seperti orang kurang waras. Ya iyalah, lha wong muridnya bisa diajar secara tatap muka seperti biasa, kenapa harus diajar secara online? Dosen yang mengajar secara online, termasuk saya, bisa disebabkan dua hal: pertama karena kurang waras tadi, dan yang kedua adalah mencoba suatu terobosan baru. Ya, sebenarnya sih saya tergolong yang pertama, tapi biarlah kali ini saya mengaku menjadi yang kedua saja.

 

Saya sudah selama beberapa semester ini mengajar secara campuran: separo di kelas, separo lagi lewat coursesites secara online. Satu hal yang menjadi pelajaran berharga buat saya dalam hal mengajar online terjadi sekitar 3 minggu yang lalu. Saya menugaskan para mahasiswa untuk mencari sendiri sebuah konsep dasar tes bahasa, lalu membagikannya ke situs coursesites. Ternyata, materi yang mereka dapat sangat beragam, mulai dari yang sangat pas sampai yang sangat jauh dari intinya. Maka sesi online itu menjadi tidak karuan karena kelas menjadi sulit mengerucut pada satu pemahaman yang relatif seragam untuk satu konsep dasar saja.

 

Ini tidak sehat. Maka saya menyadari kekeliruan saya. Konsep dasar tidak seharusnya diserahkan kepada para murid untuk mencarinya sendiri di jagad cyber. Seharusnya, konsep itu saya tanamkan di sesi tatap muka di kelas sampai benar-benar mantap. Lalu, setelah itu barulah saya bisa menugaskan mereka ke sesi online untuk menemukan materi-materi yang mengILUSTRASIKAN konsep-konsep tadi.

 

Jadi sesi online itu adalah peluang mereka untuk MENCAMKAN, MENCERMATI DAN MEMPERHATIKAN bagaimana konsep dasar tadi diaplikasikan ke dunia nyata. Sesi kelas harus mendahuluinya supaya konsep itu benar-benar tertanam mantap dulu di benak mereka.

 

Maka pada kuliah untuk kelas lain, saya sudah menjadi lebih bijaksana. Di kelas Bahasa Inggris I, inilah yang saya lakukan dalam memainkan sesi online dan offline secara efektif:

 

Di kelas, mahasiswa mendengarkan konsep tentang membaca teks dan menemukan hubungan sebab-akibat di dalam teks. Lalu, mereka pindah ke sesi online dimana mereka menemukan sendiri sebuah teks, membacanya, dan menemukan ide yang terjalin dalam hubungan sebab-akibat.

 

Hal yang sama berulang untuk kemampuan menemukan perbandingan dan enumerasi: sesi kelas dulu dimana saya jelaskan caranya, lalu sesi online dimana mereka menemukan sendiri teks-teks lain dan menemukan pembandingan dan enumerasi.

 

Di kelas Metode Penelitian juga begitu: di kelas mereka belajar tentang hipotesis, definisi istilah, dan keterbatasan penelitian, di sesi online mereka menemukan naskah jurnal yang memuat ketiga elemen di atas.

 

Begitulah. Teknik baru memang memerlukan keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan tidak segan belajar dari kesalahan.