Manusia Beracun dan Menyendiri

Posted on October 2, 2016

0


Manusia beracun bukan karena tubuhnya mengandung racun, tapi karena omongannya tidak membuat hati nyaman dan gembira.

 

Kalau kita perhatikan, barangkali banyak dari kelompok manusia yang kita jumpai sehari-hari adalah manusia beracun. Omongannya tidak jauh dari ngerasani orang lain, entah itu politikus, selebritis, atau mungkin teman lain. Kalau sudah begitu, orang lain terus menambahi dan jadilah interaksi itu menjadi makin beracun karena yang ada hanyalah ujaran kebencian. Jarang sekali dari mereka yang kemudian berpikiran positif dan mampu dan mau melihat sisi baik dari orang atau pihak yang sedang dirasani itu.

 

Nah, kalau ndak ngerasani orang lain, pembicaraan jatuh ke hal-hal remeh temeh diselingi guyonan yang sama sekali ndak lucu. Mengikuti ketawa mereka malah makin menyiksa leher karena sebenarnya ketawanya adalah ketawa sosial, bukan ketawa murni yang timbul karena secara spontan tergelitik oleh hal yang lucu.

 

Maka mereka itu bisa disebut “beracun” karena kalau tidak sadar, kita bisa ikut larut dalam kebencian yang mereka uarkan dari omongannya, atau berpikir secara dangkal.

 

Mungkin itu sebabnya beberapa orang (tidak banyak sih) lalu seperti mencari oase yang lebih menyejukkan dengan menyendiri. Salah satu meme yang saya lihat di instagram mengungkapkannya dengan pas: “sometimes it is nice not to meet anyone and not to talk about anything at all.” Yah, saya harus mengaku saya semakin sering melakukannya.

 

Apakah menyendiri lalu menyehatkan? Ya, barangkali ya, saya tidak berani secara tegas mengatakannya karena saya juga tidak mengingkari meme dalam jati diri  manusia yang memerlukan interaksi dengan manusia lain. Tapi ketika menyendiri, kita lalu relatif terbebas dari manusia-manusia beracun tadi. Kita bisa lebih tenang. Kita bisa lebih hadir di masa kini dan disini, hadir diam saja, mengamati alam tanpa memberikan penghakiman ini salah itu salah ini jelek itu baik dsb. Kita matikan ego dan pikiran yang riuh rendah itu, dan hadir hanya dalam bentuk keheningan total dari mana kita berasal. . . . . . .

Di perbatasan Perancis dengan entah negeri mana itu, ada satu jalur panjaang sekali. Orang-orang yang sedang galau diam-diam sering kesana, lalu sendirian menyusuri jalan berkilo-kilo hanya dengan bekal tas ransel. Suasana alam di sekitarnya itu lalu bisa membuat mereka menemukan diri sendiri.

 

Lalu bagaimana supaya menjadi tidak beracun? Mungkin salah satu caranya adalah dengan mengikuti prinsip filosofer Grice: “buatlah ucapanmu sedikit tapi bermakna, dan menyumbangkan sesuatu bagi manusia lain.”