Makan Yook Makaan!

Posted on September 30, 2016

4


Makan adalah kegiatan paling enak selain  berhubungan intim. Huss! Lho tapi ya emang bener toh??

 

Makan sekilas sederhana. Makanan dimasukkan mulut, kemudian dikunyah, dicecap dengan lidah, lalu glekk ditelan. Tapi ya karena gara-gara lidah yang ukurannya cuman segitu itu maka makan menjadi suatu ikon penting dalam budaya bangsa manapun.

 

Ketika dijamu makan oleh seorang teman di New Zealand berabad-abad yang lampau, dia menyuguhkan nasi dan sayuran. Lalu, sambil makan dia bercerita kesana kemari. Melihat saya dan teman-teman Asia lainnya lebih banyak diam, teman bule ini lalu nyeletuk: “di budaya kami, makan bersama adalah kegiatan sosial. Jadi kami akan makan sambil bercerita. Ndak ada itu di budaya kami makan sambil diam aja.” Kontan saya dan teman-teman merasa tertohok kemudian mulai ngecipris entah ngomong apa sing penting bunyi, hahaha!

 

Nah, ketika diajak makan bersama dengan rekan-rekan dari Thailand, ceritanya lain lagi. Sayuran dan daging yang segar itu dicocol dengan bumbu dan saus pedas-pedas asem di satu mangkok. Nah, selesai satu teman mencocol dagingnya disitu, dia makan, lalu dia cocolkan lagi potongan daging yang masih tersisa di mangkok yang sama. Sementara itu, teman-temannya yang lain juga berbuat sama. Saya setengah mendelik karena kaget. Jadi satu mangkok itu dicocoli daging dari banyak orang! Ya, mungkin memang budaya Asia ya kayak begitu. Kalau kita orangnya sok jijikan, ya cara makan seperti itu bisa meluruhkan selera makan.

 

Saya jadi ingat pernah makan rame-rame sama teman-teman waktu kuliah dulu. Karena mereka kebanyakan dari pelosok, cara makannya pun gotong royong dan efisien. Karena jumlah piring di kos-kosan mereka juga terbatas, maka mereka mencampurkan seluruh isi soto ke satu mangkok besar. Byur! Lalu kami  makan beramai-ramai ya dari mangkok besar itu. Yaoloh, karena merasa tidak biasa dan geli, saya ketawa ndak selesai-selesai waktu acara makan bareng itu sampai tersedak-sedak.

 

Makan secara sosial ada seninya, atau lebih tepatnya ada kiatnya. Kiat ini perlu supaya kita tidak salah tingkah atau membuat teman bicara kita salah tingkah. Kiat ini saya sadari ketika beberapa hari yang lalu saya disuguh makan nasi padang dan ditemani oleh seorang bapak. Saking asyiknya berbicara, saya melontarkan pertanyaan pada saat dia baru saja mulai mengunyah makanannya. Kontan dia agak gelagapan karena melihat saya menunggu jawabannya sementara dia masih sibuk mengunyah. Karena saking ingin menjawab, akhirnya kunyahannya  pun  dipercepat. Celaka! Dia tersedak potongan tempe! (eh, sejak kapan ya nasi padang ada lauk tempenya??) Akhirnya dia terbatuk-batuk parah sampai sesak napas dan akhirnya pingsan.

 

Yaah, tiga kalimat terakhir itu mah hanya khayalan. Ya nggak sampe segitunya lah, hahaha! Tapi maksud saya adalah, kalau sedang makan secara sosial, kita harus tahu kapan  kita bicara dan terlebih kita harus tahu kapan melontarkan pertanyaan. Kalau tidak, ya terjadilah suasana canggung seperti di atas tadi itu. Mungkin itu juga sebabnya kalau pas acara makan ketika seminar di kampus, saya lebih suka membawa makanan saya ke kantor dan makan sendirian disitu.

 

Bicara soal makan, saya punya beberapa kenalan yang memang berhobi makan. Yah, jangan disebut “makan” lah, gak keren blas. Nih, ada istilah yang lebih keren: kuliner! Nah, ada teman yang hobinya wisata kuliner kemudian dipsotingkan di blognya. Saya membaca beberapa ulasannya. Kebanyakan tentang kuliner di Bali. Biyuhh, lepas dari masakannya disana enak atau endak, foto2 dan ulasannya di blog itu memang bisa membuat ngiler. O, ya, teman saya itu juga beberapa kali memberikan “like” nya di posting saya di blog sialan ini. Makasiiih. . . .!

 

Mantan mahasiswi lain lagi punya gaya. Karena hobinya juga kuliner, dia sering mempsotingkan berbagai makanan atau me”like” foto-foto makanan di Instagramnya. Kebanyakan es krim, roti-roti berlapis coklat, berbagai macam kue,  dan terutama burger ukuran raksasa!  Sekali lagi, saya hanya bisa memandangnya sambil ngiler dalam hati🙂

 

Nah, jadi benar kan apa yang saya bilang diatas bahwa makan itu nikmatnya adalah setaraf di bawah make love🙂

 

 

 

 

Tagged: ,
Posted in: humanity, makanan