Homo dan Romo

Posted on September 17, 2016

0


Sikap saya terhadap homo berubah-ubah. Lima tahun yang lalu saya benci pol sama homo. Saya anggap mereka makhluk aneh yang semestinya dihapuskan dari muka Bumi yang sudah ndak karuan ini. Namun dalam dua tahun terakhir saya makin banyak berpikir—tepatnya merenung—dan mulai mengubah sikap saya terhadap kaum sukses ini (sukses = suka sesama jenis).

 

Seorang teman mengirimkan pandangan Romo Magnis tentang kaum homo. Ceramahnya agak panjang, namun intinya sangat masuk akal dan setidaknya untuk saat ini saya menyetujui pandangan Romo itu.

 

Yang pertama, tidak seorangpun mau menjadi  homo. Namun, banyak dari mereka yang terlahir dengan selera seksual terhadap sesama pria. Tak sedikit pula yang semula heteroseksual lalu berubah menjadi homo karena peristiwa hidup yang berat (misalnya, ditinggal kabur kekasih, hidup di lingkungan yang penuh dengan sesama jenis, seperti di penjara, dsb). Maka, homo adalah sesuatu fakta hidup yang harus diterima oleh umat manusia.  Kalau umat bergama mempercayai Tuhan sebagai sumber segalanya, maka mengutuk kaum homo sama saja dengan protes terhadap Tuhan karena bukankah keberadaan mereka juga pasti buah dari karya Tuhan?

 

Terlebih lagi, orientasi seksual adalah urusan sangat privat, sesuatu yang sudah berkali-kali saya tulis di blog gemblung ini. Romo Magnis mengatakan: “apa yang diperbuat dua orang dewasa di balik kamar tertutup adalah urusan pribadi mereka”. Melakukan penekanan dan intimidasi terhadap kaum yang orientasi seksualnya berbeda ini sama saja dengan melanggar hak asasi manusia.

 

Apakah dengan demikian kaum homo itu tidak normal? Sepanjang yang bisa saya ikuti dari argumen Romo, yang dianggap “normal” adalah pasangan yang berkopulasi untuk melestarikan kelangsungan hidup umat manusia. Dengan kata lain, yang normal adalah pasangan pria dengan wanita, karena pergumulan luar biasa dari penis dan vaginanya akan membuahkan keturunan yang melanggengkan eksistensi manusia. Benar begitu? Masoooook!

 

Maka, sekalipun kita harus menghargai kaum homo, kita sah-sah saja untuk berpikiran bahwa mereka “tidak normal”. Tapi apapun itu, keberadaan mereka layak dihargai karena mereka juga umat manusia.

 

 

Yang kedua, berkaitan dengan keinginan kaum homo untuk melangsungkan pernikahan dan bahkan mengangkat anak. Nah, untuk yang ini Romo Magnis mengatakan “sudah kelewatan”. Kalau kaum homo mau menikah, yaah, lama-lama akan makin banyak negara yang mensahkan perkawinan homo. Namun, mengangkat anak? Tunggu dulu. Seorang anak mempunyai hak untuk hidup dan tumbuh di lingkungan yang wajar, yaitu yang terdiri dari seorang suami pria dan istri wanita. Ini adalah hak asasi si anak. Maka, mengijinkan pasangan homo untuk mengangkat anak sebenarnya sama saja dengan melanggar hak asasi si anak. Terlebih lagi, kalau si anak akhirnya tumbuh dewasa dan menjadi homo pula, maka terancamlah eksistensi manusia karena niscaya populasi akan menyusut dan akhirnya punah. Pesan disini jelas: negara hanya merestui pernikahan dan merestui bentuk keluarga yang melanggengkan kelangsungan hidup umat manusia, dan itu hanya bisa diberikan kepada pasangan heteroseksual.

 

Demikianlah pandangan seorang rohaniwan Katolik terhadap kaum homo. Setuju tidaknya Anda terhadap pandangannya, ya terserah Anda. Mungkin Anda tidak terima dan termasuk golongan puritan yang meyakini bahwa homo adalah sampah masyarakat yang harus dibasmi. Ya terserah sih. Mungkin juga Anda termasuk golongan moderat yang sekalipun gusar namun tetap bisa menerima dan menghargai keberadaan mereka. Mungkin juga Anda termasuk golongan yang cuek bebek dan ndak perduli isu-isu seperti ini. Atau mungkin Anda termasuk homo dan menyetujui sepenuhnya perjuangan kaum homo untuk menikah dan mengangkat anak.

 

Apapun itu, harapan saya adalah dengan mempostingkan ini saya sudah sedikit menambah wawasan pandangan tentang kaum homo di Bumi ini.

 

 

 

 

 

 

Tagged: , , , ,