Di Atas Bis Patas Surabaya – Malang

Posted on September 10, 2016

0


Bis itu mengeram tenang, ibarat raksasa besi yang dengan ramah membiarkan para penumpang menaiki tubuhnya yang kokoh.

Duduk di dekat jendelanya yang besar, maka terlihat pedagang asongan sedang duduk dan berdiri di samping bus di trotoar.

Setelah sekitar sepuluh orang duduk dengan nyaman di kursinya, datanglah seorang pria muda mengacung-acungkan tahu kering dalam plastik bening. “Tahunya tahu tahunya!”. Setiap acungan tahu ke dekat wajah penumpang disambut dengan gelengan atau bahkan pengacuhan total. Penawaran dari ujung depan sampai belakang tidak membawa hasil.

 

Penumpang makin banyak. Seorang pengasong lain masuk dan mengedarkan beberapa lembar kertas berwarna. Ditaruhnya beberapa lembar ke pangkuan setiap penumpang sambil berujar, “dilihat-liat dulu, ndak papa. Kalau minat, lima ribu saja untuk 3 lembar.” Dari ujung depan ke ujung belakang, tak satupun penumpang tergerak membelinya.

 

Lalu masuklah seorang pengamen. Suaranya lumayan, lagunya pun sopan. Selesai menyanyi, sambil melantunkan harapan keselamatan untuk segenap penumpang bis, dia menyodorkan plastik Aqua bekas. Beberapa penumpang memasukkan sekedar seribu atau lima ratusan ke “deposit box” itu. Nampaknya lumayan, setidaknya ada lima ribuan terkantungi setelah satu lagu.

 

Penumpang makin banyak  dan pengasong pun makin giat menawarkan dagangannya. Di baris depan seorang wanita berhijab ngotot meminta harga murah dari seorang penjual wingko babat. “Ora oleh mbaak,” jawab sang penjual “Iku kulakanne wes sak mono. Kalau wingko nganjuk ya lain.” Di sebelahnya seorang penumpang lain membayar sebotol Aqua dari seorang pria tua yang nampak berbinar-binar menerima uangnya.

 

Dua puluh menit berlalu, dan sang bis pun menderam makin keras lalu mulai melaju. Para pedagang asongan beranjak keluar meninggalkan bis, dan tinggallah para penumpang, pak sopir dan pak kondektur. Lima belas menit berjalan, sang kondektur mulai menarik ongkos. Dua puluh lima ribu untuk jalur Patas dari Surabaya ke Malang.

 

Kantuk menyergap dan nyawapun lepas sesaat. Ketika kembali sudah berada di Singosari. Memasuki daerah Arjosari dua orang muda naik ke bis dan mengedarkan stiker bergambar singa dengan tulisan Arema. “Kami tidak memaksa. Seikhlasnya saja, satu dua ribu. Mari, mbak-mbak dan mas-mas, dan bapak ibu”. Dari sekian puluh penumpang hanya satu yang berminat membayar.

 

“Malang terakhir, Malang terakhir!” sang kondektur meneriakkan isyarat bahwa bis akan berhenti di perhentian terakhir.

 

Para penumpang pun berangsur-angsur turun. Sang bis dan segenap awaknya melanjutkan kembali guliran roda kehidupannya dari satu terminal ke terminal lain.