Makan Banyak Napa To?

Posted on September 6, 2016

0


Ada beberapa alasan kenapa kita (kadang-kadang) makan banyak.

Satu, karena makanannya enak dan itu di pesta pernikahan.

Entah karena tidak mau rugi sudah menyumbang uang untuk kedua mempelai, atau memang hobi makan, ketika di pesta kita cenderung makan lebih banyak. Apalagi kalau makanannya enak, makin gila dah. Tapi ada juga sih beberapa orang yang makannya sedikit aja, kayak malu-malu gitu. Eh, tapi jangan salah: begitu pesta sudah mau usai dan makanan di meja masih banyak karena para tamu sudah kelempogen (bs Jawa,artinya sudah mau meletus saking kenyangnya), maka dia segera mengeluarkan kantong plastik ukuran besar dan hap hap hap, makanan-makanan itu pun masuk ke dalamnya. Ini biasanya masih ditambah dengan sedikit ungkapan pelembut: “buat anak-anak di rumah.” Oh, baik benar si ibu ini, padahal kalau nanti di rumah dia santap sendiri ya siapa yang tahu to?

 

Dua, karena memang makannya banyak.

Para ABG yang memang sedang bertumbuh pesat umumnya makannya luar biasa. Mengerikan. Saya pernah iseng-iseng nraktir murid les saya martabak. Martabak ukuran sedang seperti itu kalau di rumah biasanya akan habis dalam waktu setengah harian atau bahkan lebih. Nah, di tangan sang murid yang baru 17 tahun ini, martabak itu lenyap dia untal hanya dalam waktu  5 menit. Saya sampek kamitenggengen melihatnya.

 

Tiga, karena sedih.

Nah, ini yang membuat terenyuh. Saya kenal setidaknya dua orang yang mengaku banyak ngemil karena sedang sedih berat. “Ya, ada lah masalah. Namanya juga hidup,” kata yang satu. Orang ini memang kalau saya lihat makin lama makin gemuk. Ternyata ya karena dia ngemil terus.

Satunya lagi ndak kentara bahwa dia sedang sedih berat karena sehari-hari ya tampak biasa saja mengomando karyawannya mengurus usahanya di sebuah toko. Ternyata begitu senja menjelang, sedihnya kumat dan dia pun mengemil segala macam mulai dari keripik singkong sampai pizza  dan burger. Dalam suatu perbincangan dia tak sengaja menyebut bobotnya sekarang, yang ternyata sudah 4 kilo lebih berat daripada ketika dia masih happy.

 

Kenapa orang yang sedang sedih atau galau jadi cenderung banyak makan? Kata ahli psikologi sih karena tanpa sadar dia sedang berusaha mengisi kehampaan perasaannya itu. Kegiatan mengunyah dan menelan makanan dianggapnya mampu “menambal” luka menganga dalam hatinya.

 

Ternyata saya duga bahwa sedih itu berbeda dengan stress atau depresi. Dalam keadaan stress atau depresi, kebanyakan mah penderitanya ndak bernafsu makan sama sekali. Tapi dalam keadaan sedih, yang terasa adalah nglangut dan hampa ndak ketulungan, maunya nangis melulu. Yah, ini sih hanya dugaan saya saja. Benar tidaknya ya kurang tahu karena saya kan hanya blogger, bukan psikolog atau ahli kesehatan jiwa.

 

 

 

 

 

 

 

Tagged: , ,
Posted in: humanity, makanan