Kenapa Tuhan Diam Saja?

Posted on September 5, 2016

5


Pertanyaan paling sering diucapkan oleh umat manusia–terutama yang beragama–  adalah yang seperti tertulis di judul itu:

Kenapa Tuhan diam saja?

Kenapa Tuhan membiarkan semua kekacauan, kejahatan, bencana, kebusukan dan segala macam kejahatan lain terjadi di dunia ini?

Kenapa Tuhan diam saja tidak menjawab doa-doa saya?

 

Beberapa orang mencoba menawarkan jawabannya. Banyak yang mengatakan: semua kesulitan itu dinamakan cobaan hidup. Cobaan itu artinya kurang lebih sama dengan ujian. Tuhan sedang menguji kita apakah kita tetap percaya kepada Nya sekalipun dunia ini sedang membusuk.

Jawaban itu cukup memuaskan, namun setelah dipikir-pikir, apa iya ya Tuhan menguji? Kurang lega rasanya memandang Tuhan sebagai sang Pencipta, kemudian menguji ciptaannya itu. Hmm, ya, okay sih, tapi kok semacam ada yang janggal gitu ya. Menguji? Ngapain juga ya Tuhan menguji. Jadi hidup ini adalah sarana pengujian Tuhan atas makhluk-makhluk ciptaanNya, begitu? Hmm, agak kurang enak pikiran ini mencoba menelan gagasan itu.

 

Kalau kita cermati, semua pertanyaan di atas diucapkan oleh pikiran, oleh ego, dan oleh raga.Ketiga hal itu, pikiran, ego, raga/badan menghendaki kesejahteraan, kesehatan, kenyamanan, kedamaian, kenikmatan.  Padahal kalau sudah dipandang dari sudut ego yang serba egois dan terpisah itu, segala kebaikan itu bisa menjadi sangat relatif. Bayangkan, kalau ego saya menghendaki kenyamanan jangan-jangan itu harus saya peroleh dengan menginjak ego atau hak orang lain. Kalau saya tinggal di daerah elit maka saya akan nyaman kalau orang lain yang kumal dan kumuh menjauh dari kompleks pemukiman saya. Kalau saya adalah orang miskin tapi beringas maka ego saya akan puas kalau membakar rumah Anda yang serba mewah dan menjarah isinya. Jadi, ego dan segala keinginan bahagianya itu menjadi sangat relatif, bukan?

 

Sudah jangan lagi berpaling ke agama untuk menjawab pertanyaan itu, karena jawabannya akan kurang lebih  sama dengan ego: “ikutlah jalan Nabimu yang sudah ditulis dalam kitab sucimu, karena hanya itu yang akan membuatmu bahagia”. Lho, jadi yang ndak ikut Nabi itu dan memilih Nabi lain dan membaca kitab lain ndak akan bahagia? “Ya pasti tidak.” Yaah, sama aja dong, sama relatifnya, sebab pemeluk agama yang lain juga akan menjawab yang persis sama dan yang terjadi adalah kekacauan pikir dan kebingungan tiada ujung.

 

Saya kira jawaban paling bisa berterima, setidaknya dalam tahap perkembangan spiritual saya selama ini, adalah yang diyakini oleh para pemikir spiritual, dan sedikit banyak juga pakar-pakar fisika: Tuhan tidak sedang menguji. Tuhan hanya mengalami. Dia ingin mengenali diriNya sendiri, maka Dia pun mewujud menjadi pengalaman yang jumlahnya tak terhingga itu. Ya sedih ya senang ya kaya ya miskin ya jahat ya baik dan segala hal yang lain lagi yang mustahil disebutkan disini satu persatu.

 

Karena Tuhan pada dasarnya adalah Satu dan yang satu itu menjadi apa yang kita sebut Jiwa selama ini, ya jadilah apa yang Jiwa inginkan. Maka segala macam yang kita sebut rusak, busuk, jahat, sadis, kejam dan sebagainya tadi tak lain adalah sang  Jiwa yang sedang melakukan Maha Mengalami Apapun yang ada di hidup ini.

 

Maka para spiritualis itupun percaya bahwa All That Is adalah sakral, karena dia tak lain adalah pancaran keinginan sang Jiwa itu untuk mengalami segala hal.

 

Saya ingat satu ungkapan yang sangat bagus yang saya baca beberapa kali dari berbagai sumber, yang mungkin menjawab pertanyaan-pertanyaan heran dan geram di atas:

“Ada hal yang jauh melampaui pikiran dan keinginanmu. Jalanmu (atau keinginanmu) bukanlah jalanKu”.