Nostalgila Upacara 17 Agustus Talk Much Say Nothing

Posted on August 18, 2016

2


17 Agustus 2016.

Tepat 30 tahun yang lalu saya menjadi manusia yang menyandang status mahasiswa S1. Tepat tiga puluh tahun yang lalu saya berdiri bersama teman-teman sekelas di lapangan bendera di jl Surabaya merayakan upacara bendera Hari Kemerdekaan Nasional. Yang ke berapa saya tidak tahu karena buat saya usia saya jauh lebih mudah dikenang daripada usia negara ini. Waktu itu saya masih jomblo ingusan 19 tahun. Sekarang saya sudah 49 tahun, dan masih ingusan pula karena hidung saya gatel sejak tadi pagi sehingga ya begitulah, wis tuwek jek ingusan.

 

Saya berbincang-bincang dengan seorang profesor yang sudah berusia 82 tahun. Tiga puluh tahun yang lalu dia mestinya seusia saya sekarang, mungkin lebih tua sedikit. Mengerikan menyadari bahwa dalam kurun waktu 30 tahun ke depan, seandainya saya masih hidup, saya akan berusia setua beliau sekarang.

 

Jadi dalam ruang waktu ini, saya sekarang lebih tua daripada rata-rata dosen saya di IKIP Malang yang waktu itu mungkin masih berusia 35 tahunan. Mengerikan.

 

Tapi kenapa mesti ribut masalah usia. Sekarang saya mau melaporkan jalannya upacara. Tengah melamun di acara seremonial itu, saya tiba-tiba teringat mantan dosen saya yang lain yang sudah meninggal. Sebut saja namanya Pak B. Pak B ini orangnya “pahit”, alias kurang hangat, kurang ramah, terkesan seadanya dan selalu nyinyir. Mungkin sama seperti saya sekarang di mata para kolega dan murid-murid . . . yaawlooh menyedihkan sekali😦. Tapi sudahlah, bukan itu intinya. Intinya adalah saya teringat pada komentar beliau tentang ritual-ritual seremoni entah itu dies natalis atau upacara: “I won’t go to that kind of ceremonies,” katanya, “because people talk much but say nothing.”

 

Talking much but saying nothing. Kata-kata itu sungguh membekas dalam sanubariku. Menonjok sekali. Bangsat tapi benar, atau minimal tidak sepenuhnya salah.

 

Pidato dimanapun selalu penuh dengan kata-kata ideal, kata-kata sifat yang melangit, mendekati sempurna, sehingga kalau kita tidak kritis kita akan terbuai di dalamnya dan menjadi kurang realistis. Sementara yang seorang berpidato, beberapa yang realistis akan membatin: “tidak semudah itu, bro”, atau “duit dulu, baru hasil kerja yang nyata”, atau “ah dari dulu juga ngomong begitu tapi  ndak ada aksi yang nyata”, dan sebagainya dan sebagainya yang serba skeptis dan sinis.  Tapi ada juga segelintir yang meresapi dan mengiyakan.

 

Lalu ada juga yang melamun, kayak saya . . . .

 

Maka saya pun gedandhapan ndak karuan ketika di acara Sarasehan Ma Chung yang diselenggarakan setelah itu seorang petinggi bertanya: “Hei, kamu, masih ingat apa topik pidato sambutan yang tadi dibawakan di upacara bendera?”

 

Dengkul langsung gemetaran dan keringat bermunculan. Matik aku, lha wong ngelamun kok ditanyai topiknya.

 

“Hmm, . . .” saya mengelus dagu berlagak seolah tahu. “Yah . . . tanpa sinergi dan inovasi, kita akan tertinggal–”

 

“Sinergi dan inovasi! Bagus, bro! Kamu menyimak!”

 

Fiyuuuh . . . . ngawur tapi benar, syukurlah  . . . . . .