Jones dan Wisudawan Ma Chung

Posted on August 12, 2016

4


Selamat pagi. Good morning. Zhao zhang hao. Sugeng injing.

Saya mempunyai sebuah berita baik dan sebuah berita buruk. Berita baiknya, yudisium Fakultas Bahasa dan Seni kali ini dihadiri bukan hanya oleh lulusan Prodi Sastra Inggris, tapi juga Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin. Tepuk tangan untuk para lulusan dari Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin.

Nah, berita buruknya adalah: saya tidak siap sama sekali membawakan sambutan. Kemarin rapat sampai sore; tadi pagi waktu mau siap-siap malah diajak ngobrol sama rekan-rekan dosen lain. Jadi saya tidak siap memberikan pidato sambutan.

Nah, tapi berhubung saya sudah diminta maju disini, saya akan membawakan sebuah cerita saja. Cerita ini adalah tentang seorang ibu guru yang penuh dedikasi dalam mengajar. Sayangnya, ada satu muridnya, namanya Jones, yang malas dan nakalnya minta ampun. Berkali-kali sang Ibu Guru mengingatkan dia, berkali-kali pula Jones ini melanggarnya. Dia selalu datang terlambat, di kelas tidak pernah mendengarkan, tidak pernah mengerjakan tugas, selalu berisik dan mengganggu teman-temannya. Akhirnya, kesabaran sang Bu Guru pun habis. Diusirnya Jones keluar. “Keluar kamu, anak nakal. Kamu sudah tidak punya harapan! Keluar!”. Maka Jones pun keluar dari sekolah itu.

 

Berpuluh tahun kemudian, sang Ibu Guru pun makin tua dan mulai sakit-sakitan. Sedemikian parah sakitnya sampai akhirnya dia koma di rumah sakit. Ketika akhirnya membuka matanya, dia melihat ada seorang dokter muda, ganteng, di sebelah ranjangnya. Sang Ibu Guru terkejut. Dia memandang dokter muda tersebut, mengulurkan tangannya dan mencoba mengucapkan beberapa patah kata. Namun apa daya, tubuhnya terlampau lemah, dan akhirnya dia terkulai dan meninggal dunia saat itu  juga.

 

Sang dokter muda tertegun dan heran. Apa yang sebenarnya ingin diucapkan oleh Ibu Guru itu? Dia menoleh ke belakang, dan disana berdirilah seorang petugas kebersihan yang ternyata baru saja mencabut steker listrik alat bantu pernafasan si Ibu Guru tadi. Si petugas kebersihan itu hanya nyengir kuda. Namanya adalah Jones.

 

Jadi, kalau Anda mengira bahwa sang dokter muda itu adalah Jones, Anda terlalu banyak termakan ceramah motivator. Hahaha!

 

Nah, catatan seriusnya adalah: peran mana dari cerita itu yang Anda ingin jalani di kehidupan setelah lulus dari universitas? Apakah sebagai seorang guru yang berdedikasi, seorang dokter yang cemerlang, atau cukup sebagai petugas kebersihan saja? Semua tergantung pada bagaimana Anda berusaha dan berjuang menempa diri bukan hanya di perguruan tinggi tapi juga setelah lulus dari sini.

 

Saya juga ingin menyampaikan pengalaman saya bertanya kepada kalian saat meminta tandatangan saya di lembar skripsi atau yudisium. Saya selalu bertanya: “kamu akan ngapain setelah lulus?”

 

Sebagian menjawab: “saya mau buka usaha sendiri”. Wah, itu bagus! Wirausaha membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Bagus itu.

Sebagian lagi menjawab: “saya mau jadi guru”. Wah, itu mulia sekali! Dengan menjadi guru, Anda bersedia membaktikan diri untuk mendidik manusia lain sehingga dia berkembang seutuhnya dalam banyak hal. Salut!

 

Sebagian lagi menjawab: “saya ingin melanjutkan studi S2”. Wow, ini pun tak kalah keren! Dengan menjadi seorang Master atau bahkan Doktor, ilmu Anda semakin dalam dan semakin kaya. Salut!

 

Nah, ada yang jawabannya membuat saya prihatin: “saya belum tahu mau ngapain.”

 

Anda sudah memasuki usia dewasa. Sudah 22 – 23 tahun. Sudah sangat cukup untuk segera menentukan Anda mau berbuat apa. Dunia di luar sana sedang menunggu kiprahmu! Ayo, segera tentukan mau kemana, dan mau berbuat apa, jangan hanya diam dengan sikap “saya tidak tahu mau ngapain.”

 

Selamat untuk keberhasilan Anda semua meraih gelar sarjana. Selamat mengarungi kehidupan yang luas dan penuh tantangan. Saya yakin Anda punya semangat dan kemampuan untuk menaklukkannya.

 

_____

*) Posting di atas adalah sambutan saya di depan para mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Ma Chung yang di yudisium pagi ini di Gedung R & D Center lantai 6.