Rawannya Keperawanan

Posted on August 11, 2016

2


“Di negeri ini sex adalah hal yang wajar. Tapi menjadi tidak wajar, tabu, bahkan aneh dan berdosa kalau Anda membicarakannya di depan publik.”

 

Saya lupa dimana saya membaca ungkapan tersebut. Tapi ungkapan itu kemudian seolah bersambut dengan apa yang saya baca tadi pagi tentang keperawanan. Keperawanan tentunya bisa menyangkut pria atau wanita–sekalipun kalau untuk pria namanya adalah “keperjakaan”–tapi setahu saya tidak pernah ada satu kata pun di berbagai wacana negeri ini yang mau berpusing-pusing membahas masalah keperjakaan. Yang dari dulu selalu diubek-ubek adalah keperawanan; dus, selalu berpusat pada wanita.

 

Sex adalah hal yang sangat pribadi dan tidak senantiasa berkaitan dengan moralitas, demikian tulis seorang feminis yang nampaknya geram sekali dengan sorotan terhadap keperawanan tersebut. Moralitas adalah hal yang sangat kompleks. Apa iya Anda bisa yakin  bahwa seorang gadis yang sudah kehilangan keperawanannya karena berhubungan sex dengan pacarnya jauh lebih rendah secara moral daripada seorang wanita berjilbab yang terbukti mengkorupsi puluhan milyar uang negara? Yang satunya adalah soal sex dan oleh karena itu sangat pribadi, yang satunya lagi adalah soal ketamakan yang jelas-jelas merugikan negara dan menyengsarakan sesama rakyat. Mana yang lebih tidak bermoral?

 

Nampaknya masyarakat kita suliiiit sekali membedakan ranah pribadi dengan ranah publik tersebut. Hubungan intim itu jelas ranah pribadi; dan karena ranah itu privat, maka tidak usah dengan sok suci memeriksa keperawanan seorang wanita. Perkara dia kehilangan keperawanannya bahkan sebelum resmi menikah karena dia berintim dengan kekasihnya, lho kan ya urusan pribadinya  tho?

 

Itu berbeda sekali dengan korupsi. Karena yang dikemplang adalah hak rakyat  banyak untuk hidup lebih sejahtera, ya dengan sendirinya itu adalah urusan publik. Karena menyangkut hajat hidup publik, sudah layak lah kalau pelakunya dihukum berat.

 

Tapi tetap saja sebagian besar orang akan bersikeras mengatakan bahwa ukuran moralitas adalah keperawanan. Ya baiklah kalau memang ngotot. Tapi kalau seorang wanita yang sudah tidak perawan sebelum menikah kemudian diberi sanksi secara sosial, lha ya tolong lakukan hal yang sama dengan pria yang sudah kehilangan keperjakaannya. Adil kan?

 

Memang sudah nasib wanita di banyak negara untuk tidak bisa memiliki tubuhnya. Tubuhnya bukanlah miliknya, namun milik kaum penghakim yang (sok) suci yang mengawasi setiap gerak-geriknya, milik kaum pria yang mendefinisikan berbagai ukuran kecantikan, dan milik kaum pengiklan yang mendapatkan untung dengan menghiasi dan memajangnya di berbagai event mulai dari pameran mobil sampai iklan beha dan celana dalam.

 

 

Tapi mungkin juga sikap sebagian dari kita sudah bergeser tentang keperawanan. Saya mengenal satu dua  orang yang — menurut kabar santer– sudah tidak perawan sekalipun belum menikah. Apa reaksi saya? Saya hanya angkat bahu. “Itu urusan pribadi mereka,” demikian saya. “Kalau mereka menjiplak di skripsinya atau ogah-ogahan mengerjakan tugas, atau membully temannya, saya akan beri teguran atau bahkan sanksi. Tapi keperawanan? Urusan mereka.”

 

 

 

 

Tagged: , , ,
Posted in: Agama, akademik, humanity, sex