Penjaminan Mutu a la General Electric

Posted on August 10, 2016

0


Pagi tadi saya terantuk pada sebuah bacaan bagus di Linked In. Artikel singkat itu mengisahkan seorang pejabat di General Electric yang menceritakan bagaimana perusahaan ternama itu menjamin mutunya. Mereka dengan sengaja meniadakan evaluasi tahunan, dan menggantinya dengan sebuah apps di gadget para petinggi sampai karyawan terendah yang berfungsi mengabarkan apa saja yang berkaitan dengan mutu. Maka, sebuah kabar tentang keluhan pelanggan tentang satu aspek layanan bisa langsung tersebar ke semua karyawan, mulai dari bos sampai tukang bebersih. Dengan demikian, tindakan untuk menangani keluhan itu bisa menjadi keprihatinan bersama, dan bisa  ditanggapi dengan jauh lebih cepat daripada cara konvensional.

 

Sekarang bayangkan skema konvensional yang selama ini kita gunakan: ada banyak mahasiswa di suatu kelas mengeluhkan kondisi AC yang rusak. Keluhan itu disampaikan ke pejabat Fakultasnya. Pejabat Fakultas itu melapor ke koordinator penjaminan mutunya. Koordinator menyimpan keluhan itu di file di komputernya sebagai “umpan balik stakeholder”. Dua bulan kemudian di akhir semester file itu dibuka lalu bersama-sama dengan arsip keluhan lain diringkas dan disajikan ke rapat pimpinan sebagai Evaluasi Tahunan. Pimpinan merundingkan urgensi permasalahan itu dan dua minggu kemudian melaporkan ke Yayasan yang punya sekolah. Yayasan menghitung duitnya dan memutuskan membeli AC lewat tender. Tender dijalankan dan memakan waktu 4 bulan untuk sampai pada  keputusan membeli AC dengan merek tertentu dan dari pemasok tertentu. Dua minggu setelah itu AC baru datang, dan ketika dipasang di kelas  yang AC nya rusak tadi, mahasiswanya sendiri sudah tua dan beranak cucu.

 

Bwahahahahaha!

 

Itulah. Dengan pendekatan “out of the box”, sebuah perusahaan sekelas GE bisa dengan sangat responsif menanggapi dinamika dunia dengan pendekatan yang relatif sederhana. Yang dibutuhkan hanya kemauan untuk berubah sesuai dengan perkembangan jaman, dan menolak keras segala bentuk birokrasi dan urusan administratif yang sangat membelenggu kecepatan dan kreativitas.

 

Mampukah kita begitu?

Jawabannya jelas: tidak mampu. Lho kenapa tidak mampu? Ya karena tidak mau. “Kalau suatu urusan bisa diperpanjang dan dipersulit, kenapa harus dipermudah. Iya kan?”

 

Ya embuh wis lek ngono . . . .

 

 

 

 

Tagged: ,
Posted in: akademik