Makan Vegetarian Live Music

Posted on August 9, 2016

2


Sekarang gaya hidup vegan bukan hanya menjadi kekinian tapi juga simbol status. Rasanya ada nada kebanggaan yang sedikit memuakkan itu dalam ucapan ‘saya vegetarian’. Woooo, keren, lu vegan yah?  “Iya, dong, saya  ndak makan yang berkaki; hanya makan sayur dan daun-daunan.”. Bagus, makan tuh daun pintu  sekalian!  Murid kampus ini hebat. Studi ke Guangzhou bukannya belajar ilmu silat malah jualan nasi vegan. ‘Gampang kok. Nasi kasih tomat diulet sama tahu, kacang2an dan sedikit sayur, terus diiklankan lewat WeChat, woooo, yang datang buanyak sampe kami harus nolak-nolak pesanan’. Di Guangzhou mah makin banyak orang bergaya hidup vegetarian.

 

 

Di rumah ortu saya yang sekarang sudah penuh dengan mahasiswa kos kalau lu vegetarian mah hanya ngrepoti ibu saya. Dia harus repot cari menu yang khusus untuk vegetarian. Kalau mau nraktir ya hanya bisa ke resto GL yg ada di jl Pahlawan Trip itu karena ya hanya disitu yang menyuguhkan hidangan buat vegetarian.

 

 

Omong-omong tentang GL, sekarang setelah direnov resto itu menyajikan live music. Saya pun gagal paham. Dengan suara live music di ruang makan sekecil itu, suasana makan dan omong2pun menjadi tidak nyaman sama sekali. Kami harus setengah berteriak untuk menandingi suara penyanyi dengan instrumennya. Sudah gitu, lagu yang disuguhkan adalah jazz pula. Bayangkan, saya yang sudah kewut dan guru ini disuguhi musik jazz!!! Aaaargghh!! Sehari-hari ndengerin Metallica dan raungan gitar Joe Satriani lha kok sekarang disuguhi musik jazz. Ancuurrrr! Lengkap sudah penderitaan saya dan saya pun resmi mencoret resto GL itu dari daftar favorit tempat makan.

Posted in: bisnis, humanity