Forrest Gump, dan Bahagianya

Posted on July 21, 2016

2


Menurut seorang spiritualis terkemuka, orang yang bisa disebut bahagia adalah orang yang mengikuti saja alur hidupnya dengan minim resistensi dari pikiran dan egonya. Mau apapun yang terjadi dan kemanapun dia pergi atau dibuat pergi,  dia akan ikut saja, jarang sekali mengeluh, membangkang atau bahkan memaki-maki. Nah, Forrest Gump, menurut sang spiritualis itu, bisa dikatakan sebagai orang yang bahagia karena ya seperti itulah dia menjalani hidupnya.

 

Forrest Gump memang hanya tokoh fiksi dalam film yang diperankan bagus sekali oleh Tom Hanks. Polos, lugu, bahkan boleh dikata agak lemot, dia duduk saja di taman dan bercerita kisah hidupnya kepada orang-orang yang mau duduk di dekatnya.

FORREST GUMP

 

Mulai dari dia kecil dengan kaki cacad sehingga harus berjalan dibantu kruk, dibully oleh teman-temannya yang nakal yang mengejar-ngejarnya sambil melemparinya dengan batu, sampai ke masa mudanya ketika dia harus terjun ke kancah perang Vietnam yang brutal, sampai akhirnya dia kembali ke tanah airnya, luntang-lantung sebelum akhirnya sukses berbisnis udang dengan mantan kaptennya di Vietnam dulu, lalu menikahi wanita yang sudah disayanginya sejak masih kecil, dan hidup relatif mapan. Ketika suatu ketika dia merasa agak jenuh, tahu-tahu dia ingin lari mengelilingi negerinya. Maka berlarilah dia berhari-hari, berminggu-minggu, sampai jenggot dan cambangnya tumbuh lebat tak karuan memenuhi wajahnya. Tengah seru-serunya berlari, tiba-tiba dia merandeg, dan mengatakan : “Ok, sudah cukuplah aku berlari”, lalu dia pun berhenti dan pulang begitu saja.

 

 

Kalau Anda kebetulan menonton filmnya dan melihat adegan dia menaiki kendaraan pemangkas rumput mengelilingi kebunnya, Anda akan melihat mimik mukanya yang dengan pas menggambarkan bagaimana dia menjalani hidup: berjalan sedikit terguncang-guncang dengan mimik lugu, tanpa resistensi, tanpa keluhan, tanpa memaki-maki atas nasibnya . . . ya sudah menggelinding begitu saja . . .

 

Adegan lain yang juga berkesan adalah ketika dia menerima bintang penghargaan sebagai prajurit yang telah menyelamatkan nyawa beberapa rekannya di medan perang. Tampangnya ya begitu saja, datar, lugu, jauh dari kesan sombong atau bahkan bangga karena telah berhasil meraih prestasi yang luar biasa tersebut. Seolah-olah dia ingin mengatakan: “yep, itu yang terjadi padaku. Aku mah ikut saja apa kata nasib.”

 

Saya baru ngeh bahwa film itu mengandung makna yang sangat dalam. Ketika saya pertama kali menontonnya, saya kira itu hanya gambaran seorang idiot yang bernasib mujur. Ternyata bertahun-tahun kemudian, ketika mendengarkan ceramah sang spiritual itu yang menyebut nama Forrest Gump, baru saya merasa terbukakan bahwa ada pesan sangat dalam yang terkandung di dalamnya.

 

Bisakah kita hidup seperti Forrest Gump, dengan menerima dan menjalani apapun yang terjadi di dunia, tanpa resistensi, tanpa sang ego protes berteriak-teriak, membantah, mendebat, mengeluh, memaki? Ternyata sulit ya?🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in: humanity, Nyantai