Belajar di Era Digital

Posted on July 21, 2016

0


Jumlah pertemuan: 16 kali, masing2 160 menit.

Materi ajar: buku berjudul “XYZ” karangan Dr. Jones.

Pembelajaran disusun berdasarkan Rencana Pembelajaran Semester.

Ruang kelas: Bakteriusus

 

Hal yang tertulis di atas adalah khas pengelolaan pembelajaran dari generasi jadul yang lazim disebut “digital immigrants”. Mereka biasanya berusia 50 an ke atas. Karena tahunya sejak jaman kakek neneknya yang dijajah Belanda ya cuman itu, maka cara mereka mengelola pembelajaran juga sangat kaku, sentralistis, serba seragam, minim sekali kreativitas, tak ada spirit “out of the box”, dan tidak mengijinkan keluwesan yang mengakomodasi keberagaman murid dalam hal  gaya kognitif  dan tipe kepribadian lainnya.

Pengelolaan pembelajaran seperti itu juga hampir dapat dipastikan berada di sebuah ruang kelas yang bangkunya disusun berderet menghadap papan tulis atau screen dengan kursi guru di depan sendiri.

 

Jaman sudah berubah. Perubahan paling terasa adalah di era teknologi komunikasi. Karena praktis dunia sudah menyusut menjadi segenggaman tangan, maka cara belajar dan berkomunikasi pun juga berubah gila-gilaan. Siapa bilang bahwa untuk menguasai suatu ilmu tertentu harus mendaftar di sebuah lembaga pendidikan, lalu membeli materi cetak, dan duduk di kelas mendengarkan ceramah dosen, mengikuti alur pelajaran mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks, mengikuti ujian, dan dinyatakan lulus setelah sekian kali tatap muka?

 

Saya sedang ingin belajar bahasa pemrograman yang namanya Java. Alih-alih mendaftarkan diri ke sebuah lembaga kursus atau ikut mata kuliah di Teknik Informatika, saya mengklik codeacademy.com, dan mengikuti tutorial membuat program dengan bahasa Java tersebut. Gratis tis tis tis!

Ternyata ada satu bagian yang agak sulit saya pahami. Karena situs itu tidak menyediakan panduan, ya saya tinggal ke mbah Google aja to: “how to make Boolean codes in Java”. Dalam sekejap muncul penjelasan disertai contoh-contoh.

 

Selain itu, saya juga ingin belajar  bahasa Jepang. Apakah saya mendaftar ke sebuah lembaga kursus bahasa Jepang? Ah, buat apa? Saya install apps yang namanya Memrise di gadget saya, dan seketika mengikuti kursus bahasa Jepang disitu. Ikou ! = let’s go! Chousiwa dou? = ada apa, bro? Watashi wa namaeha Jones de su  = Namaku Jones.

 

Bosan dengan kata-kata  sederhana, saya langsung lompat ke frase-frase yang lebih sulit. Kalau ada yang sulit, saya ulangi lagi dan lagi sampai bisa, tanpa apps itu keberatan sama sekali.

 

Demikianlah, belajar di era digital terasa lebih luwes karena bisa melompat-lompat dari satu bagian ke bagian lain tanpa harus berurutan , tidak terbatas pada ruang kelas dan satu guru, bisa dilakukan kapan saja, dan bebas mengambil sumber belajar yang tersedia dalam jumlah amat banyak di dunia maya.

 

Generasi digital (mereka yang lahir tahun 1990 an sampai 2003) akan memaknai dan melakukan pembelajaran  dengan cara yang sangat berbeda dengan kakek neneknya. Yang menyedihkan adalah jika generasi kakek neneknya tetap ngotot bahwa mereka harus belajar dengan skema sangat kaku seperti yang sudah saya tuliskan di baris-baris pertama postingan ini.

 

Posted in: akademik, pendidikan