Kenapa Endingnya Harus Seperti Itu :(

Posted on June 28, 2016

0


Saya memang sangat pendiam dan oleh karena itu tidak menarik, namun saya suka dan konon sih berbakat menulis. Saya sudah menulis sejak masih kelas 4 SD. Karangan saya tentang anjing dan hantu dimuat di majalah Bobo dan oleh guru saya dibacakan di depan kelas diiringi tepuk tangan dan sorot mata kagum teman-teman sekelas . . .

 

Ketika sudah menuwek (baca: menjadi semakin tuwek), saya masih gemar membaca cerpen dan menulis cerpen. Dunia maya menyediakan sebuah situs di storial.co yang sangat berbaik hati menampung  beraneka ragam cerpen dari penulis-penulis muda dari seantero penjuru tanah air. Cerpen-cerpen mereka sangat menarik, unik, nyentrik, tidak lazim, dan oleh karenanya memikat untuk dibaca. Rupanya itu menjadi tren jaman sekarang: menulis cerpen yang tidak lumrah namun tetap menarik untuk dibaca karena mereka mampu merogoh suara sukma paling dalam yang selama ini tersembunyi dibungkus basa-basi, norma, dogma, sopan-santun, etiket, dan segala macam sejenisnya itu.

Saya sudah menulis beberapa cerpen disitu. Ide untuk menulis saya dapatkan dengan cara yang kurang lumrah pula: saya berpikir sejenak, kemudian tidak berpikir, ngambang dan kosong begitu saja bak hantu sawah kesiangan. Lalu tahu-tahu sekelebat ide melesat menghunjam benak saya entah dari mana, dan itu pun menjadi cerita yang saya tulis.

 

Nah, di cerita terbaru saya di storial.co itu saya membeberkan kisah sederhana. Sederhana aja kok, wong tokohnya cuma dua. Setelah menuruti “waham aneh” dari alam semesta itu pun saya menulisnya. Ndak lama, hanya sekitar dua jam an  cerpen itu mendekati selesai.  Sampai disini saya kebingungan: ini terus gimana mengakhirinya?

 

Beberapa lama saya bingung bagaimana harus menulis endingnya. Lalu saya pun mati pikir alias tidak lagi berpikir, ngambang dan kosong begitu saja bak hantu sawah garing. Lalu tahu-tahu jari-jari saya bergerak di atas kibord laptop, menulis satu kata dua kata satu kalimat satu paragraf dua paragraf tiga paragraf dan akhirnya selesailah cerpen itu.

 

Setelah saya terbitkan,  seorang pembaca meratap di kolom komentarnya mengeluhkan ending cerita tadi. Saya baca lagi ending tersebut dan merasa gundah ndak karuan sama seperti dia. Kok begini to endingnya? Tapi ya sudah, saya adalah Ponsius Pilatus: “sekali kutulis, tetap kutulis.”

 

Seorang mantan mahasiswa membacanya dan mengatakan: “kok begitu to endingnya? Bener-bener keterlaluan!”

 

Saya baca lagi ending cerpen sialan tersebut. Jangankan pembaca, wong sayapun ngeri membacanya sendiri. Tapi ya sudah, sekali kutulis tetap kutulis. Biar saja begitu, apa dunia mau kata ya biarlah. . .

 

Ngomong-ngomong saya ini cerita tentang cerpen apa sih sebenarnya? Ya sudah, klik aja tautan di bawah ini dan see it for yourself:

 

http://www.storial.co/book/i-want-to-be-happy/21

Tagged: ,
Posted in: humanity, menulis, Nyantai