Beriklan Secara Cerdas

Posted on June 22, 2016

2


Kalau melihat cara perusahaan mengiklankan diri kadang-kadang saya tertawa geli. Ya sebel ya geli. Contohnya begini:  saya sedang kebelet ingin segera melihat balapan F1 yang seru di Canada 2 minggu yang lalu. Yang saya ingin lihat adalah tabrakan di tikungan pertama. Maka, saya ke Youtube dan mencari adegan itu. Eh, baru juga diklik, muncul iklan entah produk apa itu di layar, disertai dengan tulisan kecil di ujung kanan bawah “Skip the ads in 5,4,3,2,1 seconds”.

 

“Ini niat ngiklan ndak sih?” saya menggerutu, sambil tangan bergerak ke mouse untuk segera mengklik “Skip Ads”. Maka hilanglah iklan sialan itu dari layar dan saya pun bebas menikmati adegan tabrakan di balapan F1 tersebut.

 

Saya tidak tahu kenapa ada tombol untuk “Skip Ads” itu di layar Youtube. Maksud saya, kalau mau mengiklankan ya jangan dikasih tombol itu. Ya tentu saja saya akan langsung mengklik “Skip Ads” karena ingin segera melihat adegan yang saya mau, bukan iklan itu. Atau mungkin taripnya beda ya. Buktinya ada iklan seperti itu yang muncul tanpa pilihan “Skip Ads”. Jadi ya terpaksalah saya menikmati sajian iklan yang sebenarnya tidak saya inginkan itu selama hampir satu menit. “I want to see the race, goddamit, not the ads!” Hahaha.

 

Saya heran, apa hanya saya yang bersikap seperti itu atau apakah banyak orang lain juga bersikap sama? Saya bayangkan, mungkin ada beberapa orang yang berbeda dengan saya. Lagi asik mau nonton trailernya film, ketika muncul iklan kondom, mereka langsung batal nonton trailernya dan rame-rame ke apotek beli  kondom itu, bwahaha! Ada ndak sih yang akhirnya lebih kepincut iklannya daripada acara utamanya?

 

Pikir-pikir, para pengiklan itu memang piawai meramu tampilan iklannya tapi yang jelas mereka kurang paham apa yang disebut Consumer Psychology. Psikologi konsumen tu sebenarnya sederhana saja: kalau saya sedang nonton “Conjuring 2”, ya saya hanya ingin melihat setan Valaknya, tidak ingin melihat iklan salak atau yang lain-lain di antaranya. Itu yang membuat saya malas banget nonton film di TV. Bayangkan, perasaan sedang dicekam ketegangan melihat  Jackie Chan bertarung dengan pembunuh, tahu-tahu adegan berikutnya adalah iklan popok bayi! Shiyeeet!! Hahaha! Ya kontan mood yang tadi sedang tegang dan asik itu langsung gembos begitu iklan meruyak muncul di tengah adegan seru.

 

Saya tidak paham cara kerja di Advertising Agency. Kesan saya, apapun hasilnya kok selalu bikin polusi ya? Di jalan, spanduk,  baliho dan papan cahaya membuat kota terkesan semrawut. Itu belum polusi cahayanya dan penghamburan energi listrik sekian ribu watt di malam hari.

 

Sebagian besar iklan yang beredar baik secara animasi atau pun gambar diam jarang sekali menarik saya kepada produknya. Saya tuh tipe orang yang beli sesuatu karena omongan orang lain (baca: istri saya) dan bukan karena tertarik iklan. Tapi, oh, ada satu iklan yang sampai sekarang ternyata sangat menarik saya: foto dewa pembalap  Ayrton Senna memamerkan jam tangan Tag Heuernya, disertai tag line yang sungguh pas: “Dont Crack Under Pressure”. Wow, itu pas sekali. Produk, bintang iklannya, dan reputasinya sebagai pembalap jawara yang tak kenal menyerah.

 

Iklan yang cerdas sebaiknya juga tidak membuat aktor atau aktris di dalamnya menjadi lebih menarik daripada produknya sendiri. Ketika masih kuliah, saya dan teman-teman cowok yang lain kadang-kadang membeli majalah khusus pria. Di majalah itu banyak sekali produk yang diiklankan dengan gambar wanita cantik berpakaian “hemat nan padat”,  yaa . . . you know lah yang kayak apa. Setelah lama mengamati semua iklan itu dan majalahnya ditutup, tak satu pun di antara kami yang ingat produk apa yang sedang diiklankan tadi di majalah itu, bwahahaha!

 

 

Jadi, beriklan secara cerdas itu yang seperti apa? Ya saya ndak tahu, karena saya cuma guru bahasa yang tahunya tata bahasa. Tapi satu hal yang jelas: iklan yang baik adalah yang tidak menggemboskan mood berkobar2 para konsumen yang sedang ingin menikmati ketegangan film.

 

 

 

 

 

 

 

Tagged: ,
Posted in: bisnis, film