Lulusan Sastra Inggris Jadi Pilot

Posted on June 21, 2016

8


 

Mahasiswa yang satu ini banyak kali membuat saya menangis dalam hati. Perasaan campur aduk antara sebal, gregeten, tapi juga kasihan berkecamuk di dada setiap kali mengajar dia. Betapa tidak, kemajuannya sereeeet banget. Ketika teman-teman sekelasnya sudah menangkap materi pelajaran dan mulai piawai merangkai gagasan ilmiah dengan bahasa Inggris, dia masih bergelut dengan masalah tata bahasa dan ejaan yang acakadut gak karu-karuan. Itu masih bahasa tulisnya. Bahasa lisannya lebih memprihatinkan lagi. Plus sikapnya yang nekad tapi juga membuat prihatin. Lha bayangno, dalam suatu sesi presentasi paper, setelah menyajikan idenya dengan bahasa pating pecotot seperti itu, dia bertanya ke teman-temannya sekelas. Karena tidak ada yang bertanya (mungkin juga bingung karena ndak tahu apa yang mau ditanyakan dengan presentasi seperti itu), akhirnya dia berkata: “”Ayo, rek, takonno tah! Cek aku keliatan bisa gitu lho!” dalam bahasa Jawa. Seluruh kelas termasuk saya sebagai dosennya hanya sanggup tercengang dalam diam memandang perilaku luar biasa di kelas seminar itu.

 

Segi baiknya, dia piawai sekali dalam mengemudi dan pergi ke berbagai jurusan. Tak ayal, saya sekeluarga beberapa kali meminta jasanya untuk mengantar pergi ke Surabaya naik mobil saya. Dua rekan dosen saya di prodi juga pasti masih ingat anak ini mengantar kami beberapa kali ke lokasi penelitian di Singosari sana. Ya, mau ndak piawai gimana wong dia itu nyambi kerja sebagai supir travel!

 

Akhirnya dia bisa juga lulus dengan susah payah. Setelah lulus, beberapa lama nampaknya dia luntang-lantung tidak bekerja. Cita-citanya untuk bekerja di sebuah perusahaan multinasional di ibukota nampaknya kandas. Saya hanya bisa mengelus dada melihat suatu ketika fotonya di socmednya: dia naik sepeda motor jualan bunga! Yaoloh, mesakno tenan mahasiswaku yoooo! Susah payah belajar Inggris dan ilmu sastra dan linguistik sekarang malah dodolan  kembang ngider kemana-mana naik motor. Nasibnya sedikit membaik ketika melalui istri saya dia diterima bekerja sebagai chauffeur (baca: sopir) di sebuah rumah tangga yang punya pabrik. Eh, ndak ada setengah tahun sudah keluar karena dia salah paham dengan majikannya. Lengkap wis cerita gagalnya.

 

Sampai suatu hari beberapa bulan yang lalu, terbetik berita bahwa dia sedang mengikuti training sebagai pilot di sebuah kota di ujung Jawa Timur. Saya setengahnya tidak percaya mendengar berita itu. “Itu pasti berita hoax,” demikian komentar saya. “Jadi pilot? Apa ndak bingung nanti menara pengawasnya dengan bahasa Inggrisnya yang kacaw balaw itu??”

 

Puncaknya, minggu lalu dia mengirim sebuah foto ke Line saya. Foto itu ternyata sebuah video klip. Di video itu, dia berkacamata hitam duduk di sebuah kokpit pesawat kecil, dan menunjukkan kemampuannya melakukan startup engine, terbang beberapa ratus meter, lalu mendarat lagi. Saya pun tercengang! Gila nih anak, dadi pilot sungguhan!

 

Saya putar video klip itu berkali-kali untuk meyakinkan bahwa itu bukan hasil tipu-tipu kamera. Ternyata memang bukan. Itu asli gambar dia sedang mengemudikan pesawat terbang!  Maka saya pun terkekeh-kekeh senang melihat mantan murid saya menjadi pilot. Untuk menambah rasa senang saya,  video itu diiiringi dengan lagu yang sedang saya sukai: Adventure of a Lifetime dari Coldplay! Benar-benar tema lagu yang cucok untuk anak muda ini. Bayangkan, kuliah kedungsal-dungsal nyaris drop out, pekerjaan juga tipe minimalis, sekarang bisa nyetir pesawat Cessna mengarungi angkasa! Kereeen, brooo! Diamput tenan, hahahaha!

 

Belum pernah sepanjang sejarah saya sebagai guru ada murid seunik ini. Lulusan Sastra Inggris menjadi pilot!  Ketika saya ceritakan ini di forum briefing magang untuk adik-adik kelasnya, kontan mereka bengong. Hebat nian Sastra Inggris Ma Chung ini bisa mendidik mahasiswanya sehingga menjadi pilot. Saya bisa membayangkan apa kata asesor kelak kalau bertanya tentang bidang karir lulusan prodi saya.

“Jadi pilot, Pak!”

“Haaah?? Masa iya, lulusan Sastra Inggris jadi pilot??”

“Iya, Pak, lha ini lho buktinya. Ada di video klipnya.”

“Waduuuh, waduuh, hebat! Ok, saya kasih A lagi untuk akreditasinya”

Hahahahaha!

 

Satu hal yang sebenarnya sudah saya percayai sejak dulu: ada jalur hidup yang berliku buat beberapa orang. Tidak senantiasa jalur akademis adalah satu-satunya jalan menuju ke hidup yang layak. Mahasiswa saya itu jelas payah dalam aspek akademis, namun ternyata dia punya kemampuan lain (spatial, kinestetik) yang memang lain dari aspek tata bahasa, telaah sastra, dan analisis statistik yang khas dalam dunia akademis. Tuhan Maha Besar. Maha besar dan maha lucu juga sih, karena siapa menyangka bahwa Dia bisa bermain begitu nyentriknya melalui jalan hidup  mantan murid saya itu, hahahaha!

 

 

 

Posted in: akademik, profesi