Perpustakaan di Era Digital

Posted on June 15, 2016

2


Setaip kali masuk ke perpustakaan, yang saya rasakan dari dulu tetap sama: keheningan, dan koleksi buku yang berjajar rapi, diam, menyimpan berjuta bibit informasi yang siap dikunyah dan diolah menjadi pengetahuan.

 

Namun, ini adalah era digital. Era gadget. Hampir semua orang mengakses gadgetnya untuk mendapatkan berbagai fasilitas, termasuk buku dan sumber informasi tulis yang lainnya. Dengan mengetikkan satu frasa kunci di kolom Google dan kemudian mengklik “Books”, tersajilah beberapa bagian buku secara online. Jurnal ilmiah? Tersedia di banyak portal yang bisa menggiring ke arah ribuan judul. Pendek kata, perpustakaan yang sebesar itu akhirnya sudah bisa dikemas dalam gadget yang besarnya setelapak tangan orang dewasa.

 

Jadi, kalau sekarang saya masuk ke perpustakaan, yang mengusik adalah perasaaan gamang. Saya berkeliling dari satu rak ke rak lainnya. Kebanyakan buku masih tersimpan rapi di raknya. Lembaran kertasnya masih bersih. Ini pertanda apa? Ya pertanda bahwa buku-buku itu jarang disentuh, apalagi dibaca berkali-kali sampai kertasnya kumal.

 

Ketika dunia teknologi informasi melesat sangat cepat menghadirkan fasilitas yang sangat efisien dan efektif, perpustakaan secara fisik tidak pernah berubah. Dari jaman saya dulu kuliah tahun 1986 sampai sekarang sudah tuwek th 2016, perpustakaan dimana-mana ya seperti itu aja. Buku beratus-ratus di puluhan rak, hampir semuanya masih rapi jarang digumuli, dan suasana yang sepi.

 

 

Apakah sudah saatnya kita meredefinisikan ulang konsep “perpustakaan”? Atau kalau tidak sedrastis itu ya melakukan diversifikasi fungsi perpustakaan?

 

Pernah ada ide untuk menyimpan manusia-manusia hidup sebagai ganti buku di perpustakaan. Jadi, kalau Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang linguistik, Anda akan pergi “meminjam” seorang manusia disitu yang pakar linguistik, dan untuk beberapa jam dia akan memberi Anda banyak  informasi tentang apa itu linguistik. Kalau Anda ingin cerita menye, Anda tinggal pergi ke manusia lain yang kebetulan punya kisah hidup mengenaskan dan “meminjam” dia untuk beberapa saat mendengarkan kisah menyenya. Kalau Anda tidak tahu beberapa kata Inggris, Anda bisa “minjam” saya yang pernah dijuluki kamus berjalan karena saya menguasai banyak kosa kata bahasa Inggris.

 

Dengan demikian, suasana perpustakaan menjadi lebih interaktif dan atraktif.

 

Pernah juga ada ide untuk memberikan fungsi lain kepada perpustakaan. Kalau dulu sebagai penyimpan koleksi gudang informasi, bisa ditambahkan sedikit unsur edutainment di dalamnya. Misalnya, ada acara bedah buku berhadiah, atau talk show, atau nonton bedah buku yang dikemas dengan format stand-up comedy.

 

Tapi itu semua khas generasi masa kini yang maunya serba instan dan fun. Buat saya yang gendul (generasi jadul), yang seperti itu mah iya sih asik, tapi ndak dalam. Atau memang sudah jamannya ya bahwa kedalaman diganti dengan keluasan yang dangkal? Generasi jadul mungkin tidak tahu banyak hal, tapi apa yang mereka ketahui bisa mereka jelajahi sampai sangat dalam. Generasi millennial tahu banyak hal karena memang gadgetnya memuncratkan banyak sekali informasi, namun mereka tidak mampu mendalam.

 

Sebenarnya perpustakaan tuh menjadi makin sepi karena terus terang saja minat baca di negeri Indonesha ini memang payah. Daripada mbaca buku mending bisnis online atau bikin acara-acara seru yang membuat heboh, atau ya jalan-jalan kemana-mana melakukan apa yang disebut sebagai “wisata kuliner”. Ya, prinsip kita di Indonesha ini adalah “kalau bisa jalan-jalan kenapa harus membaca?”. Ha.ha.ha., hu.hu.hu.

 

Kalau tidak ada gagasan baru, maka perpustakaan ya tetap seperti itu: diam, pasif, sarat ilmu, tapi ya tetap seperti itu karena sementara itu para manusia di luar sana  sudah mengakses informasi digital dengan beberapa klik mouse atau sapuan telunjuk di layar gadget mereka.

 

 

 

 

 

 

 

Posted in: akademik, kampus