Bahasa Slang vs Bahasa Alay

Posted on June 7, 2016

0


“Amplopnya sudah?” tanya seorang pemilik perusahaan kepada stafnya yang akan berangkat mengurus perijinan.

“Sudah, pak,” jawab  si staf. Lalu diapun berangkat ke sebuah instansi pemerintah membawa segepok berkas.

 

Tak lama kemudian dia kembali. Berkasnya masih utuh. Dia melapor ke bosnya: “Pak, katanya orang disana, berkas kita belum bisa diproses. Katanya sih kurang amplopnya.”

 

“Lho, emang tadi kan saya tanya amplopnya sudah apa belum, kamu jawab sudah.”

 

“Iya, Pak, ini lho amplopnya,” si pegawai menunjukkan sebuah amplop kosong.

 

“Astagaa, dodol benar kamu!” seru si bos. “Amplop itu maksudku duitt, duit ditaruh di amplop, buat  nyogok pegawai-pegawainya disana biar berkas kita segera diurus!”

 

Nah, itulah bahasa slang: sebuah bahasa yang menggunakan kata sehari-hari, namun dengan makna yang lain sekali dengan makna biasanya. “Amplop” dalam percakapan di atas adalah slang untuk “duit sogokan”. Kata “amplop” tentu punya makna umum sendiri yang bisa kita lihat di kamus. Namun, begitu sudah jadi slang, maka dia memuat makna lain. Makna ini hanya bisa dimengerti oleh beberapa kalangan tertentu. Tujuannya ya untuk menjaga rahasia di antara mereka, atau membuat kelompok eksklusif yang tidak mudah dimasuki orang lain.

Ini beberapa contoh lain dari bahasa Inggris:

“Weed; grass” = “ganja”.

“Beat it!” = “pergi sana!”

 

Slang juga bisa memuat kata-kata baru dengan makna tertentu pula. Kalau “amplop” dan “weed” itu kan kata-kata yang memang sudah ada sejak lama. Nah, manusia yang kreatif bisa menciptakan sendiri kata-kata baru dengan tujuan mengeksklusifkan diri dan kelompoknya atau menjaga rahasia. Bahasa walikan khas Arema termasuk di golongan ini. Kalau Anda bukan orang Malang (bukan Arema), Anda tidak menyangka bahwa kata “kera” itu bermakna “orang muda; arek”, dan bahwa “kodew” adalah “wanita muda; cewek”. Coba lihat di kamus manapun ndak akan ketemu kata “kera” dan “kodew” yang artinya adalah “anak muda” dan “wanita”, bukan?

 

Nah, kemarin saya menguji seorang mahasiswi Sastra Inggris di Universitas Ma Chung. Dia menulis tentang bahasa slang di kalangan mahasiswa. Salah satu pertanyaan saya adalah: “apa bedanya slang dengan bahasa alay?”

 

Nah, ternyata bahasa alay beda lagi dengan slang. Bahasa alay itu memang benar-benar bahasa yang digunakan atau dibuat oleh orang yang memang keterlaluan aktingnya,  atau keterlaluan dalam bersikap. Istilah gaulnya adalah “lebay” (inipun bentukan kreatif dari “berlebih2an”).  Tidak seperti slang, makna dari sebuah kata alay tidak berubah. Ini beberapa contohnya:

 

“Akyu” = “aku”

“Saia” = “saya”

P3ngenD” = “pingin; ingin”.

“Shay” =”say; sayang”

 

“Akyu cInt4 bae” = aku cinta baby.

 

Bahasa memang menarik. Kreativitas penuturnya membuat bahasa berubah dari waktu ke waktu, baik bentuk maupun maknanya.