Prenjak dan Vagina

Posted on May 28, 2016

0


Wanita muda itu pusing. Utangnya menumpuk, padahal gajinya minim. Maka pada puncak kegalauannya, dia memutuskan untuk menjual korek api. Satu batang korek api diberinya harga 10 rebu rupiah. Hah!? Mahal amat?? Ya emang mahal, karena sepadan dengan apa yang didapat pembelinya, yaitu boleh memandangi bagian tubuh paling pribadi dari wanita tersebut di bawah meja.

 

Itulah sekilas film pendek berdurasi 12 menit berjudul “Prenjak (in the Year of Monkey”). Mau fakta lebih heboh lagi? Film ini jadi juara pertama di festival film bergengsi Cannes di Perancis!

 

Terkesima karena fakta-fakta itu, saya menonton trailernya di Youtube, plus wawancara dengan sutradaranya yang masih muda usia, Wregas Banuteja. Filmya sederhana saja. Aktingnya yah lumayan, kalau ga bisa dibilang pas-passan. Tampang pemainnya, terutama yang wanita, Jawa banget, jauuh dari kesan semlohay bohay sexy atau ayu. Pertanyaan saya sederhana saja: kayak gini kok bisa menang ya?

 

Lebih tercengang lagi ketika mendengar wawancara dengan sutradaranya: “Oh, ini film yang kami bikin berdasarkan cerita seorang teman. Dulu waktu dia masih kecil, dia suka pergi ke alun-alun di Yogyakarta, dan disana ada pertunjukan seperti itu. Seorang cewek menjual batang korek api seharaga 1000 rupiah, dan si pembeli lalu masuk ke kolong meja untuk bisa menyalakan korek itu sambil melihat vagina si cewek. Kenapa kok ada tambahannya “in the Year of Monkey?”. Ya karena kami semua, aktor dan kru film, rata-rata lahir tahun 1992. Kan itu Tahun Monyet? Jadi ya begitulah. Ndak ada hubungannya sih satu sama lain.”

 

Bwahaha! Mujur benar mas Wregas ini. Menang karena vagina dan monyet, mwahaha! Jadi memang saya masih bingung juga kenapa ya para juri memutuskan untuk memenangkan film ini?

 

Nah,dari yang saya baca dan saya dengar di TV, salah seorang juri mengatakan bahwa film ini mengandung puisi gelap yang nakal. Apa pula itu puisi gelap yang nakal? Pastilah karena ada hubungannya dengan vagina? Ah ya endak juga sih. Kayaknya para sastrawan dan orang-orang seni itu bisa menikmati kedalaman pesan film itu yang jauh lebih dalam daripada sekedar genital wanita dipelototi mata pria. Karena saya bukan penikmat sastra atau pemerhati  seni, maka saya pun terheran-heran. Mungkin juga beberapa pembaca yang tidak tahu seni akan menanyakan hal yang sama dengan apa yang saya tanyakan: “cumak begini kok bisa menang ya?”

 

Bagaimanapun, selamat untuk kemenangan ini. Hebat! Masih muda sudah menggondol gelar juara film Cannes. Gak main-main tuh. Hebat tiada tara.

 

 

Tagged: , ,
Posted in: humanity, Nyantai, sex