Blended Learning, si Pintar dan si Tidak Pintar

Posted on May 27, 2016

0


Blended Learning, si Pintar dan si Tidak Pintar

 

Semester ini saya sedang menggarap 2 penelitian. Satu dengan dana sendiri, satunya lagi akan didanai oleh SEAQIL REGRANTS di Singapore. Kedua nya berkisar tentang Blended Learning (BL).

 

Apakah itu BL? BL adalah metode pembelajaran yang menggabungkan sesi tatap muka konvensional dengan belajar online di luar kelas.

 

Studi saya meneliti apakah ada dampak BL terhadap kerja sama dan prestasi murid. Sebagaimana sudah saya ungkapkan di posting yang lalu, ternyata ada kecenderungan untuk bertahan dalam kelompok. Artinya, sekali sudah merasa cocok dengan kelompoknya, para murid tidak mau membaur dengan murid lain untuk membentuk kelompok baru. Jadi istilahnya mereka ini intensif (karena terus bekerja dengan kelompok yg sama) namun tidak ekspansif (mau membaur dengan teman lain dan membentuk kelompok baru).

 

 

Isu ekspansif menjadi penting karena ada beberapa murid yang lemah. Mereka juga cenderung mengelompok. Kalau mereka terus menerus berada di kelompok yang sama, maka akan sulit membuat prestasi yg lebih tinggi. Sementara itu, kelompok yang lebih pintar ogah membantu yang lemah ini.

 

Maka tidak ada jalan lain kecuali saya paksa. Ayo kamu bantu kelompok ini! Setidaknya ada dua sesi mereka saya paksa untuk lepas dari kelompoknya dan membaur ke kelompok-kelompok lain yang lebih lemah. Hasilnya bagaimana? Ya untuk detailnya tunggu saja laporan penelitian saya.

 

Namun ada satu dua murid yang memang gak ketulungan parahnya. Sudah dibantu teman yg lebih pintar, tetap aja nilainya parah.

 

Ini miniatur bangsa kita: ada kelompok kaya, ada kelompok miskin. Dua2nya ogah membaur. Ketika dipaksa membaur, ada kelompok miskin yang akhirnya menjalani kehidupan yang sedikit lebih baik. Namun ada juga yang tetap miskin karena memang malas gak ketulungan. Anda termasuk yang mana? Kalau saya, lho saya kan peneliti, ndak usahlah kau tanyakan saya masuk kelompok mana, hahaha!

 

Yah, FYI saya adalah kelompok pemakan jangan tewel. Ada teman dari kelompok pemakan pizza dan Baskin Robbins. Dia tanya ‘kamu kok tiap hari makan jangan tewel se?’ Nah, ini salah satu contoh bagaimana kelompok kaya menghina kelompok miskin, hahaha!

 

Jadi kesimpulan sementara adalah BL tidak serta merta mengubah perilaku pengelompokan. Selalu terjadi birds of the same feathers flock together. Masih ada hasil lain terkait prestasi dan peran dosen dalam BL. Tapi itu nanti saja di posting yang lain.

Sent from my iPad

Posted in: akademik, humanity