Bisnis Kuliner Yang Mak Nyus

Posted on May 22, 2016

2


Setiap kali saya makan di kantin kampus, saya selalu tertarik mengamati perilaku dan gaya berjualan para penjual disitu. Ada 7 kantin di barisan utama tepat di bawah deretan kantor kemahasiswaan, dan sekitar 4 lagi di sisi seberangnya.

 

Kantin paling laris nampaknya yang ujung paling kanan (kalau kita menghadap deretan kantin tersebut). Kenapa paling laris? Saya belum melakukan penelitian sistematis terhadap pertanyaan itu namun sekilas bisa menduga kenapa kantin itu laris. Pertama, penjualnya (seorang wanita paruh baya) cekatan. Mulai dari pertanyaan pembeli, pemesanan, sampai pemberian uang kembalian dilayaninya dengan tangkas, bahkan pada beberapa saat keliatan multi tasking karena banyaknya yang antri. Orang senang melihat pelayanan yang tangkas dan cepat, tidak ngelemer seperti jam low-batt.

 

Kedua, penyajiannya cukup cepat. Dari memesan sampai makan waktunya kurang dari 10 menit, dan walau kadang terlambat karena pesanannya banyak ya ndak sampai 15 menit.

 

Setelah beberapa lama berjaya, mulailah persaingan datang. Pesaing pertama adalah sebuah kedai soto di ujung satunya. Walaupun hanya berdagang soto, kantin ini cukup banyak menyedot pembeli, termasuk ya mereka yang dulu pelanggan setia kantin pertama itu. Ternyata dari segi kecepatan kantin ini lebih hebat lagi: beberapa mangkok berisi soto sudah siap di meja dan tinggal dituangi kuah ketika ada yang membeli. Jadi tentu saja kita langsung bisa memakan soto setelah membayar. Kecepatan pelayanan memang menjadi kunci penting dalam bisnis berjualan makanan.

 

Kantin soto ini cukup populer selama setahun dua tahun sebelum munculnya pesaing yang baru. Pesaing ini buka usaha tepat di sebelahnya. Kantinnya menyajikan hidangan nasi campur yang memang benar-benar campur aduk karena kita bisa memesan sepiring nasi dengan aneka macam lauk. Ada sayuran, oseng2 tempe, kacang dengan potongan ikan teri, sambel terong, tahu dan keledai, eh, kedelai, tempe, bahkan cumi-cumi dan kerang. Dua yang terakhir adalah favorit saya, plus sambel bawangnya yang nendang gila dan biasanya saya tutup dengan segelas kopi hitam full ampas.

 

Karena pembeli bisa langsung memilih lauk yang sudah matang, penyajian di kantin ini juga sangat cepat. Dari mulai datang ke situ sampai mulai makan hanya 5 menitan. Tapi selain kecepatan, satu hal yang saya perhatikan menjadi kunci larisnya adalah keluwesan penjualnya melayani pembeli. Tangkas, ramah, dan sabar, itu yang saya perhatikan dari caranya si Mbak penjual itu melayani pesanan.

 

Nah,selain kualitas makanan, saya juga jeli mengamati bagaimana mereka menjaga kebersihannya. Di beberapa kantin saya melihat sendok dan garpu ditaruh menghadap ke atas dalam sebuah wadah. Ketika sepiring makanan sudah siap, si penjual mengambil sendok garpu dengan haapp! tangannya menyentuh bagian sendok garpu yang nanti akan masuk ke mulut. Cukuplah sekali saya melihat adegan itu. Ketika memesan di minggu berikutnya, saya mengambil sendiri sendok garpunya dari wadah tersebut. Itu hal kecil tapi menentukan dalam menjaga kebersihan. Untuk bagian-bagian yang nanti digunakan untuk makan, tidak boleh kita sembarangan menyentuhnya dengan tangan yang sudah keliling kemana-mana mulai dari wajan, lap, bahkan anggota-anggota tubuh lain. Bisa bayangkan kan risihnya?

 

Tapi ini mah berlaku untuk orang kota yang sok bersih (macam saya ini). Kalau untuk mereka yang lebih spontan dan tidak terlalu perhitungan sih yang seperti itu oke-oke saja. “Buktinya anak-anak kampung yang saben hari mandi di kali juga sehat-sehat saja, kok,” katanya. Yeah, it’s all in the mind, sih.

 

Satu lagi yang penting: kelengkapan. Di sebuah acara kampus di Pecinan beberapa bulan yang lalu, saya membeli dim sum dan teh racek. Dim sumnya sudah siap, eh tehnya belum muncul. Waktu saya tanya mana tehnya, eh jawabannya: “waduh, maaf, gelasnya kelupaan”; itupun setelah bertanya kepada saudaranya yang menjawab bahwa dia lupa membawa gelasnya dari rumah. Iki piye sih dodolan teh ndak pake gelas? Lha masak saya mau minum tehnya digeologok langsung dari ketelnya gitu tah? Atau dibungkus tas kresek dikasih sedotan? Walah….!

 

Jadi, keramahan, ketangkasan, kecepatan, kebersihan dan kelengkapan  menjadi kunci penglaris sebuah bisnis kuliner. Bisnis kuliner memang bukan sekedar mak nyus.

 

 

Tagged: , ,