Doodle dan Orang Stress

Posted on May 19, 2016

2


Doodle adalah hal paling nikmat yang dilakukan ketika rapat mulai membosankan. Iya, ada benarnya juga sih. Soalnya beberapa rapat yang saya hadiri ujung-ujungnya menjadi geje karena diisi oleh cerita ngalor ngidul para the so-called pejabat yang gemar sekali bercerita tentang pengalamannya yang sebenarnya tidak berkaitan dengan materi rapat (baca: nggedabrus). Karena hanya pejabat sekelas kacung, saya ya ndak berani menginterupsi kalau sudah begitu. Maka saya yang dulu sudah divonis oleh guru tidak punya bakat seni akhirnya melakukan doodling: membuat coretan-coretan di kertas catatan. Coretan itu asal saja, spontan saja keluar dari pena di tangan saya, tidak saya renungkan lama-lama. Kebanyakan malah akhirnya mewakili perasaaan saya saat itu: sedikit bosan, sebal karena harus mendengarkan rekan nggedabrus, kawatir karena saya masih harus mengerjakan persiapan mengajar, dan lain sebagainya.

 

Nah, menurut para ahli, ada beberapa ciri doodle yang mewakili karakter atau perasaan di penggambarnya. Secara umum, garis-garis lurus dan tegas mewakili perasaan agresif, marah, atau jengkel, atau emosi kuat lainnya. Doodle dengan garis tebal menunjukkan ketegasan dan kemantapan sikap, sementara garis tipis dan samar mencerminkan sikap ragu-ragu dan hati-hati. Doodle besar umumnya dibuat oleh mereka yang punya rasa percaya diri kuat, sementara doodle kecil menunjukkan keyakinan diri yang mudah goyah.  Bentuk lengkung menunjukkan sikap yang  sabar, hati-hati, dan toleran. Doodle saya itu tidak kecil ya tidak besar. Biasanya saya memulai dari tengah halaman, lalu berangsur-angsur meluas ke bagian-bagian lainnya. Nampaknya itu cocok dengan corak kepribadian saya: dari luar tampak percaya diri, padahal sebenarnya di dalam ada groginya juga. Tapi setelah beberapa lama menerjuni suatu tugas atau kegiatan, makin lama rasa percaya diri itu makin kuat. Begitu.

 

Membuat doodle seharusnya memang spontan. Kalau direncanakan dulu, apalagi pakai meditasi dan kontemplasi segala, ya malah bukan doodle namanya. Doodle yang ueenaak itu adalah yang lahir dari rasa dan emosi yang spontan. Ketika merasakan suatu emosi, di benak saya timbul berbagai bentuk abstrak. Nah, bentuk-bentuk itulah yang langsung saya coretkan di atas kertas.

 

Ada kalanya setelah beberapa coretan spontan selesai, muncul keinginan untuk berpikir sejenak: “ini enaknya dikasih variasi apa ya? Masak dari tadi kotak-kotak melulu? Mungkin ada baiknya kalau dikasih bulatan-bulatan, terus di dalamnya dikasih aksen bola-bola hitam.” Maka saya pun meneruskan coretan tadi dengan menambahkan variasi disana-sini.

 

Setelah beberapa saat melakukan coretan dengan berpikir lebih dulu, saya matikan pikiran saya dan kembali mencoret-coret lagi dengan spontan tanpa berpikir, hanya menuruti apa maunya sang tangan menari di atas kertas menuruti bayangan-bayangan aneh di benak saya. Demikianlah, doodling berjalan berselang-seling antara yang terencana dan berdasarkan estetika dan yang spontan.

 

 

Doodle di bawah ini saya buat tadi pagi ketika mulai merasa tidak nyaman akibat suatu rapat yang berkepanjangan tanpa ada poin-poin penting. Saya mulai dari bagian tengah. Kalau dilihat lebih seksama, mungkin sekali secara tanpa sadar gambar itu mewakili apa yang saya rasakan saat itu: antara mulai sebal  (ditunjukkan oleh garis-garis lurus) dan masih mau sabar menunggu penggedabrusan beberapa peserta rapat (diwakili oleh titik-titk hitam yang sekilas tampak seperti sebuah smiley).

 

20160519_181433

Lebih jelas lagi adalah gambar di bawahnya, yang banyak bulatan itu. Kalau dilihat sekilas kan  kayak sebuah wajah gemuk dengan mata setengah terpejam karena mulai ngantuk atau bosan, kan?

 

Doodel berikut ini saya buat setelah agak sedikit bersitegang dengan seseorang. Saya mulai dari tengah dengan coretan yang sangat mewakili perasaan agresif: garis lurus dan anak panah. Tapi lalu saya berusaha tenang dan mencoba sedikit lebih berempati dan lebih sabar. Maka muncullah bulatan agak setengah lingkaran di atasnya.

 

20160519_181352

Nah, akhir-akhir ini banyak dibicarakan orang tentang terapi mewarna. Ternyata kegiatan mewarnai juga merupakan salah satu terapi untuk mengurangi stress dan bosan. Di toko buku bahkan dijual buku-buku khusus untuk diwarnai oleh mereka-mereka yang stress itu. Nah, kalau akhirnya buku itu tidak banyak yang laku ya karena promosinya salah. Siapa juga yang mau dianggap sebagai orang stress karena membeli buku itu? “Mas, beli buku mewarnanya itu tiga ya?”.  “Hayooo, Ibu stress yaaa? Kenapa to, Bu? Atasan menyebalkan, atau ditinggal selingkuh? Atau ditinggal selingkuhan?”

 

Bwahahahahahaha!

 

 

 

 

Posted in: humanity, Nyantai