Dicari: Insinyur, Bukan Sastrawan

Posted on May 18, 2016

0


Kompas hari ini menyajikan laporan yang menarik: Indonesia kekurangan insinyur! Oleh karena itu, harus digencarkan pendidikan yang lebih berorientasi ke teknik, dan bukan sosial-humaniora.

 

Dikemukakan fakta bahwa di luar negeri, tepatnya di negara-negara yang maju, rasio antara penduduk dengan insinyur adalah 2800 orang dilayani oleh 1 insinyur, sementara di negeri ini rasionya masih 120 ribu orang awam dilayani 1 insinyur.

 

Nah, yang menarik adalah fakta  bahwa dari sekitar 800.000 manusia bergelar insinyur, ternyata 47 persennya bekerja di luar bidang keteknikan. Ada yang bekerja di perbankan, di bidang humas, periklanan, konsultan, bahkan menjadi guru. Lha kok bisa begitu? Alasannya sangat klise tapi sangat masuk akal: duit! Bidang keteknikan tidak mampu memberikan gaji yang menarik. Dikisahkan disitu bahwa ada seorang insinyur muda yang bekerja dengan gaji awal 2 jutaan, sementara temannya yang juga insinyur bekerja di bank dan digaji awal 6 juta. Ya mesti aja si insinyur ini langsung ikutan cabut bekerja di  bank.

 

Jadi percayalah, duit itu mau dianggap penting atau endak nyatanya ya tetap penting.

 

Jadi, kembali ke situasi di atas tadi, kita butuh lebih banyak insinyur dan bukan sastrawan. Negeri dengan banyak insinyur yang bekerja di berbagai bidang teknik akan membuat negara menjadi makin canggih, menjadi makin modern, dan ikut aktif dalam pembangunan kehidupan di masa depan, sementara negeri dengan terlalu banyak sastrawan akan penuh dengan orang nulis dan mbaca komat kamit atau  ngomong kareppe dewe di taman-taman, bwahahah!

 

“Lho, sastra itu memberikan sentuhan humanis dalam diri manusia. Maka, sastra itu penting dan harus diajarkan!” demikian mungkin protes seseorang pemerhati sastra. Ya iyaalaah, humanis, tapi kalau untuk bikin jembatan nyabrang Madura aja masih perlu dibikinkan wong cino opo yo ora ngeres to? Bwahahaha!

 

Bidang teknik makin lama makin sexy. Yang sedang sexy-sexynya adalah ini: energi terbarukan! Keren amat. Jadi kalau Anda sekolah di bidang ini, nanti setelah lulus Anda akan ikut menyumbangkan pemikiran yak opo yo carane supaya manusia ini tidak hanya bergantung pada energi dari minyak? Bagaimana menjaring energi dari matahari, dari air laut, dari angin? Kan keren kalau bisa menciptakan mobil bertenaga matahari yang bisa dipacu sekencang Ferrari? Atau kapal laut yang digerakkan oleh kombinasi antara angin, air dan tenaga matahari yang sudah diubah menjadi energi kinetik? Atau pesawat yang tidak lagi minum Avtur tapi pasokan energi dari keempat penjuru mata angin dan toh masih bisa terbang secepat angin?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tagged: ,