Melawan Takdir

Posted on May 16, 2016

0


Semua sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Kita semua tinggal menjalani takdir tersebut. Jadi kalau Anda sekarang sedang berjuang mendapatkan seorang pujaan hati tapi pada saat yang sama Anda tahu bahwa dia bukan jodohmu, ya sudahlah, hentikan saja upaya pengejaran itu karena toh akan sia-sia. Bukan dia takdirmu. Dia itu bukan takdirmu.

 

Begitukah?

Lha kalau ternyata kita punya kemampuan untuk melihat nasib di dunia ini, lha terus buat apa ya bersusah payah melakukan sesuatu yang ternyata sudah ditakdirkan untuk gagal? Sebaliknya, kalau kita tahu bahwa sudah takdir kita untuk meraih sesuatu atau mengalami sesuatu yang menyenangkan, lha untuk apa bersusah payah? Nanti kalau waktunya sudah sampai, toh kita akan mengalami pencapaian itu.

 

Begitukah?

 

Dalam ilmu filosofi yang kemudian bersinggungan dengan ilmu fisika, hal seperti itu disebut paham Determinisme. Intinya, paham ini meyakini bahwa sejak pertama kali alam semesta ini dilahirkan lewat Dentuman Besar sekian puluh milyar tahun yang lalu, semua sudah ditakdirkan. Ibaratnya kita sedang menonton sebuah film yang sudah jadi, misalnya Batman. Mau jagoan di film itu dihajar habis-habisan sama penjahat, semua juga tahu bahwa di akhir film si lakon  itu pasti akan menang juga.

 

Tak urung seorang Einstein pun meyakini hal ini dalam permenungannya sebagai seorang mahafisikawan. Tuhan ndak bermain dadu, katanya. Itu artinya Tuhan tidak sedang bermain tebak-tebakan dan menggelindingkan sesuatu yang serba tak pasti, karena pada dasarnya semua sudah ditetapkan dan diputuskan untuk menjalani garis nasib yang kita sebut takdir.

 

Lalu datanglah mahafisikawan lain yang namanya Heisenberg dengan prinsipnya yang disebut Uncertainty Principle. Dia tidak sependapat dengan Einstein. Menurutnya, alam ini serba tidak pasti. Sebagai buktinya, kita tidak pernah yakin seyakin-yakinnya apakah sebuah elektron akan berada di tempat  A atau B, dan apakah sebuah proton yang sedang diamati akan juga berada di tempat lain dengan tingkah laku yang mirip atau bahkan berlawanan sama sekali.

 

Untuk lebih menambah rame diskusi dahsyat ini, beberapa psychic mempercayai bahwa kita ini sebenarnya melakoni satu saja episode yang kebetulan kita pilih. Maksudnya, kalau Anda baru saja memilih untuk menikahi si A dan bukan si B, maka yang kita jalani adalah hidup bersama dengan si A. Apakah hidup dengan si B berarti tidak ada? Ya tetap ada, tapi itu ada di frekuensi dan alam yang tidak sedang kita alami.

 

Piye? Ngelu to? Hahahaha!

 

(disarikan dari kuliah singkatnya Michio Kaku, seorang fisikawan modern yang melahirkan String Theory dan cakap menerangkan prinsip-prinsip rumit astrofisika dengan bahasa yang lebih mudah dipahami awam).

 

 

Posted in: Agama