Starbuck dan Ngopi

Posted on May 12, 2016

2


Sore ini saya diajak untuk menghadiri pembukaan gerai Starbuck di Malang Centre Point. Undangan itu khusus untuk nasabah sebuah bank. Tapi tentunya bukan nasabah sembarang nasabah, tapi nasabah kelas premium, alias nasabah yang punya deposito atau tabungan bernilai milyaran dolar. Lho, lha jadi tentunya  Anda bertanya apakah saya termasuk nasabah kelas premium?

 

Jawabannya tegas: Yep!

Saya memang nasabah kelas premium, alias kalau bensin selalu bensin premium. Mwahahaha!

 

Yah, sekilas ada niat untuk membohongi publik dengan menuliskan bahwa saya memang nasabah yang simpanannya mencapai milyaran USD tersebut. Tapi nanti pasti ada yang dengan kritis bertanya: “lho lha kok iso, cumak dosen kok simpanannnya bisa sebanyak itu??”. Ya, jadi pasti ketahuan juga kan boongnya. Hahaha!

 

Jadi ya sudahlah, jujur saja: undangan itu adalah pemberian dari murid kursus istri saya yang rupanya kurang berminat menghadiri acara tersebut. Jadilah undangan itu diberikan kepadanya, dan saya diajak ikut. Setelah BBM an maju mundur, akhirnya saya pastikan tidak ikut. “Boyokku sakit,” kata saya. “Iya, lagian wong cuma warung kopi, kok, ntik kamu ngopi enak ndek kantin iku ae,” balasnya.

 

Jadilah saya tinggal di rumah saja malam ini.

 

Omong-omong tentang Starbucks, saya baru pertama kali lho masuk kedai kopi itu dan mencicipi kopinya. Itu terjadi waktu seminar di UK Petra bulan yang lalu. Itupun karena jasa baik adik saya mengajak minum kopi. Vanilla Lattenya enak ternyata. Yah, kalau soal harganya sih memang tergolong tidak murah;  rata-rata sekitar 45 K. Itu pun yang mungkin kelas mahasiswa lho. Soalnya letaknya kedai itu kan pas di depan kampus Petra situ.

 

Seperti sudah lazim terjadi, sekalipun cuma kopi, tapi label Starbucks itu sudah lekat dengan gaya hidup tersendiri yang bukan rakyat kebanyakan. Jadi untuk Anda yang sudah pernah bahkan sering ngopi di Strabucks, bolehlah merasa sedikit gengsi karena label “kelas atas” itu pun menempel di diri Anda yang sebenarnya juga tidak lebih dari balung, daging, plus kentut itu. Ya kan? Mwahahahaah!

 

Kopi Bali. Saya tidak tahu apanya yang khas atau gimana. Tapi ternyata kopi Bali itu rasanya agak masam ya? Jadi kalau minum kopi Bali, saya tambahkan gula banyak-banyak supaya terasa lebih manis.

 

Kopi favorit saya adalah kopi yang saya beli dari kolega saya Pak BW. Namanya kopi Sidomulyo. Dibungkus plastik biasa dengan label sederhana, kopi itu nikmat sekali di lidah. Dalam waktu singkat habis dah. Waktu saya mau beli lagi ke pak BW, beliau mengatakan bahwa stocknya sudah habis dan dia mesti beli lagi. Wah, sayang, padahal saya suka🙂

 

 

 

 

Tagged:
Posted in: humanity, Nyantai