Dosen Antik

Posted on May 11, 2016

0


Dosen antik.

 

Saya sudah setidaknya dua kali mendengar istilah ini. Yang pertama ketika bekerja di sebuah PTS di Surabaya. Dekan sebuah Fakultas mengatakan: “maklumlah, pak, dosen saya ini kan antik-antik, hahaha!”.

Yang kedua saya dengar dari kolega saya di kampus ini waktu rapat kemarin dengan nada yang kurang lebih sama : “maklumlah, dosen-dosen PTN itu kan banyak yang antik-antik, hahaha!”

 

Jadi saya pun bertanya-tanya: apa maksudnya “dosen antik”?

Kata “antik” bermakna “kuno, tapi punya nilai sejarah”. Meja antik, lemari antik, rumah antik, semua yang berlabel antik selalu dilekatkan dengan peninggalan jaman dulu, puluhan atau bahkan ratusan tahun yang lalu. Jadi pasti lah tampangnya sudah tua, sudah bulukan, tapi mengandung nilai sejarah tersendiri.

 

Tapi dosen antik? Apa iya selalu tua, beruban, lahir di abad ke 18 dan sampai sekarang masih mengajar dengan segala kelakuan jadulnya? Ya, mungkin ada beberapa gelintir yang seperti itu, tapi saya yakin bukan itu maksud kata antik tersebut.

 

Saya curiga kata “antik” itu mengandung konotasi tersendiri, yakni “mempunyai gaya dan sikap tersendiri yang sulit disejajarkan dengan peraturan”. Dengan kata yang lebih langsung: “sulit diatur.”

Bwahahaha!

 

Kata lain yang sedikit lebih lunak mungkin adalah: “terlalu kritis dan vokal. Semua peraturan dipertanyakan, dikritisi, bahkan tidak jarang dikecam.” Yah, mungkin karena sudah terbiasa berpikir kritis, maka dosen pun cenderung mempertanyakan aturan-aturan yang sudah disepakati.

 

Setelah ada fesbuk, saya makin yakin bahwa  beberapa dosen memang bisa digolongkan “antik”. Ada yang luar biasa nafsu nya ingin diakui sampai bahkan email undangan seminar pun di taruh di statusnya. Ya, pastilah orang macam ini tergolong megalomaniak: selalu ingin pengakuan orang lain. Dan memang buktinya dia pasti mengalami kepuasan luar biasa manakala statusnya itu di like oleh banyak orang, atau beberapa fesbuker memberikan komen di kolomnya: “selamat yaaa!”; “wow, great!”; “wah, congrats yaa!”.

 

Yang lebih mengenaskan ada juga yang ikut bermain-main tools yang bisa memperkirakan umur seseorang. Maka, dengan bangganya dosen yang usianya sudah mendekati kepala 7 ini memasang hasilnya di status FB nya dan mengatakan: “wah, ternyata menurut apps ini saya masih kelihatan seperti wanita usia 30 an.” Hahaha! Itu baik appsnya maupun otak Anda memang sudah somplak, Bu, bwahahaha!

 

Karena semakin tua saya beranggapan bahwa dosen seharusnya memelihara citra misterius, diam, sedikit mengerikan, tapi berwibawa dan disegani, maka saya anggap dosen-dosen yang narsis seperti itu adalah antiiik. Dosen yang ndak antik itu adalah yang tidak menggunakan fesbuknya untuk hal-hal narsis seperti itu. Kalaupun menulis status, ya sebaiknya sopan, seperlunya, dan bernada memberi informasi atau saran yang lahir dari rahimnya yang sarat dengan ilmu dan kebijaksanaan.  Dosen atau guru yang baik itu adalah seperti Ki Hadjar Dewantara: ndak punya fesbuk, sedikit nggedabrus, tapi sekali bicara diikuti semua orang sampai puluhan tahun setelah dia tiada.

 

Apakah saya juga termasuk dosen antik? Ya iyalah, pasti. Iya kalau saya sendiri yang bilang ya endak, tapi menurut banyak kolega pastilah juga punya ciri antik yang agak nggilani itu.

 

Salah seorang mantan mahasiswa S2 saya pernah meringkasnya dengan kalimat yang luar biasa mengena: “aku ndak pernah diajar dosen seperti prof Patrisius: ngajar kuenceng, lurus ndak ada humor atau guyon blas, bahkan senyumpun jarang.  Jan antik tenan!”

 

Nah lo!

 

 

 

Posted in: akademik, kampus, profesor