Mahasiswa Bintang, Penyendiri, dan Tanpa Harapan

Posted on May 10, 2016

0


Penelitian yang sedang saya lakukan di semester ini adalah pola pergaulan di kelas. Kalau kita amati, sebuah kelas menyajikan ciri-ciri dan dinamikanya sendiri. Kelas punya denyutnya sendiri, punya pola interaksinya sendiri, yang sedikit banyak mempengaruhi cara belajar dan pencapaian belajar para mahasiswa atau para muridnya.

 

Saya membagikan angket kepada para mahasiswa di kelas yang saya ajar untuk mengetahui siapa teman yang mereka anggap paling enak diajak bekerja sama dalam kerja kelompok. Dari sini saja sudah mencuat suatu temuan menarik: ada beberapa mahasiswa yang dirujuk banyak mahasiswa lain, tapi dia tidak merujuk mahasiswa-mahasiswa lain itu sebagai teman paling enak. Jadi misalnya si A dianggap teman enak oleh si B, si C, dan si D, namun A hanya menganggap si D sebagai teman enak.

 

Nah, makhluk seperti ini biasanya tergolong yang pintar dan cemerlang di kelas. Nilai-nilai ujiannya selalau 90 ke atas; IPK nya hampir 4. Dia saya juluki the STAR.

 

Pola hubungan lain adalah yang timbal balik. Jadi, si A menganggap si D sebagai teman dekat, dan sebaliknya si D menganggap A sebagai teman dekat. Pola yang beginian kita sebut TWO-WAY, karena masing-masing menganggap satu sama lain sebagai teman enak.

 

Nah, ada lagi yang kurang manis, yaitu kalau seseorang mahasiswa menganggap seorang mahasiswa lain sebagai teman enak, namun yang terakhir ini tidak menganggap dirinya sebagai teman enak. Jadi misalnya  si B menganggap si A sebagai teman enak, namun si A tidak menganggapnya sebagai teman enak. Ya, kalau istilah romantisnya adalah “bertepuk sebelah tangan”. Pola yang begini kita sebut ONE-WAY.

 

Lalu ternyata masih ada lagi golongan yang menarik: mereka mengaku tidak punya teman enak. Mereka lebih suka bekerja sendirian. Yang beginian saya sebut ISOLATE. Gayanya juga khas: selalu menyendiri, sibuk sendiri, dan menunjukkan gerak tubuh yang kurang sedap dipandang kalau disuruh kerja kelompok.

Apakah kelompok ini selalu buruk? Oh, tidak selalu. Beberapa dari mereka tergolong pintar, sangat pintar malah. Mereka memang tidak suka bekerja sama, itu saja. Ya sebenarnya ini saya banget juga sih. Maaf. Tapi ya itulah, the ISOLATE.

 

Jenis yang paling menyedihkan adalah apa yang saya sebut sebagai the HOPELESS, si tanpa harapan. Cirinya juga khas dan saya kira semua dosen pasti pernah punya mahasiswa model beginian: sering bolos, nilai kuisnya selalu jelek, ditanya jawabannya ngawur, tidak pernah bawa buku teks, dan nampaknya lebih menekuni dunianya sendiri di luar kampus. Secara keseluruhan, bahasa tubuhnya menunjukkan: “aku malas kuliah; kalau gak dipaksa orang tua ya aku ndak bakal masuk sini sebagai mahasiswa”. Dalam bahasa populer disini anak seperti ini sering dibilang “arek gak niat sekolah”. Ya, di kampus dia memang HOPELESS, tapi di luar kampus dan untuk urusan non akademik siapa tahu ternyata mereka adalah insan-insan harapan. Setidaknya, ada beberapa murid saya yang lebih suka nge band dan lebih suka olah raga di luar kampus. Ada juga sih yang ndak ngapa-ngapain di luaran tapi tetap pria penuh harapan karena ternyata orang tuanya kaya raya dan dia disukai cewek-cewek (yang sebenarnya juga sama gak genahnya)  karena mobil-mobilnya sekelas Lamborghini.

 

Satu hal lagi yang mencuat dari studi saya adalah bahwa sekali para mahasiswa sudah menemukan kelompok yang pas dengannya, mereka sukar membaur ke kelompok lain. Perintah saya untuk bekerja sama dengan teman sekelas yang lain tidak digubris.

 

Itulah.

 

 

Posted in: akademik, kampus, Nyantai