Rumah Ideal

Posted on May 9, 2016

0


Seperti apa sebuah rumah yang ideal?

 

Satu yang pasti: bukan rumah kontrak. Rumah ideal, mau seberapapun mungilnya, haruslah rumah sendiri yang dibeli dengan hasil menabung . Akan lebih baik lagi kalau bukan warisan.  Membeli rumah yang benar-benar dari hasil kerja keras dipercaya akan membawa kesehatan mental, fisik, dan spirit. Siapa yang bilang? Ya saya lah, hahahaha!

 

Rumah ideal itu mungkin seperti rumah bapak ibu saya di jl. Salatiga. Dulunya rumah itu sederhana; ya maklum lah, rumah di komplek dosen PNS, mau minta yang sebagus apa juga. Tapi yang membuat orang jaman sekarang iri adalah luas halamannya. Halaman depan itu sungguh menjadi aset tersendiri untuk penghuninya. Sewaktu saya masih kecil, halaman itu menjadi tempat bermain, mulai sepak bola, berkemah, atau sekedar berayun-ayun di pepohonannya. Sungguh menyenangkan. Sekarang, setelah saya dewasa, saya suka mengagumi keelokan taman di halaman itu. Taman itu hasil tangan dingin ibu saya dalam mengolahnya. Dibantu dengan beberapa tukang kebun, jadilah halaman itu sebuah spot yang nyaman dipandang mata karena penuh dengan aneka tanaman dan bunga.

 

Rumah yang ideal buat saya adalah yang mempunyai privasi. Itu sebabnya saya suka dengan rumah yang memiliki banyak sekat atau bahkan pintu pemisah. Ruang tamu dipisah oleh pintu; ruang tengah dan ruang makan dipisahkan oleh tembok; ruang belajar di belakang juga sebaiknya terpisah. Sebagai seorang INFJ (Introvert Intuition Feeling Judgment), bisa dimaklumi kalau saya menginginkan rumah seperti itu. Harus ada tempat dimana saya punya waktu yang sekarang populer disebut “me time”: waktu dimana saya benar-benar menyendiri, tanpa melihat dan dilihat orang lain. Saya ngapain kalau sedang seperti itu? Ya membaca, menulis, atau merenung aja, bahkan melamun. Tapi bahkan ketika sedang merenung pun saya ogah dilihat dan melihat orang lain. Saya tidak suka orang lain melihat saya sedang makan, atau sedang sorak sorak menonton balap motor GP atau sepak bola atau tinju.  Harap maklum🙂

 

Tapi seorang teman membuka wawasan saya tentang rumah yang bertipe sama sekali lain. Dia menunjukkan gambar sebuah rumah yang mirip gudang karena tidak bersekat sama sekali. Jadi ruang tamu, ruang tengah, dan ruang makan jadi satu tanpa sekat. Sekat satu-satunya adalah kaca tebal yang memisahkan ruangan berlantai itu dengan sebuah taman di belakang. Lalu yang unik adalah ada lantai dua tempat ranjang diletakkan. Tapi itupun nyaris tanpa sekat karena bednya bertumpu pada sebuah papan keras tebal tanpa tembok atau pintu. Naiknya lewat sebuah tangga dari bawah.

 

Rumah seperti itu ideal untuk sepasang kekasih atau suami istri. Kesannya lega, luas, dan tanpa privasi karena masing-masing sudah saling percaya satu sama lain. Ya memang bisa timbul pertanyaan “ini sedang tinggal di rumah atau auditorium”?. Iya kan?

 

Rumah seperti itu tidak harus sangat luas. Tipe 50 – 80 sudah cukup. Ketiadaan sekat dan tembok menjadikannya luas dan tentunya nyaman untuk dihuni. Ya, masih belum bisa membayangkan bagaimana hidup di rumah tipe lega seperti itu. Saya mengagungkan privasi; tanpa privasi saya bisa seperti ikan tercekik karena disuruh berenang di pasir. Tapi ya, siapa tahu rumah seperti itu memang nyaman untuk dihuni bahkan untuk tipe penyuka kesendirian seperti saya.

 

 

Tagged: ,
Posted in: Uncategorized