Techno Pop Jadul a-ha

Posted on April 30, 2016

0


Manekin-manekin telanjang gundul, puluhan jumlahnya berkerumun di sebuah bangunan seperti sebuah gereja. Di depannya tiga pria muda, satu menyanyi, satu main keyboard, dan satu main gitar.  Warnanya monochrome, hitam putih. Lagu berirama lincah dengan vokal melengkingkan lirik-lirik balada panjang.

 

AHA

Itu adalah video klip lagu “The Sun Always Shines on TV”, sebuah lagu jadul tahun 1985 oleh sebuah grup band dari Norwegia yang namanya a-ha. Iya, a-haaaaa! a-ha!

 

Editing yang prima membuat video klip itu sangat sangat enak dinikmati. Potongan gambar sang vokalis berseling-seling dengan wajah manekin yang tapres, kemudian pindah ke wajah sang keyboardist dan secepat kilat pindah lagi ke jari sang gitaris yang sedang menggasak gitarnya. Apik tenan!

 

Grup band a-ha ini hebat. Ngetop di tahun jadul 80 an, dan bahkan sampai saat ini masih eksis dan menelurkan lagu-lagu lezat. Ketiga personelnya pun tetap, tidak gonta-ganti seperti beberapa grup band terkemuka yang lain. Morten sebagai vokalis, Magne yang main keyboard, dan Pal Waaktaar yang nggitar.

 

Musik yang mereka bawakan adalah jenis yang merajai khazanah musik era 80 an sampai akhir 90 an. Namanya techno pop, atau disebut juga synthesizer pop. Ini karena sebagian besar bunyi-bunyiannya dihasilkan oleh keyboard yang sudah diprogram sedemikian rupa sehingga bisa menelurkan suara drum, bass, bahkan cymbal dan beberapa lagi alat musik yang lain. Terdengar mekanistis, sangat persis dalam hal tempo dan keajegan kerasnya suara. Ya mesti wae, lha wong yang main komputer. Ini membuat musik techno pop sering dikritik sebagai musik yang  kurang murni ya karena kegiatan bermusik diambil alih oleh benda yang namanya synthesizer itu. Band-band era itu seperti Pet Shop Boys, Kraftwerk dan sejenisnya sarat dengan bunyi-bunyian seperti ini. Pernah dengar lagu “Time After Time” yang diremix oleh seorang penyanyi cewek berkulit hitam? Nah, disitu dengarkan bunyi drumnya. Kalau kita peka, kita akan bisa membedakan bahwa itu jelas suara drum dari komputer, bukan drum asli yang digebuk manusia.

 

Di era 2000 an, a-ha menelurkan lagi satu single berjudul “Minor Earth Major Sky”. Ini gila juga, apik pol. Ketiga pria itu berpakaian astronot dan berjalan-jalan di Bulan sambil nyanyi tentunya. Adegan  di Bulan itu tentunya hasil teknik pembuatan film yang sangat canggih, tapi beberapa pihak pun langsung heboh karena bisa sangat mirip dengan gambar pendaratan di Bulan sesungguhnya akhir dekade 60 an dan awal 70 an. Mereka bilang: “waaah, jangan-jangan memang NASA mengelabui dunia dengan membuat film yang seolah-olah memperlihatkan bahwa pendaratan di Bulan itu benar-benar terjadi; padahal sebenarnya itu cuma teknik film!”. Asal tahu saja, banyak orang masih percaya bahwa NASA itu sukses membuat hoax terbesar sepanjang sejarah manusia, yaitu pendaratan di Bulan!

 

Nah, kembali ke techno pop. Ada satu lagi band di era 80 an itu yang bernama Alphaville. Kedua lagunya “Big in Japan”, dan “Sounds like a Melody” lebih kental lagi dengan nuansa techno pop. Video klipnya tidak seapik a-ha, tapi lagunya, yang penuh dengan denyutan synthesizer, enak pol di telinga saya.

maxresdefault

Era techno pop sudah berlalu, digantikan oleh hip hop. Maka jangan heran kalau kedua generasi ini jadi saling asing. Penyuka techno pop saat ini pasti sudah berusia 45 tahun ke atas, sementara fans hip hop masih berusia 20 – 30 an tahun. Maksud saya, suatu ketika seorang mantan murid mengirimkan lagunya Serayah, seorang penyanyi berkulit hitam. Saya dengarkan sambil membatin: “iki lagu opo to yooo??”. Jan gak uenak pol di telinga saya, wakakakak! Sebaliknya, murid saya itu pun kalau membaca posting ini dan mendapatkan lagu-lagu a-ha dan Alphaville di Youtube pasti akan membatin yang sama: “iki lagu opooo seeh?? Wuelek!”, hahahaha

 

serayah-mcneill-empire-season-finale-secrets-02

 

 

 

Posted in: musik