Traveling Wis Enak Dapat Duit

Posted on April 26, 2016

0


Kira-kira hanya 1 dari 10 orang yang tidak suka traveling. Itu artinya traveling adalah kegiatan yang menyenangkan. Jalan-jalan melihat pemandangan dan suasana baru bisa membuat kita ketagihan.

Namun selama ini traveling identik dengan menghabiskan uang. Seorang teman pernah bilang “kalau udah niat traveling, ga usah dipikir biayanya. Pasti mahal. Tapi kan rejeki bisa dicari lagi”. Ya iya sih. Mau nabung sebanyak apapun pasti akan susut banyak kalau traveling kemana-mana apalagi sampai ke luar negeri. Ya sudah, habiskan, nikmati, ga usah dipikir kok bisa sebanyak itu uang habis dalam waktu dua atau tiga minggu.

 

Nah, saya akhir-akhir ini mengamati ada seorang kenalan yang travelingnya cuma ke Arab. Dua tahun lalu ke Arab untuk umrah; eh, tahun ini ke Arab lagi. Apa ndak mau pergi ke negara lain?

 

“Mboten saged boso Inggris!” demikian kilahnya ketika ditanya kenapa kok ndak mau ke Singapore atau Jepang atau Korea. “Nanti kalau kesasar-sasar terus gimana?”

 

Aha, ini kan bisa dijadikan bisnis? Terlintas di benak saya suatu ide. Kan saya sudah pernah ke beberapa negara di Asia. Saya bisa menawarkan jasa guide amatiran ke mereka. “Ayo jalan sama saya; saya sudah pernah kesana, ntar saya jadi penerjemah sekaligus guide. Tapi tiket pp dan akomodasinya Anda yang mbayar ya? Nanti saya carikan tiket nya, plus akomodasinya saya pesankan. Jadi Anda dan keluarga bisa kesana tanpa takut kesasar-sasar. Enak to?”

 

Lalu apa bedanya dengan tur konvensional. Lain bok! Ini tur keluarga yang isinya hanya sekeluarga paling bapak embok sama dua atau tiga anaknya. Karena rombongannya kecil, maka pengaturannya lebih luwes dan lebih mudah; tidak seperti tur-tur lain yang ketat waktu kunjungan.

 

Darimana saya dapat keuntungan? Ya dari fee pembelian tiket, komisi dari travel antar jemput, dan sejenisnya. Tapi memang usaha macam gini ndak nyari profit gede-gede amat. Keuntungan utamanya adalah bisa jalan-jalan ke luar negeri dengan biaya dari klien kita. Ya, kalau mau dijadikan pencetus untuk rangkaian bisnis yg lain ya bisa aja, misalnya merekam perjalanan itu untuk kemudian dijadikan tulisan untuk blog-blog pariwisata seperti yang saya tulis di posting “Bisnis di Dumay” sebelumnya.

 

Pangsa pasar yang ideal untuk bisnis beginian adalah orang-orang yang banyak duit tapi agak katrok karena ndak bisa bahasa Inggris atau buta gadget. Yang beginian banyak di desa-desa di suatu pulau penghasil garam dan tembakau sana. Kalau sudah musim panen, banyak orang kaya dan ndak tahu duitnya mau dikemanakan. Daripada dibikin judi atau kawin lagi kan mending dibuat jalan-jalan ke luar negeri? Ntar dikenalin ke Instagram dan di IG nya ada album “Brodin and fam dari Arudam in Japan”, ha ha haa!

 

Dari tadi tokohnya saya ya? Ndak lah, kalau orang kayak saya jualan beginian bisa ndak laku blas karena memang saya ndak bakat dagang dan tampang guru besar sungguh bikin klien patah semangat untuk traveling bersama saya. Ini posting saya luncurkan sebagai hasil ngobrol-ngobrol di kantin bersama istri saya  tadi siang, dan saya jadi ingat kawan yang hobinya traveling kemana-mana dan mungkin belum terpikir membisniskan kegiatan asik ini.

 

P.S. Seolah menyambut ide saya ini, hanya selang sehari setelah posting ini dibuat, murid les istri saya mengajak jalan-jalan ke Jepang. Istri saya menyanggupi asalkan tiket pp dan akomodasinya ditanggung, yang terus diiyakan saja sama si murid yang memang anak pejabat kaya itu (ayahnya seorang petinggi kepolisian Malang). Tapi sama istriku disarankan perginya tahun depan bulan Maret – April, karena kalau pergi nya bulan Agustus tahun ini di Jepang sudah musim panas dan ndak bisa melihat Sakura berkembang.