Stand Up Comedy di Ma Chung

Posted on April 23, 2016

0


Kemarin saya menjadi juri lomba Stand Up Comedy (SUC) di gedung Core, Universitas Ma Chung. Kesasar mungkin ya? Bagaimana mungkin seorang profesor super serius yang jayus kok disuruh jadi juri SUC? Tapi ya wes lah; memang kalau dipikir-pikir salah kedaden alias nguawur ae tapi ya karena sudah terlanjur disitu ya saya menjuri juga.

 

Dua juri yang lain adalah Reggy Hasibuan, yang memang sudah kondang sebagai SUC kondang di negeri ini dan satu-satunya yang berbahasa Inggris, dan satu lagi mahasiswi saya namanya Grace. Keduanya memang menggeluti bidang lucu melucu ini, sehingga pantas lah ditugaskan menjadi juri.

 

Istilah untuk pemain SUC adalah komika. SUC itu sendiri juga punya nama lain, yaitu Open Mic.

 

Menjadi juri SUC harus siap ketawa, dan memang benar, sebagian besar waktu saya disitu habis untuk ketawa terbahak-bahak sampai keluar air mata. Sebagian besar komika yang tampil memang sangat lucu. Jadi walaupun ndak mendapat honor dan hanya mendapat nasi kotak, lumayanlah malam itu saya menjalani terapi ketawa yang sehari-hari jarang saya lontarkan di tengah-tengah pekerjaan di kampus sialan ini hahaha!

 

Tapi sayang ada beberapa komika yang mengandalkan fisik orang lain sebagai bahan guyonan. INi yang saya kurang suka. Masak ada peserta yang dengan lantangnya mengatakan kepada salah seorang penonton: “Mas itu, rambutnya a la Korea boyband tapi wajahnya Ndampit”. Itu masih lumayan. Peserta berikutnya lebih gawat lagi. Sambil menunjuk seorang hadirin di depannya dia nyolot: “itu yang mukanya kayak oli tap-tapan”. Yaah, gimana ya, mungkin anak muda jaman sekarang dari kalangan SUC mengatakan: “ya ndak usah dimasukin hati laah, itu kan guyonan”. Tapi ya entah karena saya dosen dan di ruang itu saya yang paling tua, guyonan semacam itu sudah ndak membuat saya nyaman.

 

Seorang peserta cewek (satu-satunya loh) entah bohong entah serius mengatakan bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal. Nah, dasarnya komika, ortu sudah meninggal pun masih bisa dijadikan bahan guyon, sekalipun tidak secara frontal: “Jenasah ayah saya dibawa naik ambulans. Ambulansnya jalannya ngepot-ngepot. Wah, padahal ayah saya tuh suka mabuk darat. Begitu peti dibuka wah ada muntah-muntahnya.” Ya awlooh, saya hanya bisa menahan rasa getir mendengar guyonan seperti itu.

 

Jadi komika ternyata berat. Untuk bisa meledakkan tawa penonton (istilah SUC nya: “pecah”), diperlukan gaya bercerita yang benar-benar pas. Panjang kalimat, kecepatan mengutarakan pesan dan menonjokkan punch line harus pas sehingga penonton bisa meloncat seketika karena tergelitik saraf tawanya. Itu masih ditambah dengan mimik wajah yang juga sesuai sehingga secara keseluruhan memang memicu rasa geli. Kalau ndak percaya, coba berdiri di depan kelas dan lontarkan sebuah lelucon. Tanpa ramuan ajaib tadi lelucon itu bisa jatuh sangat jayus alias tidak membuat ketawa sama sekali.

 

O iya, ternyata ketawa karena lucu pun ada batasnya. Setelah hampir kesemua peserta yang jumlahnya 13 orang itu tampil, semacam ada rasa bosan ketawa! Rupanya ketawa dan berhubungan seks pun–senikmat apapun itu–selalu akan membentur titik datar dimana pada saat itu sensasinya sudah tidak terasa menyengat lagi.

 

Secara keseluruhan, pengalaman menjuri  lomba open mic kemarin malam itu cukup memperkaya wawasan saya sebagai manusia jadul yang mencoba menyelami hiburan anak muda Milennial.

 

 

Posted in: Uncategorized