Murid Prospektif

Posted on April 13, 2016

2


Tidak semua mahasiswa harus cemerlang, penuh percaya diri, IPK nya empat koma, dan sangat aktif di berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Setelah hampir seperempat abad berkecimpung di dunia pendidikan tinggi, saya bisa menandai mana murid yang prospektif, dan mana yang kurang prospektif. Prospektif disini maksudnya adalah diramalkan mempunyai masa depan yang cerah.

 

Murid prospektif tidak harus selalu sangat cerdas. Bisa jadi dia mahasiswa biasa-biasa saja, namun ada sesuatu yang memancar dari dalam dirinya yang membuat saya berani meramal bahwa dia akan menjadi insan akademik yang bisa diandalkan di dunia pekerjaan.

 

Dari mana saya melihat bibit itu? Sederhana saja. Dari caranya menyajikan presentasi di depan kelas. Murid macam ini akan dengan sigap memasang perangkat laptop dan LCD di meja presentasi, lalu dengan penuh percaya diri berdiri di depan kelas, memandang ke semua hadirin termasuk dosennya sekilas, lalu mengucap salam dan memulai presentasinya.

 

Nah, ini istimewanya: slides Power Pointnya berisi frasa-frasa singkat, bukan satu kalimat panjang atau bahkan satu paragraf dicopas kesana. Lalu, dia akan dengan lantang menerangkan semua poin tersebut. Bahasa Inggrisnya mungkin masih agak dedel duwel atau acakadut disana sini, tapi dia lagak tenang aja dan terus berbicara mengemukakan buah pikirannya. Karena kesalahan tata bahasanya juga bukan termasuk yang global (artinya yang mengacaukan makna), maka semua hadirin mengerti apa yang dimaksudkannya.

 

Dengan sikap tubuh yang tegak di depan kelas, tangan memegang clicker,  suara lantang dan kaki atau tangan lain tidak umek kareppe dewe (menandakan grogi), dia menyiratkan rasa percaya diri yang kuat. Pada gilirannya, rasa percaya ini dia peroleh karena apa? Ya karena dia pasti sudah mempersiapkan materi itu dengan baik di rumah. Jadi, rasa percaya diri itu menyiratkan satu lagi bibit baiknya: bersungguh-sungguh dalam menyiapkan tugasnya.

 

Nah, satu lagi yang saya amati dari murid prospektif ini: tidak pringas-pringis macam koruptor ketangkep tangan ketika ada pertanyaan teman yang masih sulit dijawabnya. Menghadapi pertanyaan macam itu, dia akan berpikir sejenak, lalu kalau ternyata masih belum ketemu jawabannya, dia akan berkata diplomatis: “baik, terima kasih. Saya akan mencari lagi jawabannya di buku teks.”

 

Beberapa atau bahkan banyak murid lain yang pringas-pringis macam gini ketika ada pertanyaan sulit terhadap presentasinya. Lha sekarang kalau kita ini adalah staf Human Resources Department, apa iya kita akan senang memperkerjakan orang macam korpri seperti itu? Tentunya tidak, bukan?  O, ya, tahu korpri ya? Korpri itu dulu singkatan “Korps Pegawai Republik Indonesha”, tapi sekarang adalah kependekan dari “korak pringisan”. Tahu korak? Korak itu preman.

Bwahahaha!

 

Nah, dengan murid prospektif seperti ini, saya bisa membayangkan bahwa ketika dia melamar kerja nanti, dia juga akan tampil penuh persiapan dan percaya diri. Ketika sudah menjadi  staf pun, dia cenderung sigap, tangkas, penuh tanggung jawab dan bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugasnya. Pendek kata, dia akan menjadi pegawai yang bisa diandalkan.

 

Apakah ada indikator lain selain cara presentasi? Ya, banyak. Ada IPK, ada kepribadian, cara bekerja sama, dan lain-lain. Namun poin saya adalah bahwa hanya dengan melihat cara seorang murid melakukan presentasi saja, saya bisa kurang lebih meramalkan prospeknya setelah dia lulus dan menjadi orang.

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized