Kecerdasan Finansial

Posted on April 12, 2016

0


Kecerdasan spiritual? Ada. Kecerdasan emosional? Ada juga. Kecerdasan interpersonal? Ada laah.

Kecerdasan finansial?

Lhaaa itu, ndak tahu apakah ada konsep yang namanya kecerdasan finansial atau tidak. Ini pertama kalinya saya menulis sebuah konsep ilmiah tanpa menggoogle dulu topik yang mau saya tulis. Ya, menurut intuisi saya dan sejauh pengalaman saya, kecerdasan finansial adalah perihal mengelola uang sehingga bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan masih bisa menabung, plus berinvestasi untuk masa depan.

 

Kalau Anda masih mahasiswa, memang sebagian besar atau bahkan seluruh kebutuhan akan dipenuhi oleh orang tua. Ya kasihan kan, orang tua, wis tuwek, masih harus membiayai kuliah Anda plus pulsa plus bensin segala macam. Nah, kenapa ndak mencoba mendapatkan uang sendiri? Beberapa mahasiswa saya banyak yang mulai mencoba berjualan online. Apa yang dijual saya ndak terlalu tahu (karena setiap kali masuk ke BB saya ndak saya baca, hahaha). Tapi apapun bisa dijual kok; mulai dari powerbank, kue-kue kering, bunga, aksesoris gadget, sampa baju, legging, kosmetik.

 

Usaha lain yang sedikit lebih keren (setidaknya di mata saya) adalah memberi kursus privat. Kalau ini sih Anda harus suka mengajar dan pintar mengajar. Beberapa gelintir mahasiswi saya mendapatkan uang sendiri dengan memberi kursus privat. Saya bahkan pernah merekomendasikan dua orang mahasiswi saya untuk mengajar di sebuah lembaga kursus bahasa Inggris di dekat Radio Elfara sana. Saya pilih yang emang puinter puinter di kelas jadi ndak malu-maluin saya di mata pemilik kursus. Jadi ingat pengalaman sendiri ketika masih berusia 20 – 21 tahun. Saya memberi kursus privat untuk anak-anak SMA; kemana-mana naik skuter Vespa P150 S milik Bapak saya. Ibu saya bilang :” anakku wis latihan golek sego dewe” (anakku sudah mulai berlatih cari uang sendiri). Ternyata takdir menentukan bahwa cucunya juga menjalani pengalaman yang sama di usia yang nyaris sama pula🙂

 

Kalau Anda sedang bersiap-siap  atau bahkan baru menikah, carilah pasangan yang punya kecerdasan finansial. Ini sangat penting terutama kalau Anda orang seperti saya: tahunya hanya mendapatkan uang, buta sama sekali soal investasi, beternak duit, dan sebagainya. Pasangan yang cerdas secara finansial akan tahu bahwa kebutuhan utama adalah rumah. Maka dia akan berhitung dengan cermat untuk menentukan seberapa besar penghasilan,  berapa yang bisa ditabung, dan kapan dan dimana harus membeli rumah. Kalau ternyata penghasilannya tetap, maka dia akan tidak ragu untuk meminta Anda menghemat beberapa pos seperti rekreasi, makan di luar, dan nonton film atau jenis hiburan yang lainnya. Lalu pada suatu saat dia akan seolah nekad membeli rumah, bahkan ketika Anda merasa belum siap. Dia akan mendebat: “kalau tidak sekarang, kapan lagi?”. Argumennya jelas dan masuk akal: harga rumah makin tinggi, sementara nilai uang di tabungan akan makin tergerus oleh inflasi. Jadi, orang seperti ini  ekstremnya bahkan rela makan hanya dua atau sekali sehari supaya bisa membeli rumah. Itu akan makin terasa kejam di jaman dimana kita harus menyetor uang muka sebesar 20 – 30% harga total rumah baru.

 

Pasangan yang cerdas secara finansial juga akan menelisik potensi Anda yang bisa “dijual” untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Jual beli kendaraan bekas, jadi perantara jual beli rumah, atau seperti yang saya ceritakan tadi: menjadi guru kursus privat, semua akan dia pertimbangkan dan kalau perlu dia lakukan sendiri untuk menambah penghasilannya.

 

Saya jadi ingat paman saya almarhum. Istrinya juga wanita etnis Tionghoa. Suatu kali dia pernah cerita: “enak lho nduwe bojo Cino; kalau mau tahu soal kondisi keuangan, aku gari takon de’e: ‘Ling, duwitte awake dewe piye, Ling?’ dan si istri akan menjawab: “semua beres, Mas”. Hahahaha! Maafkan ungkapannya, soalnya emang paman saya itu terkenal blak-blakan dan suka guyon jadi ya gitu deh  .  . . .🙂

 

Pasangan yang cerdas secara finansial akan memaksa Anda untuk menabung. Kalau Anda periksa rekening tabungan, Anda akan sedikit kaget mendapati bahwa setiap bulan tabungan Anda dipotong oleh bank sekian ratus ribu. Itu adalah langkah strategis pasangan Anda untuk menyediakan dana ratusan juta setelah beberapa tahun menabung dengan cara dipotong begitu. Jadi, ketika nanti anak Anda masuk universitas atau ada keperluan besar lain, Anda merasa aman karena ada dana ratusan juta rupiah yang sudah jatuh tempo itu.

 

Cerdas secara finansial berarti juga menyiapkan tabungan untuk digunakan sewaktu-waktu ada kondisi darurat, misalnya sakit, kehilangan pekerjaan karena fesbukan melulu di kantor, dsb.

 

Satu lagi ciri orang cerdas secara finansial: tidak malu memburu diskon dan promo. Di gadgetnya entah gimana selalu ada notifikasi dari supermarket atau tempat belanja lain tentang diskon dan promo di berbagai tempat itu. Kalau perlu dia menjalin perkoncoan dengan mas-mas atau mbak-mbak yang bekerja di super market itu supaya bisa mendapat informasi cepat begitu ada diskon beras atau minyak goreng. Ya, harus cepat soalnya barang diskon itu biasanya terbatas sementara yang meminati juga banyak.

 

Orang yang cerdas secara finansial memanfaatkan dengan segila-gilanya semua fasilitas yang disediakan oleh fasilitas belanja seperti kartu kredit, voucher belanja, bahkan tawaran dana tanpa agunan atau dengan bunga minim dari bank-bank, dsb.  Entah gimana, dia bisa seperti punya naluri untuk mengatakan ” ok, ayo kita embat saja tawaran dana murah dari bank ini”, atau “endak ah; ini kayaknya mbo ceng li ini, ntik buntut2nya kita yang rugi”. Ya, itulah kecerdasan alami yang mungkin sulit diperoleh dari bangku kuliah.

 

Tapi orang yang cerdas secara finansial kadang-kadang juga punya kelemahan: pritungan, alias sangat menghitung setiap rupiah yang keluar masuk. Kalau sudah parah, maka ongkos parkir pun bisa dia ributkan. “Masa beli barang di toko itu hanya lima ribu, parkirnya dewe tiga rebu,”  omelnya. Maka jangan heran kalau dia anti belanja di yang namanya pake Mart Mart itu karena biasanya selain harga barangnya jauh lebih mahal daripada di tempat lain, masih ada ongkos parkir nya pula.

 

Kalau belanja, kebiasaannya berburu diskon bisa menjadi semacam “penyakit mental” karena keterlaluan. Pernah ada seseorang nyaris menolak hadiah ultah dari suaminya karena dia mendapati bahwa hadiah  yang diinginkannya di toko itu ternyata tidak sedang diskon. Sang suami pun menukas dengan tidak sabar: “ini hadiah, dogol! Lha lapa mesti nunggu sampe diskon?? Angkat!!”.

 

Akhirnya, orang yang cerdas secara finansial tidak lupa akan kesehatan mentalnya. Untuk ini, dia akan mengalokasikan dana untuk traveling, atau kalau hobinya kuliner ya menyisihkan dana untuk makan sebanyak-banyaknya mulai dari kafe Alpaka, Golden Heritage, Javanine, Haji Goreng Bebek Slamet, warung Minang,  dsb. Prinsipnya sederhana: “kalau sudah soal makan dan traveling, ndak usah dipikir pusing2 soal duitnya, yang penting happy. Duit bisa dicari dan didapatkan lagi.”

 

 

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized