Hantu jl Tumapel

Posted on April 9, 2016

2


Arema pasti tahu jalan Tumapel di Malang. Lokasi itu berdekatan dengan Balai Kota dan Alun2 Malang, dan ada Hotel Splendid Inn dan pasar bunga di dekat situ juga.

 

Boach itu masih berusia 2 tahun lebih ketika dia tinggal di jl. Tumapel no 1 bersama kedua orang tuanya. Suatu hari, entah mimpi entah tidak, dia seperti dibawa ke dekat talang air besar disitu dan disana dia melihat pemandangan menyedihkan yang entah darimana datangnya: ada serombongan orang berjalan, tua muda, besar kecil, semua dengan wajah memelas. Ada iring-iringan truk dan dari jendela truk itu tergantung sebuah tangan penuh darah. Suasananya gerah, muram, penuh kesengsaraan. Lalu bayangan itu mendadak hilang begitu saja dari hadapannya.

 

Lain waktu, dia bermain-main di Wisma Tumapel yang berupa sebuah gedung besar berlantai dua. Selagi asyik bermain bersama temannya, tiba-tiba ada suara geraman dari loteng. Si bocah dan temannya melihat sesosok tinggi besar mengerikan dengan badan tanpa kulit, hanya tumpukan urat-urat hijau mencuat dari sana sini. Sosok itu muncul di tangga, nampaknya marah karena bocah-bocah itu mengganggunya. Kontan kedua bocah itu ambil langkah seribu sambil jerit-jerit.

 

Suatu malam, tetangga depan rumah menyetel slide (yang jaman dulu diputar dengan cara meletakkan keping-keping slide di depan proyektor). Si bocah ingin sekali melihatnya, namun kedua orang tuanya melarang karena sudah malam. Si bocah diam-diam memakai jaketnya lalu nekad menyelinap keluar, menembus alang-alang yang lebih tinggi daripada badannya yang mungil, untuk bisa melihat slide itu. Bisa dibayangkan bingungnya kedua orang tuanya mendapati anak mereka hilang dari rumah!

 

Bocah itu adalah saya sendiri. Sampai sekarang kenangan tentang jalan Tumapel itu masih sangat kuat di benak saya. Bagi saya, rumah disitu adalah kenangan manis dan juga setengah menakutkan karena bayangan-bayangan dan penampakan tadi. Ayah saya menyebut rumah itu sebagai “bedak” (seperti los di pasar) saking minimnya dan rendahnya kualitas hidup disitu. Ya, waktu itu ayah saya diberi rumah dinas disitu ketika pertama kali menjadi dosen muda di IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang). Saya dan adik saya lahir dan tumbuh disitu sampai saya berusia 3 tahunan.

 

Sekarang, tak saya sangka lokasi itu menjadi tempat syuting acara-acara hantu-hantuan seperti “Masih dari Dunia Lain” di sebuah stasiun TV. Saya terus terang sedih menyaksikannya di Youtube. Ya ndak saya pungkiri bahwa lokasi itu memang tua, kuno, nyaris tak terawat, tapi mbok ya jangan dijadikan lokasi syuting acara hantu-hantuan.

 

Saya punya keterikatan emosional yang sulit dijelaskan dengan lokasi angker yang tidak menarik itu. Masuk akal, karena saya lahir dan besar disitu. Mungkin sudah separuhnya akrab dengan dunia goibnya juga. Makanya saya kaget ketika lewat disitu dan sekarang sudah mendapati lokasi itu dipagari dengan seng. Apakah akan dibangun hotel? Atau ruko? Yah, hilanglah kenangan masa kecil saya kalau itu menjadi kenyataan.

 

Seorang teman mempunyai rasa ketertarikan sangat kuat terhadap gedung-gedung kuno. Saya heran juga, di usianya yang masih muda dia kok tertarik barang kuno. Dia mengajak saya ke rumah di jalan Tumapel itu. Hmm, baiklah, saya ingin melihat seperti apa rumah itu disana sekarang.

 

 

 

Posted in: Uncategorized