Mengajar Listening Comprehension

Posted on April 8, 2016

0


Sebagai dosen bahasa Inggris, saya beberapa kali harus mengajar ketrampilan Listening Comprehension. Di Ubaya Language Center dulu, saya mengajar TOEFL iBT untuk semua bagian, termasuk tentunya Listening Comprehension ini.

 

Listening Comprehension (LC) di mata saya sungguh merupakan ketrampilan berbahasa yang sebenarnya mustahal utk diajarkan. Lha ya gimana mengajar orang lain untuk mendengarkan dan memahami? Saya tidak akan bisa dengan sangat jelas menginstruksikan kepada murid saya: “nah, ini lho, dengarkan bunyi itu; dengarkan penggalan itu; itu artinya begini bla bla bla…”. Aneh kan? Sulit pula. Itu kurang lebih mirip dengan mengajar orang untuk menikmati makanan, atau bahkan mengajar untuk bernafas.

 

Jadi, seperti yang sering saya lihat di kalangan para pengajar bahasa Inggris, ketika mengajar LC mereka pun membanjiri muridnya dengan materi menyimak sak akeh akehe. Habis satu CD selesai, diputarkan lagi CD lainnya, habis begitu ditanya-tanyai: “apa gagasan utamanya? apa inti dari berita itu? apa penyebab A? Ciri B itu seperti apa?” dan lain sebagainya. Yah, ini mah bukan mengajar LC, tapi mengetes LC🙂. Ya, memang, kalau dibanjiri dengan sekian banyak materi audio, muridnya ya akan bisa sendiri pada akhirnya walaupun dengan susah payah.

 

Tapi saya punya cara untuk lebih menumbuhkan rasa “mengajar” LC.

Satu, memantapkan pemahaman tentang topik yang akan didengarkan. Kalau topiknya tentang generasi Y dan cara mereka bekerja, saya akan mengobrol sejenak dengan murid saya tentang topik tersebut. “Kamu tahu apa itu generasi Y? Menurut kamu, kamu sebagai generasi Y bagaimana cara kamu bekerja?” dan sebagainya. Saya bahkan akan memberikan penjelasan singkat tentang beberapa konsep umum. Ini disebut tahap memantapkan  background knowledge di benak murid sehingga ketika mereka menyimak nanti mereka bisa mengaitkan dengan hal yang sudah diketahui via diskusi itu.

 

Kedua, kalau murid saya masih pemula, saya akan menyuruhnya mendengarkan materi audio sambil membaca transkripnya. Ini penting untuk membuatnya sadar bagaimana bentuk-bentuk tertulis itu diujarkan. Misalnya, ada kalimat ini: “We are expressing our concern about the increasing rate of suicide among young generation.” Sang murid akan mengetahui bagaimana masing-masing dari setiap kata itu diucapkan oleh penutur aslinya. Penting untuk mengetahui bahwa ada bagian-bagian kalimat yang perlu ditekan lebih kuat, diucapkan lebih pelan, atau dirangkai menjadi satu dengan cepat (umumnya untuk kata-kata gramatikal). Jika perlu, mereka bisa membaca transkripnya dulu sambil mendengarkan penjelasan saya tentang kata-kata yang baru.

 

Ketiga, mendengarkan. Nah, ini bagian intinya. Setelah membaca transkripnya dan membaca sambil menyimak, murid akan mendengarkan materi audio tersebut tanpa bantuan transkrip. Langkah ini lalu disusul oleh pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya menguji pemahaman dia akan materi audio tersebut.

 

Nah, tentu ada strategi-strategi juga yang mereka bisa gunakan selama menyimak, tapi tidak akan saya bahas disini karena itu adalah rahasia dapur saya, hahaha!

 

Kalau ketiga hal tadi saya lakukan berulang-ulang untuk setiap sesi LC, saya yakin murid saya akan bisa meningkatkan kemampuan pemahamannya terhadap wacana lisan.

 

 

Posted in: Uncategorized