Si Pinter dan Si Ndak Pinter di Kelas Saya

Posted on April 6, 2016

0


Semester ini saya sedang melakukan sebuah penelitian tentang hubungan pertemanan di kelas dan keterkaitannya dengan prestasi belajar di kelas tersebut. Kelas, di mata saya, adalah sebuah medan dinamis yang penuh dengan gejolak dan kegeraman tersembunyi. Kelas adalah ajang dimana seorang mahasiswa belajar di tengah tatapan mata teman-temannya, rentan terhadap rasa jengah dan enggan kalau kelihatan bodoh di mata teman-temannya, plus ajang tempat berinteraksi dengan teman-temannya yang “ngeklik” dengan gaya belajar dan kepribadiannya.

 

Penelitian saya menggunakan teknik sosiometri untuk mendapatkan data tentang jaringan pertemanan di antara mahasiswa-mahasiswa saya. Hasilnya menarik: beberapa orang yang terkenal pintar akan cenderung mengelompok, dan yang kurang pintar juga membentuk satu kelompok. Lebih menarik lagi, beberapa yang kurang pintar ini akan mengakui bahwa si pintar termasuk dalam jaringan pertemanannya, namun tidak berlaku sebaliknya. Jadi, kalau di kelas ada si Jenius dan si Lemot, si Lemot akan mengakui bahwa si Jenius adalah salah satu temannya; namun, su Jenius tidak mengakui bahwa si lemot adalah salah satu temannya.

 

Hal yang lain lagi, begitu dilihat prestasinya dari semester ke semester, terlihat bahwa kelompok yang kurang pinter prestasinya cenderung rendah terus, sementara kelompok yang pinter cenderung tetap tinggi dan bahkan meningkat. Nah, si kurang pinter yang lepas dari kelompoknya kemudian berteman dengan anak-anak pintar cenderung bisa sedikit mengangkat kinerja akademiknya. Jadi ini membuktikan satu hal: bergaullah dengan anak-anak pintar supaya dirimu ketularan pintar; dan kalau sudah merasa diri tidak pintar ya jangan terus-menerus bergaul dengan teman-teman yang tidak pintar.

 

Sampai disini masih ada kendala yang potensial menghambat: maukah anak-anak yang pintar menerima si kurang pintar dalam kelompoknya? Asal tahu aja, kalau Anda merasa pintar, di bawah sadar Anda akan cenderung meremehkan mereka yang tidak pintar dan Anda akan merasa lebih nyaman bergaul dengan teman-teman yang sepintar Anda. Bener tidaknya, ya masih bisa diperdebatkan.

 

Penelitian saya tidak berhenti sampai mengenali pola sosiometri itu saja. Nanti pada satu tahap akan ada “paksaan” dari saya untuk melakukan gerakan lintas kelompok. Si pintar akan saya paksa untuk membantu yang kurang pintar. Kriteria keberhasilannya adalah sejauh mana si kurang pintar ini mampu memahami konsep-konsep materi perkuliahan. Kalau dia masih saja gagal, akan saya salahkan yang pintar tadi: “kamu tuh kurang¬†berupaya keras untuk membantu temanmu”.

 

Saya yakin tindakan serupa ini akan membawa pada kesadaran untuk saling berbagi. Nanti kalau mereka sudah terjun ke masyarakat luas, semoga mereka masih ingat untuk tidak membentuk kelompok-kelompok eksklusif, namun mau dengan sepenuh hati mengulurkan tangan untuk membantu kelompok-kelompok masyarakat yang kurang beruntung.

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized