Jalan-Jalan ke Jepang

Posted on April 1, 2016

0


Setelah mengunjungi Korea pada tahun 2014 silam, tahun ini kami sekeluarga mengunjungi Jepang. Tulisan berikut ini adalah cerita ceriwis tentang perjalanan kami di negeri Sakura tersebut tanggal 24 – 31 Maret yang lalu.

 

Duit

Selain dengan restu Tuhan YME, bepergian ke Jepang tentu hanya bisa terwujud dengan adanya duit. Jauh hari sebelum ke Jepang, istri saya sudah dengan cermat mendeteksi pergerakan kurs mata uang dan pada saat yang pas dia beli 15 ribu Yen. Belinya di Peniti Valasindo. Waktu itu, sekitar Januari 2016 kursnya masih 1 Yen = Rp 107. Bener juga. Beberapa minggu setelah itu kursnya makin naik. Jadi apa pelajaran yg bisa ditarik? Percayailah naluri wanita kalau mau beli mata uang asing. Akan lebih baik lagi kalau wanita itu adalah istri Anda. Mwahaha!

 

Tiket JR Pass untuk sarana transportasi

Untuk turis, Jepang menyediakan layanan JR Pass, semacam tiket kereta, feri, dan transportasi darat lain untuk ke semua jurusan di Jepang. Tiket ini berharga 3.3 juta rupiah per orang untuk kunjungan selama 7 hari, dan bisa dibeli secara online di Kinekura.com jauh hari sebelum berangkat ke Jepang. Tentu saja harus scan paspor supaya bisa mendapatkan tiket sakti ini.

Nah, begitu mendarat di Narita, kita harus menukarkan tiket ini dengan tiket format lain di kantor JR Line di bandara. Harap sabar aja ya soalnya antrinya luar biasa. Saya menghabiskan waktu 1.5 jam untuk bisa menukarnya. Ini bentuknya setelah ditukar.

DSCN2097

Nah, begitu mau naik kereta di segenap penjuru Jepang, terbuktilah kesaktian tiket ini: kita tinggal cari jurusan kereta-kereta yg termasuk Yamanote Line, lalu menunjukkan tiket itu ke petugas yg biasanya berdiri di samping gerbang2 tiket. Kita akan disilakan masuk stasiun, lalu ya tinggal kita cari aja kereta ke jurusan yang diinginkan. Nanti setelah turun kereta, keluar dari stasiun ya sama aja prosedurnya: tunjukkan tiket tadi ke penjaga, dan kita akan dipersilakan keluar. Jadi naik turun kereta ndak usah mbayar.

Karena tiket JR Pass juga berlaku utk Shinkansen (kereta cepat 300 km perjam), kalau ingin naik kereta itu ya tinggal beli tiketnya di loket Shinkansen.

Tidak  semua jalur kereta dilayani oleh JR Pass. Nah, untuk yang ini kita tidak bisa menggunakan JR Pass dan harus membeli tiket langsung dari vending machine di dekat gerbangnya.

 

Sarana komunikasi

Dari tanah air, kami memesan perangkat mobile wifi yang bisa disewa. Harganya Rp 500 ribu untuk pemakaian selama 7 hari. Ini sarana penting untuk tetap bisa berkomunikasi lewat gawai-gawai yang kami bawa. Jadi, dimanapun kami bisa berkomunikasi via semua apps untuk menghubungi pemilik apartmen bahkan sampai menelpon rumah dengan gratis via aplikasi Line.

 

Setelah dipesan lewat Indonesia, wifi tersebut kami ambil di bandara Narita, tepatnya di kantor pos lantai 4. Pemasangannya sangat mudah. Dalam waktu singkat, kami pun sudah terhubung dengan perangkat wifi mobile tersebut. Nanti sewaktu mau pulang, kami harus ke kantor pos itu lagi untuk mengembalikannya sebelum terbang ke tanah air.

 

Mantel

Kalau pergi ke Jepang pada sekitar awal tahun sampai menjelang April , kita harus siap dengan pakaian penahan dingin. Kami membeli empat buah mantel bulu bebek yang tebal di Tunjungan Plaza, Surabaya, dan kaos tangan di Sarinah, Malang. Kalau Anda suka jalan, tidak ada salahnya menyiapkan dua pasang sepatu karena keliling berbagai tempat wisata saja bisa jalan jauh sekali, belum cari kereta di stasiunnya.

 

Makanan

Untuk menghemat biaya, kami membawa banyak mie instan dan roti tawar. Ini sudah cukup untuk sarapan pagi. Buat kuli macam kami (kuli flash disk maksudnya, karena kami adalah dosen), makanan itu sudah cukup untuk berjalan kaki berkilo-kilo menyusuri stasiun dan tempat wisata, kadang-kadang masih dengan beban koper dan ransel.

Makanan di Tokyo lumayan mahal untuk kantong kami. Tapi untunglah ada kedai macam Yoshinoya atau Seven Eeleven yang menjual makanan siap santap dan cukup mengenyangkan.

 

Kami berangkat dengan Garuda pukul 6 petang dari Surabaya ke Denpasar, lalu jam 12 menjelang pergantian hari, kami naik pesawat berbadan lebar Boeing 777-300 ER ke Narita. Perjalanan kesana makan waktu sekitar 7 jam. Kami mendarat di Narita Airport jam 8.45 pagi waktu Jepang (yang berarti 6.45 WIB). Suhu udara dilaporkan 5 derajad Celcius. Tiket Garuda yang kami beli adalah yang promo. Istri saya membelinya dengan harga 4.7 juta per orang pp. Kalau rajin cari iklan promo tiket pesawat dan mengunjungi Travel Fair di berbagai kota, kans untuk mendapatkan tiket ekonomis ini sangat besar.

 

Untuk pergi dari dan ke bandara Narita kami menggunakan layanan kereta NEX (Narita Express). Tiketnya seharga 8000 Yen per orang pulang pergi (kurs pada saat itu 1 Yen = 107 Rupiah). Jadi total kami membayar 32.000 Yen.

Kereta NEX membawa kami  ke stasiun Shibuya di jantung Tokyo. Kereta melewati daerah-daerah yang sekilas mirip dengan daerah pinggir rel di Malang kalau kita naik kereta ke Blitar atau Surabaya. Banyak penduduk menjemur pakaian-pakaiannya di luar sehingga berkibar-kibar di tengah cuaca yang cerah pagi itu.  Memang kelihatan tidak seperti  di Korea dulu ketika kami naik bis dan disuguhi pemandangan yang lebih elok.

 

Di kereta, kami masih mengenakan jaket biasa. Hati mulai bertanya-tanya apa iya suhu yang katanya 5 derajad Celcius itu masih tidak menggigit seperti ini? Saya tidak tahan untuk tidak nyeletuk: “ah, paling bohong tuh ramalan yang mengatakan suhunya 5 derajad. Kalau hanya segini sih masih hangat.”

 

Begitu sampai di Shibuya dan keluar kereta, baru terasa betapa bodohnya komentar saya tadi. Di luar ternyata adeeeem pol! Kami melirik gadget: 8 derajad Celcius! Yah, akhirnya pada menyerah tuh langsung memakai semua mantel bulu bebeknya :

DSCN2028

Orang-orang Jepang bersliweran di sekitar kami dengan tampang serius, cuek bebek tidak menghiraukan kehadiran kami. Yang laki-laki kebanyakan bersetelan jas dan celana panjang warna gelap, menenteng tas hitam dan bersepatu hitam pula. Yang wanita kebanyakan bermantel tebal dengan stocking hitam dan sepatu tumit tebal dan tinggi. Anehnya, semua berjalan dengan sangat cepat. Belum pernah saya melihat manusia-manusia berjalan secepat itu. Beberapa bahkan berlari menyelip-nyelip kami yang berjalan lebih lambat. Belakangan baru saya sadar bahwa memang seperti itulah gaya jalan orang Jepang: serba cepat, serba tergesa-gesa seolah-olah mau menghindar dari  serangan roket nuklir entah darimana . . . .

 

Nah, sampai disini kami mulai bingung. Email dari pemilik apartemen mengatakan bahwa setelah sampai di Shibuya, kami harus naik kereta ke Nakameguro. Lalu dari situ jalan kaki ke apartemennya. Kami tidak menemukan nama Nakameguro di papan-papan petunjuk disitu. Saking bingungnya, kami mau naik kereta ke Meguro. “Kan yang namanya Nakameguro paling ya ndak jauh dari Meguro,” demikian pikir kami. Belakangan kami sadar bahwa walaupun sama-sama mengandung kata “Meguro”, keduanya adalah daerah yang berbeda dan letaknya berjauhan!

 

Bingung dan lapar karena hari mulai siang, istri saya membeli makanan seadanya di sebuah kios dan kami nekad makan di stasiun. Makanan Jepang yang paling disuka anak-anak saya adalah sushi, sementara saya dan istri sangat tidak doyan karena rasa amisnya. Jadilah mereka makan sushi sementara saya sendiri bahkan sampai lupa apa yang saya makan siang itu, hahaha!

 

Istri saya terus mencoba menanyakan lewat Line kepada si pemilik apartmen jalur yang harus kami tempuh. Si pemilik hanya mengatakan “ambil aja Tokyo Tokuya Line”, dan setelah itu membisu karena dia juga pasti bingung sendiri kenapa tamunya bisa tersesat ndak karuan kayak gitu.

 

Entah gimana kami akhirnya menyeret kedua koper besar kami ke bawah dan sampai disuatu gerbang yang salah satunya bertuliskan “Tokyo Line”. Ketika saya mencoba bertanya kepada seorang pria yang kelihatan tergagap-gagap bahasa Inggrisnya, mendadak muncul seorang wanita sekitar 25 tahunan yang langsung mengambil alih dan dengan bahasa Inggris yang sangat fasih menjelaskan kepada kami rute yang harus kami tempuh. Dia memimpin kami berjalan menuruni beberapa puluh anak tangga (bisa dibayangkan sulitnya menyeret dua koper ukuran besar menuruni anak tangga). Sampailah kami di platform rel dan si wanita itu menyuruh kami masuk ke kereta sambil berkata kepada saya “ini lihat, habis ini dua stasiun lagi dan kamu akan sampai di Nakameguro.” Saya pun mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada dia.

 

(Belakangan kami baru merasa agak aneh dengan kehadiran si wanita ini. Samar-samar saya ingat dia tuh ndak jelas muncul dari mana; anak saya bilang bahwa setelah kereta di depannya lewat, dia tidak melihat lagi si wanita ini yang tadinya berdiri di platform. Malamnya, eh, mendadak dia muncul lagi di tengah kerumunan orang dan melihat kami dan bertanya sekilas “is everything okay?”, sebelum menghilang lagi di tengah kerumunan orang).

 

Kami sampai di Nakameguro menjelang jam 5 sore. Lagi kami berjalan menyusuri trotoar mencoba mengikuti peta yang sudah disediakan via email oleh si pemilik apartemen. Ternyata sulit juga ketemunya, hadeeeh! Padahal badan sudah mulai menggigil menahan udara dingin dan angin dingin. Lalu bertanyalah kami kepada Koban (polisi), yang dengan bahasa Inggris terpatah-patah dan lucu menjelaskan kepada saya bahwa letak apartemen itu ndak jauh dari situ. Nah, ketemulah akhirnya apartemen sialan itu. Ketika melihat bentuknya, kami langsung berpikir “iki gak salah tah? Iki apartemen opo gudang barang?”. Lha coba lihat pintunya aja kayak gini:

 

DSCN2040

Ternyata setelah dibuka, dalamnya tidak seperti gudang. Cukup nyaman, walau kecil. Ini fotonya:

DSCN2033

Jadi untuk tidur tersedia futon, sejenis matras dengan selimut hangat yang diletakkan di lantai. Itu tuh yang di foto kelihatan berwarna coklat di lantai. Ada dapur dengan microwave, wifi lancar jaya, pemanas ruangan, dan kamar mandi berbathtub dan kamar kecil dengan wc yang canggih:

DSCN2039

 

Lha iya, canggih kan? WC aja ada tombol-tombolnya kayak gitu. Emang apa aja sih ya fungsinya? Kalau di Indonesia kan pokok ada bolongan dan air ya sudah beres to, jadilah wc. Lha ini? Wow, apa itu yang tombol merah? Jangan-jangan itu tombol kursi pelontar untuk melontarkan diri keluar dari wc kalau ada gempa, hahahaha! Yang jelas, tutupnya tuh terasa hangat kalau diduduki. Nyaman sungguh.

 

Apartemen rasa gudang ini kami sewa selama 3 hari 3 malam dengan biaya Rp 4.5 juta.

 

O, ya, saat itu ternyata bunga Sakura sedang pada mekar. Ini fotonya:

 

Kata seorang rekan yang sudah pernah kesini, musim bunga Sakura mekar selalu ditunggu. Bunga ini memang cantik. Bahkan penduduk Jepang pun kelihatan rame berfoto di depannya.

20160325_150135

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Shinjuku

Setelah istirahat sebentar, jam 630 petang kami jalan lagi ke stasiun Nakameguro untuk ke Shibuya lalu ke Shinjuku. Kali ini naiknya bukan dengan kereta JR Pass, jadi harus membeli tiket dari vending machine. Kami harus dibantu petugas disitu untuk membeli tiket karena hurufnya Kanji semua. Harganya 130 Yen untuk dewasa dan sekitar 90 Yen untuk anak-anak.  Setelah membeli, tiketnya dimasukkan ke gerbang otomatis, langsung dibolongi disitu dan keluar secepat kilat di ujung satunya. Tiket itu harus disimpan karena nanti akan digunakan untuk keluar dari stasiun dengan cara yang sama lewat gerbang otomatis.

 

Saya membayangkan daerah Shinjuku yang terkenal itu seperti Malioboro di Yogya atau Myongdong di Korea Selatan. Ternyata yang kami temui hanyalah deretan toko-toko barang branded dan beberapa kafe di bawah beton-beton stasiun. Kami makan di sebuah kafe, namanya Café Lule. Harga makanannya tidak terlalu mahal, sekitar 300 an sampai 500 an Yen, dan enak pula. Beberapa hari kemudian kami akan tahu bahwa yang namanya pusat keramaian di Shinjuku itu bukan disitu, tapi masih terletak agak jauh dari situ. Dari kereta memang kemudian terlihat denyut Shinjuku yang sebenarnya di malam hari. Lampu reklame gedung gemerlapan dengan silhuet sekian ratus manusia hilir mudik di bawahnya.

 

Bicara tentang huruf, tentu saja kami langsung buta huruf di negara yang sebagian besar tulisannya dalam huruf Kanji tersebut. Jadi gimana, masa tiap kali mau naik kereta harus dibantu petugas? Ternyata tidak. Si bungsu diam-diam sudah merekam tombol-tombol yang ditekan oleh si petugas ketika kami dibantu. Kali berikutnya, dia dengan cepat menekan sendiri tombol-tombol di vending machine itu untuk membeli tiket kereta. Yah, generasi milennial memang lahir dengan kemampuan digital seperti itu dalam DNA mereka (si bungsu lahir th 2003).

 

Si sulung lain lagi kemampuannya. Karena menyukai budaya Jepang dan Korea, dia belajar sendiri bahasa tersebut ketika masih SMA. Akibatnya, dia bisa sedikit-sedikit membaca huruf-huruf Kanji di stasiun, dan itu sangat membantu kami untuk mencapai tujuan yang benar.

 

Keesokan harinya baru kami bisa menemukan lokasi patung Hachiko, si anjing legendaris Jepang yang terkenal karena kesetiaannya menunggu tuannya pulang di stasiun Shibuya sampai akhir hayatnya. Karena saya ndak begitu suka anjing, maka yang saya suruh berpose adalah si sulung dan si bungsu:

 

IMG00633-20160327-1213-1

 

 

 

Penduduk Jepang terkesan cuek, mahal senyum, dan tidak banyak bicara bahkan di antara mereka sendiri. Di kereta tertulis pengumuman: “jangan bicara di ponsel kalau sedang naik kereta”. Kalau berjalan di eskalator, kita harus mepet ke sisi kiri karena sisi kanan adalah untuk orang yang sedang terburu-buru yang biasanya akan setengah berlari. Tapi di Osaka sebaliknya: kita yang lambat harus mepet sebelah kanan karena yang kiri untuk orang yang terburu-buru. Lucu ya?

Orang Jepang juga suka bersepeda. Mereka bersepeda mengantar anak balitanya sekolah, atau bahkan pergi kerja. Bahkan para polisi pun bersepeda. Di hawa dingin antara 5 – 14 derajad Celcius tentu saja itu adalah kegiatan yang sangat menyenangkan.

DSCN2046

Wanita Jepang di penghujung musim dingin berpakaian seperti yang foto di atas itu.  Kebanyakan berkulit kuning, halus, dengan mata lebar tidak seperti wanita Tiongkok atau Korea. Hidungnya mancung, konon sih memang aslinya demikian, bukan karena dioperasi plastik. Stockingnya selalu hitam. Itu pilihan yang tepat karena pas betul dengan overcoat mereka yang coklat muda, dan dengan kulit mereka yang terang. Oh, how I love black on women! Jadi dari atas ke bawah bagus semua, kecuali . . . .sepatunya. Tuh lihat di foto bawah ini, sepatunya tuh dengan hak tinggi dan tebal kayak gitu.  Ya kalau di mata saya itu bikin agak ancur sih, hahaha!

DSCN2084

Soal bahasa, orang Jepang memang payah kemampuan bahasa Inggrisnya. Beberapa petugas stasiun bahkan hanya menggerakkan tangannya ke arah yang dia maksud, ndak perduli pertanyaannya bukan “where” tapi “how” atau “when”. Beberapa yang bisa juga terbatas sekali pemahamannya dan terutama pengucapannya sehingga beberapa kali kami bingung sendiri apa yang mereka maksud.

 

Yang jelas, mereka sopan dan tertib. Di sebuah website saya baca bahwa bangsa Jepang memang bangsa yang sopan, saking sopannya mereka jadi kelihatan agak dingin dan terkesan menjauh. Yang jelas, mereka nampak senang sekali  kalau saya mengucapkan terima kasih dengan mengatakan “arigato gosaimas” sambil membungkukkan badan. Mereka akan tersenyum lebih lebar dan membalas dengan membungkukkan badan juga.

 

Soal ketertiban juga begitu. Ndak pernah ada orang menyerobot lampu lalu lintas disini. Kami sempat tertawa geli melihat betapa beberapa orang Jepang dengan sabar menunggu lampu berganti hijau, padahal saat itu tidak ada mobil sama sekali yang melintas dan jalan yang mau diseberangi juga hanya 5 meteran.

 

Danau Kawaguchi

Hari berikutnya kami pergi ke Danau Kawaguchi. Dari stasiun Nakameguro ke Shibuya, lalu ke Shinjuku, dan membeli tiket ke Otsuki. Sampai di Otsuki jam 230 sore, dan membeli tiket ke Kawaguchi dengan harga 1140 Yen.

 

Lake Kawaguchi ternyata tidak seindah bayangan saya. Ini mah kayak Bendungan Karangkates aja di Indonesia. Kata istri saya sebenarnya dari situ bisa melihat Gunung Fuji, namun karena sore itu agak mendung jadi pandangan ke gunung elok itu pun terhalang.

DSCN205220160326_141131

Di sepanjang jalan di dekat danau ada banyak toko makanan dan suvenir. Salah satu yang sempat saya rekam adalah toko kue-kue kering ini: Fujiyama Cookies.  Kuenya enak, tapi mahaaal, bok! Lho kok tau kalau enak? Ya karena kami mencicipi tasternya doang, hahaha!

DSCN2053

 

Jadi kalau sempat mampir kesini, Anda jangan lewatkan toko yang ini. Enak sungguh kue buatannnya. O ya, ada restoran Indonesia juga disini. Namanya Alibaba, 100 persen halal!

 

Harajuku

Hari berikutnya kami pergi ke Harajuku. Ini daerah anak muda dan tempat cosplay. Pas ada aktor entah darimana sedang datang mengunjungi tempat itu dan tak ayal dia dielu2kan oleh penduduk lokal. Jalan yang terkenal disana adalah Takeshita Street. Ini gambarnya dengan orang uyel-uyelan disana sini:

IMG00641-20160327-1325

Nah, di jalan Takeshita ini ada sebuah toko bernama Daiso yang menjual aneka macam barang dengan harga maksimal 100 Yen. Pantas tokonya penuh sesak. Si bungsu mendapatkan sebuah headphones made in Japan yang sangat enak suaranya disitu:

IMG00640-20160327-1252-2

Jadi, kalau ke Harajuku, jangan lupa mampir ke Daiso dan beli oleh-oleh atau barang-barang lainnya.

 

 

Disneysea

Dari Harajuku kami lanjut ke Disneysea. Ini semacam arena hiburan di dekat Disneyland. Kami tidak lagi pergi ke Disneyland karena si bungsu yang paling muda pun sudah 13 tahun. Masa iya masih mau naik drenmolen atau gajah-gajahan terbang, bwahaha! Dari Shinjuku kami ambil Yamanote Line ke Tokyo dan dari situ naik Keio Line ke Maihama, lalu naik shuttle ke jalur kereta api yang selanjutnya membawa ke Disneysea. Semua petugasnya melayani dan menyapa penuh senyum karena memang ini adalah lokasi mimpi indah kanak-kanak:

 

Disneysea mengunggulkan banyak sekali wahana permainan seru yang beberapa berhubungan dengan air dan laut. Di pintu masuknya adalah bangunan-bangunan hotel dengan lahan yang luas tempat anak-anak berlarian dan orang  tuanya sibuk mengambil gambar kesana kemari:

 

20160327_163820

20160327_164924DSCN2062

IMG00646-20160327-1649

Di puncak bukit ada sebuah gunung buatan yang makin petang makin menyala dengan suara gemuruh kawahnya dan jilatan apinya. Ada semacam wahana sejenis roller coaster yang melewati kawah tersebut dengan suara gemuruh. Kami tertarik untuk mencobanya tapi melihat antriannya yang sepanjang Sabang sampai Merauke akhirnya batal.

 

Menjelang jam tujuh petang ada semacam pegelaran di kolam dekat pintu masuk. Kami beruntung masih bisa menyaksikannya walaupun pada saat itu sudah dalam perjalanan mau pulang. Kombinasi musik, narasi, permainan cahaya, kembang api plus animasinya membuat semua yang nonton puas.

 

Semakin malam, semakin mempesona Disneysea ini. Di bagian bawah, kita memasuki semacam gua dan berakhir di sebuah lokasi penuh dengan figur lautan dengan lampu-lampu menyalakan suasana surealistik alam mimpi.

20160327_165155

20160327_160014

Bagian depannya berupa sebuah taman luas yang sungguh elok ketika malam menjelang dan cahaya lampu memicu sensasi teduh, hangat, sekaligus antusias:

 

20160327_173214

 

 

 

Osaka

Hari Selasa kami pergi ke Osaka. Dari Nakameguro kami ke Shinagawa  untuk menaiki kereta cepat Shinkansen.

Untuk bisa naik Shinkansen dengan JR Pass, kita harus membeli tiket dulu di loket Shinkansen dengan menunjukkan JR Pass kita.  Setelah dapat tiket dengan bentuk lebih kecil, kita pun bisa langsung naik kereta cepat itu ke berbagai kota yang jaraknya sampai ratusan km dengan waktu tempuh sekitar 2-3 jam. Enak to?

Keretanya sendiri sangat nyaman. Ini bagian dalamnya:

20160328_144609

 

Dulu ketika pertama kali mendengar Shinkansen yang berkecepatan 300 km/jam, saya bayangkan penumpangnya pasti rambutnya kocar kacir dan bibirnya mleyot2 karena saking cepatnya (kayak naik roller coaster tu lho); ternyata setelah naik sendiri, bayangan itu hilang. Di dalam sangat nyaman, sementara yang menunjukkan bahwa kereta itu ngebut gila adalah pemandangan di luar yang wuzz wuzz. Saya tidur melulu di kereta saking nyamannya.

 

 

Di stasiun Shinagawa inilah kami nyaris terdampar mengenaskan. Ceritanya, kami harus menitipkan dua koper besar kami di locker stasiun itu karena setelah kembali dari Osaka kami tidak lagi menginap di Nakameguro tapi pindah ke sebuah apartemen lain di Shinjuku. Nah, ternyata semua locker sudah penuh. Kami keliling stasiun, berharap ada locker yang masih kosong, tapi nihil. Tidak terbayangkan harus ke Osaka dengan menenteng koper-koper besar itu. Bisa patah pinggang saya menyeret-nyeretnya sepanjang jalan. Akhirnya kami sudah tidak tahu harus bagaimana.

 

Saya dan si bungsu duduk di depan deretan locker, termangu-mangu. Sekilas saya lihat ada seorang pria Jepang dengan pakaian teknisi memeriksa semua locker. Cuek bebek, seperti biasa. Lalu tanpa disangka-sangka dia mendekati saya dan bercakap dalam bahasa Jepang. Sekalipun saya tidak tahu blas artinya, saya tahu maksudnya: “kamu lagi cari locker untuk kopermu yng ukuran besar kan? Ayo, ikuti saya, disana mungkin ada yang masih tersisa.” Kami pun mengikutinya sampai ke deretan locker lainnya. Sontak wajahnya berseri2 ketika mendapati masih ada satu locker yang tersisa. Dia langsung menyuruh kami memasukkan satu koper  ke dalamnya, dan menunjukkan bagaimana cara membayarnya (memasukkan koin 600 Yen) dan menguncinya. Saya ucapkan “arigato gosaimas” berkali-kali sambil membungkukkan badan dan dia membalas dengan santun.

 

Nah, sampai disini keluarga saya mengusulkan gimana kalau barang-barang di koper satunya dipindah ke koper yang sudah di locker itu, supaya lebih ringan. Tanpa pikir panjang mereka pun membuka kembali kuncinya, mengeluarkan koper tadi, lalu memindahkan barang ke koper itu supaya koper satunya lebih ringan. Begitu locker sudah ditutup, mau dikunci, ternyata ceklek! Kuncinya macet, ndak bisa ditarik. Rupanya tindakan membuka tadi dianggap sudah mengakhiri layanan penitipan di locker tersebut.

 

Kami pun bingung lagi. Istri saya langsung lari ke bagian informasi untuk minta tolong, sementara saya menjaga koper itu. Tinggal beberapa menit lagi kereta Shinkansen ke Osaka berangkat. . . .

 

Mendadak pria teknisi yang baik hati tadi muncul kembali, dan dia langsung tahu dari penjelasan saya bahwa ada masalah lagi dengan turis-turis Indonesia katrok ini. Bergegas dia buka kunci serepnya, membuka locker tadi, dan bebaslah koper tersebut. Istri saya muncul disertai seorang staf wanita yang dengan cekatan turut membantu. Tidak hanya sampai disitu; bapak teknisi tadi kemudian menemukan satu lagi locker yang terbuka, pas dengan ukuran koper besar kami. Menjelang menit-menit terakhir keberangkatan Shinkansen, kami bisa melenggang bebas dengan dua koper besar kami tersimpan aman di locker. Saya haturkan ucapan “arigato gosaimas” berkali-kali kepada mereka berdua. Siapa  sih ya mereka itu dan kenapa bisa muncul pas di saaat-saat genting seperti itu? Ndak  tahu juga; saya hanya percaya pada apa yang selalu dikatakan istri saya ketika sedang berjalan-jalan di luar negeri: “selalu ada malaikat-malaikat penolong untuk kita.” Lalu apa dong pelajaran buat saya pribadi: “jangan pernah enggan menolong orang lain, because it feels good to do good.”

 

Sampai di Osaka sekitar 3 jam kemudian, kami masih harus naik kereta lagi ke Namba, dan setelah itu ke Uehomachi. Sampai di stasiunnya, kembali kami harus berjuang mencari Wafu Ryokan, apartemen tempat kami akan bermalam. Google Map menunjukkan dengan tepat lokasinya (walaupun kami masih harus keliling pating mblasur karena pembacaannya ndak akurat). Sampailah kami di tepi jalan kecil di depan sebuah bangunan kantor. Google bilang: “dah, kamu dah sampai!”. Sampai gundulmu! Mana itu penginapan Wafu Ryokan?? Yang kami lihat adalah kantor berteralis kayu dengan tulisan “Japan Wedding Package” di dindingnya. Masa iya ada apartemen di tempat orang mau nikah?? Kami cari lewat Picturenya Google, dan gambar menunjukkan ada sebuah ornamen di latar depan dan di belakangnya ada pintu kaca berteralis. Kamipun makin pusing dah . . .

 

Di tengah-tengah kegalauan itu, si bungsu dengan cuek melirik sekilas gambar itu, dan beberapa saat kemudian nyeletuk sesuatu yang sungguh membuat saya terbengong: “ya ini tempatnya. Foto di Google itu diambil dari dalam kantor!”

 

20160328_203919

Kami lihat lagi lebih cermat. Dia benar! Ternyata foto Wafu Ryokan itu diambil dari dalam gedung kantor, bukan dari luarnya! Jadi dua hal membuat saya heran: pertama, bagaimana mungkin si bungsu yang seolah ndak mikir tadi bisa langsung sampai pada kesimpulan bahwa fotonya diambil dari dalam, dan  kedua, kok ya tuolol orang Jepang itu mempromosikan kantornya dengan memasang foto yang diambil dari dalam kantor, bukan dari luarnya! Ya sekarang bayangkan ginilah: Anda punya sebuah café baru di jl. Semeru; lalu Anda foto dari dalam kafe, lalu Anda pasang foto itu di website, mengharapkan orang yang datang dari arah luar untuk segera mengenalinya. Mustahal, bukan? Hahaha!

 

Wafu Ryokan sendiri adalah penginapan khas Jepang yang tidurnya di lantai dengan futan. Tarifnya Rp 1.7 juta semalam.  Ini bagian interior dalamnya. Semuanya serba minimalis tapi sangat nyaman dan fungsional:

20160328_192628

 

Tapi waspadalah kalau Anda termasuk berukuran tinggi besar. Kamar mandinya jadi satu dengan wc dan kecil soro. Anda bisa terjepit di lubang kakus kalau ndak hati2 waktu mandi, bwahaha!

 

Di sebelah Wafu Ryokan ada restoran ramen yang cukup ekonomis dan lezat pula. Cukup dengan anggaran 500 – 800 Yen bisa mendapatkan makanan ramen yang lezat abis. Tapi maaaf, semuanya babi.

20160328_205125

 

Osaka Castle

Pagi harinya kami melanjutkan ke Osaka Castle. Kami ke stasiun Kantetsu dan mengambil Tanemachi line untuk sampai ke dekat Osaka Castle.

 

Osaka Castle sendiri didahului oleh semacam taman tempat kongkow dengan sungai sangat lebar di depannya. Di atasnya terbentang jembatan Tanemashi. Nyaman sekali duduk-duduk disitu sambil bercanda dengan burung-burung merpati dan menikmati pemandangan:

12524234_1371922556167167_5089867170983235144_n

20160329_114554

12932860_1371922326167190_571645879607437282_nDSCN2072

Nah, Osaka Castle adalah sebuah benteng yang dikelilingi oleh tembok batu sangat kokoh, yang dilingkari sungai dan danau kecil. Bunga Sakura yang sedang mekar menjadi latar depan bangunan kuno di benteng itu, sangat menawan:

DSCN2083

 

12923328_1371922362833853_7510137812495163745_n

Si sulung di depan Osaka Castle

 

Di kompleks benteng itu sendiri banyak orang berjualan panganan yang enak-enak. Ini salah satu contohnya: yang depan itu babi bakar, yg tengah cumi, dan belakang sendiri itu ayam kalo ndak babi, ah, lupa dah yang penting lejjaat, hahaha:

12923291_1371922516167171_8349521315595507840_n

 

Taman luas di depan Osaka Castle menjanjikan kenyamanan tersendiri untuk warga yang mau momong anak, atau jogging di sekitarnya. Di latar belakang ada beberapa gedung dengan arsitektur unik:

20160329_123744

 

 

O ya, sedikit komentar tentang penginapan Wafu Ryokan yang aneh tadi. Ternyata kantor itu memang untuk persiapan calon pengantin. Anehnya, sepanjang hari kami disana ndak ada satu orang pun yang masuk untuk tanya ini itu tentang paket pernikahan. Jangankan pelanggan, stafnya pun ndak ada, jadi kalau mau manggil harus telpon dulu ke extension 25 dan dia akan lari dari belakang entah dari mana. Konon sih Jepang juga termasuk negara yang mengalami penyusutan populasi. Kaum tuanya makin banyak, sementara kaum mudanya makin ogah menikah dan ogah punya anak. Kok ya bisa beda banget ya dengan negeriku sendiri?

 

Hari itu juga kami pulang ke Shinagawa naik Shinkansen, mengambil koper kami di locker stasiun, dan kembali naik kereta ke Shinjuku, terus ke Shin-Okubo. Ini adalah nama tempat dimana kami akan menginap di apartemen yang lain lagi.

DSCN2094

Kami dijemput oleh Kim, seorang pria Korea yang sudah 20 tahun di Jepang, dan diantar sampai ke apartemennya. Dari stasiun Shin-Okubo, jaraknya sangat dekat. Apartemen itu adalah yang terbagus yang kami lihat sepanjang perjalanan kami. Luas, lengkap dengan ruang tamu, satu kamar tidur dengan master bedroom untuk dua orang/pasangan suami istri, dan satu kamar tidur lagi yang menampung 2 buah ranjang susun. Jadi bisa muat 6 orang. Ada wifi, komputer terkoneksi Internet, meja makan, dan dapur. Tarifnya Rp 1 juta 750 rebu aja semalam:

20160329_20342520160329_203446

 

Di dekat apartemen ada banyak tempat makan tidak mahal. Ada yang menyajikan masakan Korea, India (kebab), dan Jepang. Ada juga semacam toko yang menjual berbagai macam sayuran dan buah-buahan.

DSCN2085DSCN2096DSCN2095

 

 

Plus masih ada toko semacam Seven Eleven dan Yoshinoya. Yang terakhir ini juga bisa ditemui di Malang, di mall semacam MOG atau Matos. Hari kedua sampai berikutnya kami makan berturut-turut di Yoshinoya terus. Kenapa? Ya karena si bungsu ngotot mau makan disitu, sementara saya sebenarnya ingin cari tempat makan lain. Nah, ini gambar si bungsu yang mabuk Yoshinoya, hahaha:

 

DSCN2091

 

 

Kyoto: anggun tapi . . .

Hari keenam kami pergi ke Kyoto. Dari stasiun Shin-Okubo kami naik Yamanote Line ke Shinagawa, lalu dari situ pindah ke kereta Shinkansen jurusan Osaka mampir di Kyoto. Shinagawa – Kyoto ditempuh 3 jam dengan Shinkansen.

Kami pergi ke Kamidezu Temple naik bis kota. Ini kuil yang eksotis dengan warna oranye mendominasi dengan aksentuasi bunga Sakura yang sedang mekar.

20160330_152842

 

Dari bus stop, masih ada jalan mendaki sekitar 300 an meter sampai ke kuilnya. Lumayan capek juga naiknya. Beberapa orang menyempatkan diri menyewa pakaian tradisional Jepang. Saya sempat memotret dua diantaranya. Mahasiswa saya tanya lewat socmed: ‘karena cantik ya, pak?’. Saya jawab: ‘bukan, tp karena gejalanya menarik: berpakaian Jepang kuno tapi pegang gadget’.🙂

20160330_153305

 

Nah, pulangnya ke stasiun naik bis kota juga. Tapi alamak, bis kotanya lama karena selalu penuh, dan setelah naik pun sopir masih berhenti memungut penumpang. Akibatnya di dalam kami berjejalan macam ikan sarden. Disini baru terasa jeleknya sistem transportasi di Kyoto. Kalau berjubel2 gini mah di Jakarta udah saben hari tuh. Ini Jepang gitu loh!

 

Pulang

Seminggu di Jepang, akhirnya kami pulang ke tanah air pada hari Kamis, akhir Maret 2016. Dari apartemen Shin-Okubo, kami naik kereta ke Shinjuku, lalu dari sana kembali naik NEX ke Narita untuk mengejar pesawat Garuda ke Denpasar jam 11 siang waktu setempat. Jam 10 malam WIB kami sampai dengan selamat di rumah kami di Malang.

 

Apa yang berkesan dari perjalanan ke Jepang? Selain pemandangan alam dan hawa dinginnya yang mempesona, kami menikmati perjalanan tegang-tegang santai akibat kedungsal-dungsal hampir setiap hari dalam upaya kami ke berbagai tempat. Menurut gadget, setiap hari kami berjalan kaki menempuh jarak rata-rata 12 km. Capek, sih, tapi menyehatkan, karena bukankah manusia memang didesain untuk berjalan dan bukan hanya duduk di kantor.

 

Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat buat yang mau pergi ke Jepang dan tidak keberatan mengalami sedikit petualangan. Kalau Anda ikut tur, ya sudah ndak usah dibaca ini tulisan karena memang pengalaman bepergian sendiri dengan modal nekad akan terasa lain dengan yang ikut tur.

 

“Haik! Arigato gosaimas!”

DSCN2092

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized