Wanita, Pria, dan Orang Indonesia

Posted on March 22, 2016

2


Wanita, Pria, dan Orang Indonesia

 

Kelas Discourse Analysis dua hari yang lalu. Kami membahas tentang gejala naturalisasi, yaitu bagaimana bahasa membentuk semacam mindset di pikiran massa dengan sebegitu kuatnya sehingga ada hal-hal yang dianggap lumrah tanpa dipertanyakan lagi. Contohnya adalah pembagian peran pria wanita di buku-buku ajar: ‘Ayah bekerja di kantor, dan Ibu memasak di dapur’. Kita sudah menganggap hal ini sebagai sesuatu yang natural, yang sudah lumrah, tanpa pernah menggugat: ‘ kenapa wanita harus bekerja mengurus rumah sementara pria boleh bekerja?’.

 

Saya bertanya kepada para mahasiswi: ‘siapa yang setuju dengan pandangan tersebut?’. Mereka nampak berhasrat menjawab tapi masih sungkan-sungkan. Ada yang akhirnya mengatakan bahwa dia melihat saya sebagai figur modelnya: ‘bapak bekerja disini, dan istri bapak juga bekerja. Jadi saya setuju bahwa wanita juga sebaiknya bekerja. Kan juga banyak dari mereka yang lulus sarjana bahkan pasca sarjana?’ Yang lainnya akhirnya memberanikan diri menyentuh masalah ekonomi: ‘sebaiknya wanita juga bekerja untuk membantu keuangan keluarga, pak’.

 

Lalu saya tantang dengan satu pertanyaan: ‘ada ndak dari kalian para wanita yang merasa bahwa mencari nafkah adalah pekerjaan pria, dan wanita sebaiknya memang ndak usah kerja karena rumah tangga dan anak perlu diurus?’ Nah, semua diam. Tapi saya melihat dengan jelas sekali bahwa sebagian di antara mereka hamil. Hamil dengan pendapat yang ditahan kuat-kuat dan akhirnya digugurkan karena sungkan, takut dipandang aneh, takut diketawakan. Kenapa ndak berani terus terang ya, padahal sudah berkali-kali saya katakan ‘saya tidak menilai jawaban kalian. Just say whatever you have in mind’.

 

Giliran para pria yang saya tanya pendapatnya. Eh, mereka kontan saling menunjuk: ‘si Anu aja, pak! Si B aja, pak! Si C aja!’

 

Ini adegan paling saya benciiiii di kelas yang saya ajar. Akhirnya saya tidak tahan untuk berkata nyinyir: ‘kalian jangan gitu, dong. Kalian tuh pria, jangan ngacir dan malah saling tunjuk ketika diminta berpendapat. Itu tidak jantan. Itu pengecut namanya. Ini khas orang Indonesia!’

 

Pria-pria muda sialan itu masih cengar cengir, sementara ada temannya, seorang mahasiswi, yang langsung menutup mukanya begitu mendengar kata-kata saya yang terakhir. Mungkin dia malu sekaligus merasa getir mendengar ungkapan tanpa tedeng aling-aling itu dari dosennya.

 

Tapi nampaknya begitulah orang Indonesia. Ndak usah di S1 atau di kalangan mahasiswa, di kalangan para dosen atau mahasiswa pasca sarjana pun saling tunjuk seperti itu nampaknya sudah menjadi kebiasaan.

Menyedihkan.

 

Kembali pada isu pria wanita tadi. Tak ada satu mahasiswa pun yang mengatakan bahwa wanita itu tidak usahlah ikut-ikut kerja. Cari nafkah adalah tanggung jawab dan tugas pria. Lho, ada kok contoh nyatanya yang seperti ini.

 

Pendapat Anda bagaimana? 

Posted in: Uncategorized