Ibuku Hebat

Posted on March 15, 2016

0


“Ibuku seorang kapiten”.

Oh, bukan, salah, itu kan terbawa lagu “Aku Seorang Kapiten”, hahaha! Ibu saya seorang pensiunan dosen. Namun sekalipun beliau “hanya” lulusan S1 dan sudah pensiun pula, di mata saya Ibu saya adalah sosok yang hebat.

Dulu ketika belum menikah Ibu bekerja di BRI. Setelah menikah, sempat jadi ibu rumah tangga selama beberapa tahun. Ketika sudah melahirkan adik saya yang bungsu, rupanya beliau merasa haus ilmu sehingga memutuskan untuk melanjutkan kuliah di IKIP Malang (sekarang namanya Universitas Negeri Malang) di Fakultas Ilmu Pendidikan. Saya masih ingat menjelang petang sekitar jam 7 malam, saya dan adik-adik menunggu Ibu pulang kuliah di depan rumah. Waktu itu kami semua gembeng pol dan mbok-mboken (bhs Jawa, yg artinya “manja ke ibu”); kalau Ibu pergi agak lama terus kangen dan maunya  Ibu segera pulang. Kalau ndak pulang-pulang ya terus ada aja yang nangis, hahaha ! (saya tidak akan mengaku bahwa yang paling sering nangis justru saya).

 

Saya dekat dengan Ibu saya walaupun karena nakalnya Ibu saya pernah nyaris mengusir saya dari rumah. Ceritanya demikian: waktu itu ada kue donat di lemari. Ibu berpesan mewanti-wanti melarang kue itu dimakan karena besok akan disuguhkan tamu. Dasarnya bandel, siang-siang saya buka lemari diam-diam dan saya sikat dua potong. Sorenya Ibu tahu “tindakan kriminal” putra sulungnya dan Ibu marraaaah besaar kepada saya. Saking marahnya, Ibu menyuruh saya keluar rumah dan pergi. “Pokoknya keluar, pergi kamu!” katanya. Saya pikir Ibu pasti guyon karena masa iya tega mengusir anak lelaki semata wayang. Ternyata tidak. Ibu serius karena langsung membuka pintu dan mendorong saya keluar. Yaah, saya pun jalan keluar sambil bingung ini terus mau kemana? Tamat dah riwayatku dimakan gendruwo. Ternyata begitu sampai jembatan di depan rumah, Ibu memanggil saya kembali. Rupanya marahnya mulai reda. Apakah setelah itu saya kapok mengambil kue tanpa seijin Ibu ? Ternyata tidak. Hahahaha!

 

O, ya,. setelah kuliahnya selesai, Ibu berkarir sebagai dosen di Jurusan Bimbingan Konseling. Entah gimana, pada satu kurun waktu banyak orang luar kampus yang mengenalnya sebagai konselor, dan beberapa dari mereka pun datang untuk meminta bantuan konseling atas berbagai masalahnya. Ada yang anaknya minggat, ada yang anaknya lemah di sekolah, ada yang sulit tidur karena cemas terus, wah macam-macam lah pokoknya. Ibu tidak pernah memasang tarif karena memang bingung mau ditarik bayaran berapa. Akhirnya orang-orang itu memberi berbagai macam kepadanya; ada yang kasih kue, ada yang kasih kain, dan sebagainya.

 

Menjelang usia pensiunnya, Ibu mulai rajin menulis buku. Setiap hari saya terbiasa melihat beliau duduk di depan komputer dan mengetik naskah bukunya selama berjam-jam. Waktu itu masih menggunakan program Wordperfect. Kalau ada kesulitan, Ibu minta tolong saya. Suatu ketika pernah karena saya masih  tolol dalam hal komputer, naskah yang sudah berlembar-lembar ditulisnya hilang begitu saja dari hard disk setelah saya menekan beberapa tombol. Maksud hati mau membantu apa daya salah tekan kunci jadi nangislah kami berdua, hahaha!

 

Sekalipun bukan Doktor atau bahkan Profesor, ternyata buku-buku yang ditulis Ibu larisnya melebihi buku-buku yang ditulis suami dan anak sulungnya. Saya kan juga nulis buku, terbit tahun 2001, sementara Ibu saya sudah nulis beberapa tahun sebelumnya, dan ayah saya juga nulis sesudah saya. Suatu ketika, Ibu mendapat surat dari penerbit yang isinya mengabarkan bahwa bukunya akan dicetak ulang, sementara buku ayah dan saya sendiri masih belum terjual selaris itu.  Kereeen! Nah, kalau ada yang sempat melihat buku berjudul “Menjawab Pertanyaan Anak Anda tentang Seks”, nah itu adalah salah satu buku yang beliau tulis.

 

Kebiasaan menulis itu pula yang membuatnya pernah menerima dana hibah dari pemerintah untuk menulis buku di Amerika selama beberapa bulan. Waktu itu saya sudah besar dan tidak lagi mbok-mboken; nah, ternyata yang kelimpungan adalah ayah saya. Setelah beberapa bulan hidup tanpa Ibu di sisinya, ayah pun menyusul Ibu ke Amrik. Wow yeah! Like father, like son!🙂

 

Sekilas saya ingat Ibu pernah bercita-cita ingin ke Eropa. Impian yang saya anggap mimpi siang bolong itu (ya iyalah, saya tahu  ayah ibu saya “hanya” dosen, bukan pengusaha kaya) ternyata tercapai. Ibu punya adik yang tinggal di Swiss, dan menantunya pun ternyata bekerja di perusahaan minyak di berbagai negara. Maka jadilah akhirnya Bapak Ibu saya bisa bepergian ke Amrik, Itali, Inggris, Perancis, Swiss, Malaysia, Australia. Careful what you wish for, kata orang🙂

 

Setelah usia makin lanjut dan kesehatan didera penyakit Lupus dan diabetes, Ibu masih bersemangat membuat kue dan berbagai masakan lezat. Yang hebat, beliau ternyata juga punya sedikit semangat berwirausaha. Kue, puding, es, dan sebagainya itu dititipkan ke beberapa kafe dan toko roti. Hasilnya ternyata lumayan. Banyak orang yang menyukainya, walaupun ada juga yang kecewa. Nah, soal yang kecewa ini lumayan lucu tapi mengenaskan juga karena Ibu mendengar sendiri ungkapan itu dari seorang pelanggan toko yang mencicipi kue buatannya. “Saya ndak mau lagi makan yang itu; gak enaak,” katanya, pas saat itu Ibu duduk di sebelahnya dan hanya bisa tersenyum kecut mendengar komentar tersebut.

 

Memang Ibu terkenal bisa membuat makanan-makanan lezat. Kalau ada rapat-rapat gereja atau sejenisnya, banyak orang datang untuk alasan yang sederhana: “masakannya bu Nardi enak!”.

 

Ibu berusia 25 tahun ketika melahirkan saya. Besok adalah hari ulang tahun saya yang ke 49. Itu artinya Ibu sudah berusia 74 tahun sekarang. Jadi, kalau besok saya membuka mata dan merayakan hari ulang tahun saya, pada saat yang sama itu juga mengenang bagaimana seorang Sri Esti Wuryani berjuang menyabung nyawa 49 tahun yang lalu untuk melahirkan putra sulungnya yang mengeram terus di kandungan ogah keluar🙂

 

God bless all mothers!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized