Rekomendasi Profesor

Posted on March 10, 2016

6


Setelah menyandang gelar profesor, ada satu hal menarik yang saya alami. Beberapa mahasiswa yang sebelumnya tidak saya kenal secara dekat (karena mereka dari Prodi lain) mendadak berbondong-bondong datang ke saya untuk minta dibuatkan surat rekomendasi. Mereka memerlukan surat tersebut karena mau studi lanjut ke S2, dan salah satu syaratnya adalah mendapatkan rekomendasi dari seorang profesor yang bekerja di universitas tempat mereka belajar. Karena di lembaga sialan ini profesornya hanya dua dan semuanya dari jurusan bahasa, maka jadilah saya termasuk yang dimintai surat rekomendasi itu.

 

Nah, minggu lalu ada permintaan serupa datang dari seorang lulusan prodi lain yang juga menginginkan surat rekomendasi serupa dari saya.  Gaya memintanya lewat email membuat saya tersenyum kuda: “Pak, saya minta  rekomendasinya karena saya mau mendapatkan beasiswa untuk ke S2 di Tiongkok. Nama saya Gagah. Nanti di surat Bapak, tolong tuliskan hal-hal ini ya: Gagah adalah mahasiswa terbaik dan teraktif, Gagah itu pantas mendapatkan beasiswa. Sekian, Pak, terima kasih.”

Bwahahahaa!

 

Untuk orang yang memang tidak mendalami ilmu Pragmatik di kebahasaaan, nada surat seperti itu memang terkesan biasa aja. Lha ya memang minta kok, ya gitu kan caranya? Nah, kalau orang tau ilmu Pragmatik dan sedikit kepekaan budaya, dia akan tahu bagaimana menuliskan permintaan dengan lebih elegan.🙂. Kalau email serupa itu ditujukan kepada orang sebaya saya atau bahkan lebih tua, niscaya akan langsung dihapus dan tidak akan digubris karena dianggap kurang sopan. Ya, biasalah, anak muda jaman sekarang memang bisa dilihat sebagai “kurang sopan” dalam caranya berinteraksi dengan orang yang lebih tua.

Tapi saya tidak menganggap itu sebagai suatu penghinaan. Ya sudahlah, saya turuti permintaannya dan saya buatkan sebuah surat rekomendasi untuknya. Tidak ada ruginya melakukan hal yang baik buat seorang muda.

 

Berselang beberapa hari kemudian, ada lagi email datang dengan permohonan yang sama. Kali ini dari lulusan prodi saya. Seorang mahasiswi. Emailnya dalam bahasa Inggris yang sangat baik dan benar, dan sangaaaat halus dan sopaan. “Pak, saya selalu ingat pengajaran Bapak ketika saya kuliah dulu. Saya merindukan kelas-kelas yang Bapak ajar. Sungguh merupakan kehormatan buat saya bisa mengenal dosen seperti Bapak. Maaf saya mengganggu, namun saya memerlukan bantuan Bapak untuk menulis surat rekomendasi saya untuk bisa studi lanjut S2 ke Tiongkok.”

 

Sekali lagi saya tersenyum kuda. Luar biasa! Ya beginilah kalau lulusan terbaik dan tahu benar bagaimana meluluhkan hati seorang dosen bergelar profesor untuk menuliskan selembar surat rekomendasi🙂

 

Tanpa pikir panjang saya turuti permintaaanya dan saya tuliskan sebuah surat rekomendasi.

 

Selanjutnya, saya agak tercenung ketika melihat jawaban dari profesor lain yang ditembuskan ke saya. Profesor itu mengatakan bahwa dia tidak bersedia menulis surat rekomendasi untuk teman dekat si mahasiswi itu karena merasa beliau tidak pernah mengenalnya secara dekat. Yah, faktanya memang demikian. Saya bisa memahami pendirian rekan tersebut karena menulis surat rekomendasi untuk seseorang kan tidak bisa sembarangan. Kalau nanti ternyata mahasiswa yang direkomendasikan itu bermasalah, kan setidaknya beliau menanggung beban moral.

 

Saya tercenung lebih lama karena ternyata selama ini saya selalu menuruti permintaan surat rekomendasi bahkan dari mahasiswa-mahasiswi yang tidak saya kenal secara dekat. Prinsip saya: ada orang datang minta bantuan; saya punya daya untuk membantunya; jadi kenapa saya harus menolak? Toh ternyata mahasiswa-mahasiswi itu adalah orang-orang yang terkenal tidak bermasalah di kampus dan aktif sekali dalam berbagai kegiatan. Saya yakin mereka tetap akan baik dan aktif ketika studi S2 di tempat lain. Oh, ya, ternyata ndak cuma mahasiswa lho; saya pernah menuliskan surat rekomendasi untuk setidaknya 2 orang rekan dosen yang juga ingin studi lanjut.

 

Cuma jeleknya (atau mungkin bagusnya), ada ego saya berbisik: “ya gitu deh, orang-orang itu kalau sehari-hari ndak pernah menyapa ketemu saya; begitu butuh surat rekomendasi terus datang memohon-mohon supaya dibuatkan. Yah, cuma buat tambal butuh aja, habis gitu nanti saya dicuekin lagi.”

 

Saya tersenyum lagi dalam hati. Kali ini bukan senyum kuda tapi senyum malaikat. Ya sudahlah, mau dianggap tambal butuh ya endak mengapa; yang jelas saya sudah berusaha melakukan hal baik untuk sesama.

 

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized