Pesta Rakyat Ngalam 2016

Posted on March 6, 2016

0


Perang. Perang. Perang!!!!

Perang = Pesta Rakyat Ngalam.

Hak cipta sepenuhnya dimiliki oleh Universitas Ma Chung.

Perang, atau PRN, adalah ciri khas Universitas Ma Chung. Misinya sederhana: merajut kerja sama antara kampus, khususnya mahasiswa baru, dengan komunitas-komunitas lokal Malang. Melalui kerja sama, para mahasiswa baru bergaul bersama komunitas-komunitas tersebut, berlatih bersama mereka mulai Desember 2015 – Maret 2016, dan berpuncak bersama melalui pegelaran Perang pada bulan Maret tanggal 5 di Taman Krida Budaya, Malang. Dengan demikian, mahasiswa tidak menjadi asing dengan budaya lokalnya sendiri. Mahasiswa tidak menjadi kaum eksklusif yang hanya pintar belajar, bersolek, tapi tidak tahu apa-apa atau bahkan cuek terhadap potensi ekonomi maupun budaya lokalnya.

 

Sebagai Ketua MaChung Festival tahun ini, saya datang ke Taman Krida Budaya jam 9 pagi. Masih agak sepi. Ketua Panitia Pelaksana menyambut saya dan mengantarkan saya mengitari lokasi. Di sekeliling pendapa dijejer sekitar 60 an stan yang disewa oleh penjual berbagai makanan dan kerajinan lokal Malang. Ini gambarnya:

 

DSCN2002

 

Karena acara masih dimulai jam 12, jam 11 an saya mencoba beberapa produk kuliner disitu. Yang pertama namanya Tamago, masakan Jepang. Sekilas kayak hamburger tapi lebih ceper, dengan topping telor ceplok dan isinya daging, tomat, irisan kubis dan sejenis kacang yang ditaburkan di atasnya. Lho kok bukan panganan khas Malang? Ya gak papa lah, kan sekarang sudah jaman lintas budaya. Jadi kuliner Jepang pun sah-sah saja masuk ke ajang Perang.

 

Bapak pemilik kedai ini mengajak saya ngobrol. Dia setengahnya menyayangkan mengapa coaching clinic (sejenis pelatihan singkat tentang berbagai hal praktis untuk usahawan kecil dan menengah) yang tahun lalu diselenggarakan di Perang kok malah ditiadakan di acara Perang kali ini. “Padahal saya dan teman-teman merasakan manfaatnya, Pak.” Ok, nanti saya sampaikan ke kampus waktu evaluasi ya Pak.

 

Lalu baru sadar bahwa kedai itu memasang sebuah Sertifikat Penghargaan sebagai stan terpopuler di ajang Festival Kampung Pecinan tahun lalu. Sertifikat itu ditandatangani oleh seorang dekan yang bernama Prof. Dr. Pa********* I *** D *** no. Lhoo, lha iki lak aku dewe? Hahahahaha! Saya dan seorang rekan yang saat itu bersama saya disitu langsung tergelak-gelak melihatnya. Ini gambar Tamagonya sedang dibikin. Nah, tuh sertifikat di sebelah kiri tuh yang ternyata memuat tanda tangan saya🙂

DSCN2006

 

Acara pertama adalah lomba mewarnai. Beberapa belas anak SD seru mewarnai lembar-lembar yang disediakan panitia.

 

Acara berikutnya, film indie, menyajikan beberapa film buatan anggota Siar Sinema, sebuah komunitas pembuat film-film pendek. Filmnya singkat saja, sekitar 10 – 15 menit.  Penyuntingan gambar dan aktingnya cukup lumayan lah.

 

Menjelang sore, ada acara Dolanan. Dolanan dalam bhs Jawa adalah “bermain-main”. Beberapa anak berlomba naik egrang, lompat tali (talinya khas, dibuat dari karet yang dijalin menjadi panjang), dan naik bakiak. Nah, beginilah suasananya:

DSCN2013

Lompat tali, bentengan, egrang, jumpritan singit, gobak sodor, adalah beberapa jenis permainan luar ruang yang akrab sekali dengan generasi saya. Waktu itu tahun 1970 an – 1980 an, setiap kali main di luar rumah, ya jenis-jenis dolanan itu lah yang saya mainkan bersama teman-teman. Oh, what a happiest life!

 

Generasi sekarang mungkin sudah tidak kenal lagi dengan jenis-jenis dolanan kayak gitu. Gobak sodor, bentengan, dsb itu sudah diganti DOTA, Candy Crush Saga, Counter strike yag semuanya adalah jenis game online. Apakah generasi gadget ini masih bisa bermain egrang dan sebagainya tadi itu? Saya ketawa melihat seorang mahasiswa anggota panitia mencoba naik egrang dan wajahnya langsung merah padam, mungkin karena takut jatuh. Sekelompok mahasiswa lain mencoba berlomba naik papan berbakiak, dan dikalahkan dengan sukses oleh sekelompok anak SD. Saya ingat si bungsu waktu main layangan dengan saya: kalau layangannya menukik, dia malah tarik itu punya benang, sehingga layanganpun jatuh menghunjam bumi. Yah, memang, jaman sudah berubah.

 

Acara selanjutnya adalah beberapa penampilan khas budaya Tionghoa. Yang di bawah ini adalah tetabuhan khas Tiongkok yang dimainkan oleh mahasiswa-mahasiswa Ma Chung. Ini dilanjutkan oleh wushu, dan barongsai.

 

Yang menarik, setelah peragaan wushu selesai, beberapa mahasiswa anggota klub  wushu mengajari anak-anak kecil untuk bermain wushu. Suka melihatnya, seperti foto di bawah ini:

 

Saya sempat melihat ada beberapa wanita muda berpakaian mewah  datang dengan mamanya. Sorot mata mereka menyatakan keheranan, sedikit rasa “whii, opo se iku?”, tapi juga sedikit rasa takjub. Mereka-mereka ini ya pasti Arema (lahir dan tinggal di Malang), tapi mungkin gaya hidupnya di balik tembok tinggi rumah super mewah dan orientasi lebih ke dunia Barat membuat mereka mengherani dan menakjubi budaya lokal tempat mereka lahir dan hidup.  . . . . . .

 

Saya mampir ke stan Wayang Suket. Ini unik: wayang dibuat dari sejenis rumput. Selain itu, pemiliknya, namanya Mbah Jo, mahir sekali mengukir botol-botol bekas. Ukirannya halus, berseni, dan gilanya juga bisa dibuat di dinding bagian dalam botol.

 

Saya ketemu juga dengan seorang pria tua yang masih tampak sangat energik. Dia memakai blangkon khas Jawa. Dia bilang dia adalah pengasuh komunitas karawitan yang bernama Arema Ker. Komunitas ini letaknya di jl. Celaket, dan sudah sekian tahun bertekun dalam pelatihan gamelan dan kesenian Jawa. Malam itu komunitasnya tampil. Hebaat, mahasiswa-mahasiswa Ma Chung yang sudah dilatihnya tampil menawan menyajikan gelimangan nada-nada pentatonis khas gamelan Jawa. Salut!

DSCN2000

Jam 10 malam Perang pun berakhir. Mulai terasa capeknya berada di tempat itu sejak pagi sampai hampir larut malam. Tapi saya senang. Saya suka melihat mahasiswa-mahasiswa Ma Chung bekerja sama dengan sangat kompak, cekatan, dan sigap untuk menggelar acara ini sampai tuntas.

 

Lanjutkan!

 

 

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized