Membangun Universitas Kewirausahaan

Posted on February 26, 2016

0


Suatu hari, datanglah kepada saya seorang pejabat sebuah bakal kampus untuk meminta ijin mendirikan kampus kewirausahaan. Dia bercita-cita untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang akan melahirkan wirausahawan – wirausahawan muda yang akan menuai sukses demi sukses setelah lulus.

 

Dia ajukan seberkas kurikulum. Isinya muatan-muatan mata kuliah yang akan diajarkan di kampus tersebut.

Saya membacanya sekilas. Tertulis disitu mata kuliah yang pertama: “Pendidikan Agama”. Dengan tenang saya coret mata kuliah itu.

“Lho??” dia tercengang. “Kok dicoret, Pak?”

“Halah,” saya langsung menukas. “Agama itu kan hal  relasi sangat pribadi antara manusia dengan Tuhan, Pak. Lha lapa kampus Anda mau ngurusi masalah seprivat ini?”

“Lho, tapi mahasiswa saya kan dari berbagai agama, Pak.”

“Lha ya itu, tambah ribet nanti ngurusi mahasiswa dari berbagai agama. Nanti pasti buntut-buntutnya hanya debat kusir soal surga dan neraka, kafir, haram, halal yang nggak ada habisnya. Sudah, gak usah diajari agama! Serahkan aja soal itu ke orang tua dan lembaga-lembaga agamanya sendiri. ”

 

Saya baca lagi berkasnya. Mata kuliah kedua adalah Kewarganegaraan. Dengan tenang saya coret lagi mata kuliah itu.

“Lho, Pak??” dia protes lagi. “Kok dicoret tho?”

“Halah, Paak” saya menukas. “Mahasiswa Anda itu sudah ndak perlu yang gini-gini. Coba lihat, mereka itu sudah warga global. Mulai dari celana dalam sampai mobil dan gadgetnya adalah bikinan luar negeri. Bahasanya juga sudah bukan bahasa Indonesia; mbok cobak itu liaten dewek bagaimana mereka berkomunikasi dalam bahasa Inggris yang campur aduk salah kabeh tapi toh membuat mereka bangga. Jadi untuk apa mata kuliah kayak gini? Tiwas mesakno dosennya, Pak, susah payah ngajar tapi mahasiswanya sudah bertingkah laku dan berpola pikir budaya asing.”

 

Saya baca lagi berkasnya. Dengan tenang saya coret mata kuliah Bahasa Indonesia.

“Yaoloooh, Pak,” dia protes lagi. “Itu kan bahasa nasional kita? Lha kok malah dicoret tho?”

“Lha iyaa, tadi kan sudah saya bilang tho bahwa mereka lebih bangga berbahasa Inggris daripada berbahasa nasional? Tak ceritani, Pak, saya ini dosen bahasa. Saya gencar sekali melakukan kampanye dan kuliah untuk menguatkan kemampuan dan kebanggaan berbahasa Indonesia di kalangan mahasiswa-mahasiswa saya. Tahu apa hasilnya? Nol putul, Pak! Lha itu lho, setelah saya ajar dua tahun penuh, skripsi mereka masih ditulis dalam bahasa Indonesia yang gak karu-karuan.”

 

Dia terdiam, setengahnya mau protes tapi akhirnya menerima.

 

Lalu saya mulai menambahkan beberapa mata kuliah yang saya anggap penting. Beberapa menit kemudian, selesai. Saya sodorkan kurikulum itu ke pejabat itu.

 

Dia terbelalak membacanya:

“Pak, opo iki? Mata kuliah kesehatan jasmani? Push up 50 kali, wall sit 2 menit, plank 30 kali, renang 100 meter -”

 

“Pak, ” saya menyahut.  “Kampus Anda itu mau mencetak wirausahawan kan? Bukan peneliti atau penunggu museum, kan? Ya wirausahawan itu harus kuat secara fisik. Harus bugar! Kalau endak, mana dia bisa kuat ngangkati gulungan rol kabel 6 kiloan, ngangkati tabung elpiji, jalan atau duduk di mobil berkilo-kilometer cari nasabah dan pelanggan?”

 

“Lho, lho, sek, Pak,” dia menukas.  “Saya ini mau meluluskan wirausahawan, bukan manolan!”

 

“Lha, Anda salah mind set, Pak!” saya menjawab. “Jangan harap wirausahawan lulusan kampus Anda itu bisa langsung duduk magrong-magrong di kursi empuk sebagai manajer atau penyelia. Begitu lulus dan dapat kerja, mereka pasti masih diceburkan ke kerja kasar dulu, dan harus mau, karena dari situ mereka ditempa dan dibukakan matanya terhadap kondisi karyawan-karyawannya.”

 

Dia manggut-manggut. Lalu dia teruskan membacanya:

 

“Waduh, lha kok bahasa Mandarin juga dimasukkan tho, Pak?” dia tanya lagi. “Ini sulitt, Pak. Mending bahasa Inggris saja.”

 

“Waduh, Bapak ini yak apa?” tukas saya. “Bahasa Mandarin itu makin lama makin penting. Tuh, Bapak ke Bali deh, bapak tanya hotel-hotel disana karyawan dengan ketrampilan apa yang mereka butuhkan di hari gini. Pasti njawab yang pinter bahasa Mandarin , Paak! Lha itu kenaikan  jumlah kunjungan turis dari daratan Tiongkok kan naik sampai berlipat-lipat, Pak. Penting bisa bahasa Mandarin itu.”

 

Dia baca lagi kurikulumnya. Masih ada sederatan mata kuliah baru yang saya usulkan. Ada kemampuan berpikir gak lumrah (alias kreatif), kemampuan interpersonal, kemampuan komunikasi verbal maupun non-verbal, kemampuan berbicara persuasif, kemampuan teknologi informasi, kemampuan presentasi, sampai pada pengasahan mental baja dan kemampuan menahan rasa malu.

 

“Kok ga ada akuntansi dasar ya, Pak?” dia bertanya setelah melihat sederatan nama mata kuliah itu.

 

“Lhah, buat apa akuntansi? ” saya balik bertanya. “Nanti aja itu, Pak, kalau lulusan-lulusan Bapak itu sudah sukses jadi pengusaha dan punya uang, baru mereka bisa rekrut SE SE itu untuk mengurus pembukuan dan akuntansinya.”

 

“Hahaha,” tiba-tiba dia ketawa. “Ya betul juga sih, Pak!”

 

Lalu dia pun pergi setelah mengucapkan terima kasih dan saya beri harapan semoga sukses meluluskan wirausahawan sejati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized