Melahirkan Lulusan yang Disukai Para Bos

Posted on February 4, 2016

0


Melahirkan lulusan yang disukai para bos. Gimana caranya?

Ya dengan asumsi bahwa para bos adalah pria normal, maka kita harus melahirkan lulusan yang semenarik mungkin secara fisik.

 

Bwahahaha!

Tentu saja itu jawaban gemblung (walaupun beberapa mungkin mengiyakannya). Maksud saya adalah bagaimana sebuah lembaga pendidikan melahirkan lulusan yang menjadi manusia-manusia efektif dan sigap dan menyenangkan di lembaga tempatnya bekerja setelah dia lulus.

 

Maka untuk itu hari ini saya khusus pergi ke Niki Kopitiam untuk mewawancara seorang pemimpin lembaga di Malang yang membawahi sekian puluh karyawan, yang beberapa di antaranya adalah lulusan kampus saya.

 

Saya: “Kualitas karyawan seperti apa yang Bapak harapkan di lembaga Bapak?”

Bos: “Yang proaktif! Proaktif itu artinya tahu dan bisa mengerjakan apa yang melebihi tanggung jawab dan tugasnya tanpa harus disuruh-suruh.”

Hmm, mungkin maksud beliau dengan proaktif adalah  mereka yang tidak hanya bersifat pasif menunggu komando, tapi bisa dengan sigap mengerjakan tugasnya dengan baik dan setelah itu bisa menangani juga tugas-tugas lain atau membantu kelancaran tugas-tugas lain.

Jadi ingat kejadian pada hari sebelumnya: di sebuah kelas yang mau kami gunakan untuk workshop, LCD dan komputernya ngadat, ndak mau nyala. Beberapa teknisi magang didatangkan. Eh, mereka malah bingung sendiri, kabel dibulet-bulet sampe akhirnya ndak ketahuan wis mana yang ke LCD mana yang ke laptop, wis, rusaak! Eh, dengan tenangnya seorang rekan dosen pergi keluar dan sebentar kemudian masuk lagi menenteng sebuah LCD portabel. Maka tinggal tancep sana dan sini, menyalalah LCD itu dan acara workshop pun berjalan lancar. Nah, itu lah sikap proaktif yang ditunjukkan oleh seorang rekan dosen.

 

Ayo lanjut lagi wawancaranya:

Saya: “Pak, selain kemampuan akademis, apa yang Bapak harapkan dari seorang lulusan kampus?”

Bos: “Etika, tata krama. Maka saya tekankan pelajaran budi pekerti itu penting. Ada murid saya yang meng sms saya dengan menggunakan bahasa alay “aq” (aku). Ya ndak saya balas smsnya. Itu menandakan dia ndak punya tata krama.”

 

Ya, ini sudah berapa ribu kali ditekankan dimana-mana. Pendikar (pendidikan karakter) itu pentiiiiing sekali. Tapi entah baru berapa gelintir kampus yang bisa melaksanakannya dengan hasil yang lumayan sukses.

Bos: “satu lagi yang penting: penguasaaan teknologi informasi! Saya suka staf yang lincah menggunakan gawai (gadget) nya untuk mendapatkan informasi, mulai dari kurikulum sebuah kampus di Australia, sampai dimana letak kafe murah di dekat kampus situ. Kan bisa tanya Google, atau Google Map. Kalau lulusan kampus ndak melek Internet seperti ini, ya susah, kerja ndak efisien.”

 

Nah, itu, catat tuh. Kemampuan mendayagunakan teknologi informasi adalah hal yang harus dipunyai oleh seorang lulusan kampus, ndak peduli itu dari prodi atau fakultas apa.

Tapi kalau ini rasanya mahasiswa-mahasiswa kampus saya sudah sangat pintar. Jadi kriteria seperti ini rasanya tidak terlalu berat untuk dipenuhi. Mungkin yang penting adalah bagaimana memilah-milah informasi yang diberikan oleh gadget supaya mereka tidak asal menelan apapun yang disodorkan.

 

Saya: “Pak, kan lembaganya Bapak menawarkan program pendidikan multidisipliner di luar negeri. Kemampuan apa yang sangat penting untuk bisa mengikuti program seperti itu?”

Bos: “kemampuan komunikasi, kemelekan penggunaan teknologi informasi, dan kemampuan berbahasa asing.”

Ok, itu juga sudah sering didengung-dengungkan. Komunikasi, komunikasi, komunikasi. Entah sudah berapa banyak kali kemampuan yang satu ini dinyatakan sebagai sangat penting, namun seberapa jauh yang bisa dan mau dengan sepenuh hati melakukannya, ya masih tanda tanya. Semoga ke depannya makin banyak pihak yang rela menginvestasikan upaya dan dana untuk membangun budaya komunikasi yang efektif dan minim friksi.

 

Saya: “Pak, sekarang tentang IPK. Menurut Bapak, penting ndak sih IPK itu? Sebagian besar mahasiswa berjuang keras dengan segala cara supaya IPK nya tinggi, karena mereka berpendapat bahwa IPK tinggi menjamin bisa diterima bekerja dengan mudah.”

Jawaban bos itu senada dengan apa yang selama ini saya pikirkan selama ini.  Dengarkan ya:

Bos: “Jaman dulu, IPK 3 koma 3 itu sudah sangat bagus dan lulusan yang punya IPK segitu dapat dipastikan memang benar-benar bibit unggul. Tapi jaman sekarang, IPK 3.3 atau bahkan lebih tinggi itu sudah burakan (=sudah sangat buanyak sekali), dan kualitas lulusan dengan IPK seperti itu kalah jauh dibandingkan kami-kami dulu di tahun 70 dan 80 an. Jadi saya tidak akan melihat IPK semata-mata, tapi saya tertarik pada kegiatan yang mereka lakukan di luar kegiatan akademis, seperti membantu anak jalanan, melatih komunitas mengelola sampah secara sehat, dan masih banyak lagi.”

Menarik untuk mencermati seberapa baik para lulusan yang aktif dalam kegiatan sosial masyarakat seperti ini dipandang oleh para bosnya di lembaga tempatnya bekerja. Bahwa IPK tinggi identik dengan kualitas kinerja yang tinggi dan sikap positif rasanya sudah makin ditinggalkan oleh masyarakat industri jaman sekarang. Ada yang jauh lebih menjanjikan daripada sekedar IPK tinggi, yaitu ya perhatian dan kegiatan ekstra kurikuler tadi itu. Maka para mahasiswa yang IPK nya pas-pasan tapi sudah punya kontribusi tinggi ke masyarakat sekitar boleh bersuka hati mendengar jawaban dari bos ini.

 

Jadi itulah sekilas ringkasan hasil wawancara saya dengan seorang bos. Intinya: ada jauh lebih banyak hal penting selain kemampuan akademis yang tinggi.

 

Rasanya memang sebagian besar yang beliau sampaikan selaras dengan pendapat saya pribadi. Kalau saya lakukan refleksi, selain rekan-rekan dan staf yang tergolong cemerlang secara akademis, banyak juga para rekan dan staf yang dari segi akademis tidak begitu menonjol, tapi kontribusinya ke kinerja lembaga saya sangat signifikan. Mereka bisa menyumbangkan banyak dari talenta interpersonal dan hal-hal lain yang tidak semata-mata akademik.

 

Wawancara siang itu kami akhiri dengan menyantap daging sapi lada hitam, ayam, dan sup sehat yang segar ditutup dengan es kelapa muda.

 

 

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized