Kenapa Menjadi Teroris

Posted on January 23, 2016

0


Kenapa Menjadi Teroris

Sedikit ulasan di sebuah harian yang saya baca menyibak jawaban untuk pertanyaan: kenapa orang menjadi teroris?

Dalam jaman yang disebut jaman globalisasi ini, manusia–terutama di negara-negara berkembang–sedang digempur habis oleh budaya dari luar. Banyak barang yang dilihat, dipakai, dimakan, dan digunakan adalah produk budaya luar. Sebut saja MacD, Samsung, iPhone, Star Wars, K Pop. Mereka bukan hanya membawa barang dan tontonan baru, tetapi juga kebiasaan dan gaya hidup baru. Lebih jauh lagi, mereka lalu menjadi tanda pembeda antar kelas sosial masyarakat.

Lalu reaksi manusia atas serbuan budaya asing itu pun berbeda. Golongan pertama akan mengikuti apapun yang sedang populer atau membuat gengsi terangkat. Mereka ini ibarat bebek, berkwek kwek kwek ikut saja mengekor apapun yang sedang menjadi tren. Mereka tidak banyak berpikir, tidak banyak menggunakan otaknya kecuali untuk menuruti nafsu hedonis dan narsisnya saja. Mereka tidak berbahaya.

Golongan kedua, yang umumnya bukan dari kalangan berpunya, akan pasrah dan relatif tinggal diam di lingkungan budaya aslinya (yang juga semakin terpinggirkan). Mereka ingin juga ikut arus pop, tapi kebanyakan tidak mampu untuk mendapatkan barang-barang yang akan mengantar mereka kesana. Akhirnya mereka berdiam saja di ranah sederhana, tradisional, pasrah, dan tetap merasa nyaman. Buat mereka, kebahagiaan adalah kalau masih bisa makan cukup dan menikmati hiburan sederhana yang juga murah.

Nah, golongan ketiga adalah mereka yang tidak mampu mengikuti kelompok pertama, tapi juga ogah menyamankan dirinya di kelompok kedua. Golongan ini kehilangan pijakan. Mereka bahkan tidak tahu harus bagaimana mendefinisikan dirinya. Mereka merasa kosong.

Karena kosong, maka datanglah orang-orang jahat mencoba mengisi kekosongan itu dengan ideologi radikal. Pertama-tama, orang-orang ini akan membuat anak-anak muda yang sedang kosong itu merasa bahwa dirinya lemah dan penuh dosa. Lalu mereka akan meyakinkan kelompok ini bahwa dunia luar adalah jahat, penuh dosa, dan oleh karenanya harus dimusuhi. Anak-anak muda ini akan diyakinkan bahwa dengan memusuhi dan bahkan membunuh orang-orang tersebut, mereka akan menjadi martir. Dengan membunuh orang-orang itu, mereka akan menemukan makna hidupnya dan mengisi kehampaan yang selama ini mereka rasakan. Bahkan jika matipun, kematian mereka akan menjadi bermakna karena mereka mati untuk membasmi orang ‘sesat’.

Apakah dengan begitu pemuda pemuda dari kalangan bawah yang kehilangan pegangan dan merasa hampa rentan terkena cuci otak ini sehingga menjadi teroris? Ndak juga, karena beberapa teroris pun ternyata juga dari kalangan menengah dan berpendidikan tinggi.

Jadi memang kehampaan itu bisa menyerang siapa saja, dan jika sudah hampa, tinggal menunggu ideologi jahat untuk mengisinya.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized